- Direktur Komunikasi BI Sani Eka Duta menyatakan Museum Bank Indonesia berkomitmen menjadi pusat edukasi sejarah moneter nasional.
- Gedung bersejarah hampir 198 tahun di Jakarta tersebut menyimpan berbagai koleksi uang kuno dan perlengkapan perbankan.
- Bank Indonesia menargetkan peningkatan jumlah pengunjung tahunan dari 100 ribu menjadi 200 ribu orang melalui pembaruan digital.
Suara.com - Bank Indonesia (BI) menegaskan komitmennya untuk memperkuat peran Museum Bank Indonesia sebagai pusat edukasi sejarah moneter dan sistem pembayaran nasional.
Direktur Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Sani Eka Duta, mengatakan bangunan Museum Bank Indonesia memiliki nilai sejarah yang sangat tinggi.
Gedung tersebut telah berdiri selama hampir 198 tahun dan menjadi saksi perjalanan sistem perbankan sentral di Indonesia, mulai dari era kolonial hingga transformasi digital saat ini.
"Walaupun gedungnya ini sendiri sudah hampir dua abad, ada hampir 198 tahun. Gedung ini menjadi monumen yang menceritakan perjalanan bangsa kita, terutama bagaimana bank sentral mengelola perekonomian dari masa ke masa," ujar Sani Eka Duta di Museum Bank Indonesia dikutip Jumat (24/7/2026).
Menurutnya, sejak diakuisisi oleh Bank Indonesia pada 1953, bangunan tersebut kemudian difungsikan sebagai Museum Bank Indonesia.
Di dalamnya tersimpan berbagai koleksi bersejarah, mulai dari uang kuno berbagai periode, perlengkapan operasional perbankan, hingga ruang rapat dewan gubernur dan ruang direksi yang menggambarkan perjalanan lembaga bank sentral.
![Direktur Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Sani Eka Duta di Museum Bank Indonesia dikutip Jumat (24/7/2026). [Suara.com/Rina]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/07/24/15026-direktur-departemen-komunikasi-bank-indonesia-sani-eka-duta.jpg)
"Koleksi dari Bank Indonesia, baik itu berupa mungkin diorama, kemudian juga ada notis antik uang dari zaman ke zaman," imbuhnya.
Sani menjelaskan, Museum Bank Indonesia bukan sekadar menjadi tempat penyimpanan benda-benda bersejarah, tetapi juga berperan sebagai sarana pembelajaran bagi masyarakat mengenai perkembangan kebijakan moneter dan sistem pembayaran di Indonesia.
"Ini bukan sekadar saksi bisu, tetapi merupakan pembelajaran bagi kita semua tentang bagaimana bank sentral berevolusi, dari yang dahulu serba manual hingga sekarang memasuki era digital," katanya.
Ia mengakui, materi mengenai digitalisasi ekonomi dan sistem pembayaran di museum masih terus dikembangkan.
Ke depan, BI akan menghadirkan lebih banyak informasi mengenai transformasi ekonomi digital, termasuk perkembangan instrumen pembayaran non-tunai seperti QRIS yang kini semakin luas digunakan masyarakat.
"Tim sedang merancang bagaimana pengunjung dapat melihat perkembangan ekonomi Indonesia, termasuk evolusi alat transaksi pembayaran dari uang tunai hingga era digital," ungkapnya.
Sani menambahkan, Museum Bank Indonesia selama ini telah dikunjungi sekitar 100 ribu orang setiap tahun. Dengan berbagai pembaruan dan inovasi, BI menargetkan jumlah tersebut dapat meningkat dua kali lipat.
"Selama ini pengunjung museum mencapai kurang lebih 100 ribu orang per tahun, dan kami targetkan bisa menjadi 200 ribu orang. Artinya, selama sekitar 17 tahun beroperasi, lebih dari satu juta orang telah mengunjungi Museum Bank Indonesia," ujarnya.
Menurut Sani, capaian tersebut menunjukkan peran strategis museum dalam meningkatkan literasi masyarakat, khususnya generasi muda, mengenai sejarah kebijakan moneter, sistem pembayaran, dan perjalanan ekonomi Indonesia.
Ia juga menegaskan bahwa ke depan Museum Bank Indonesia diharapkan berkembang menjadi ruang diskusi bagi kalangan akademisi dan masyarakat luas.

"Kami berharap Museum Bank Indonesia tidak hanya menjadi guardian of the past, tetapi juga menjadi center of education dan center of excellence. Museum ini diharapkan menjadi tempat berkumpul dan berdiskusi para cendekia untuk membahas berbagai pemikiran mengenai masa depan Indonesia," tutup Sani Eka Duta.