- PT Bank Central Asia Tbk meraup laba bersih Rp29,5 triliun pada Semester I 2026.
- Presiden Direktur BCA Hendra Lembong menyampaikan kinerja tersebut didukung penyaluran kredit produktif dan inisiatif perusahaan.
- Penyaluran kredit BCA mencapai Rp1.036 triliun pada paruh pertama 2026 atau tumbuh 8 persen secara tahunan.
Suara.com - PT Bank Central Asia Tbk (BCA) meraup laba bersih senilai Rp 29,5 triliun pada Semester I 2026, naik 1,8 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar Rp29 triliun.
Meski terus naik, pertumbuhan laba BCA menunjukkan perlambatan dalam tiga tahun terakhir. Sebelumnya pada Semester I 2025 lalu laba BCA tumbuh 7,8 dan persen dan melonjak 11,1 persen di Semester I 2024.
Meski demikian Presiden Direktur BCA Hendra Lembong mengatakan capaian laba di paruh pertama 2026 sejalan dengan operating income yang naik sebesar 2,2 persen secara tahunan menjadi Rp55,8 triliun.
"Kami berterima kasih atas kepercayaan seluruh nasabah sehingga BCA dapat terus tumbuh dan memberikan layanan terbaik. Kinerja pada paruh pertama 2026 ditopang berbagai inisiatif, termasuk BCA Expoversary 2026 dan penyaluran kredit produktif ke berbagai sektor," ujar Hendra dalam paparan kinerja semester I 2026, Selasa (28/7/2026).
![Pertumbuhan laba bersih BCA di Semester I 2024, 2025 dan 2026 menunjukkan adanya perlambatan. [Suara.com/Liberty Jemadu/Gemini]](https://media.suara.com/pictures/original/2026/07/28/71181-laba-bca.jpg)
Meski demikian pendapatan bunga bersih atau net interest income (NII) turun 0,6 persen secara tahunan menjadi Rp42,4 triliun pada Semester I 2026.
Selain itu perusahaan juga mulai menyesuaikan suku bunga kredit setelah Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 100 basis poin sejak Mei 2026. Namun, penyesuaian dilakukan secara bertahap dan hanya kepada debitur tertentu sesuai profil risiko serta kondisi usahanya.
Adapun, kenaikan BI Rate tidak serta-merta diteruskan ke seluruh bunga kredit. Menurut dia, penyesuaian baru dilakukan ketika fasilitas kredit jatuh tempo dan diputuskan secara selektif.
“Kami tidak menaikkan di semua nasabah. Kita hanya menaikkan nasabah yang selektif yang kita lihat dari sisi bisnis masih bisa tentu kita naikkan. Untuk nasabah yang rate-nya sudah tinggi, kita tidak naikkan,” bebernya.
Senada Direktur Keuangan BCA Vera Eve Lim mengatakan hingga semester I 2026 transmisi kenaikan suku bunga acuan ke bunga kredit masih relatif terbatas.
Meski BI telah menaikkan BI Rate sebesar 100 basis poin, kenaikan bunga kredit BCA baru sekitar empat basis poin. Kebijakan tersebut ditempuh untuk menjaga pertumbuhan pembiayaan di tengah kondisi ekonomi yang masih menantang.
BCA juga tetap mempertahankan target pertumbuhan kredit pada kisaran 8-10 persen hingga akhir 2026. Perseroan menilai permintaan pembiayaan masih didukung sejumlah sektor, seperti infrastruktur, teknologi, perkebunan, pertanian, logistik, dan jasa keuangan. Sektor-sektor tersebut juga diperkirakan menjadi penopang penyaluran kredit pada semester II tahun ini.
Adapun pada semester I 2026, BCA mencatat penyaluran kredit sebesar Rp1.036 triliun atau tumbuh 8 persen secara tahunan. Capaian tersebut menjadi kali pertama kredit perseroan menembus level Rp1.000 triliun.