Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp2.630.000
Beli Rp2.525.000
IHSG 5.916,070
LQ45 584,483
Srikehati 289,903
JII 349,817
USD/IDR 17.994

Jangan Terburu-buru Beli BBCA, Analis Wanti-wanti Taking Profit

Achmad Fauzi

Selasa, 07 Juli 2026 | 11:42 WIB
Jangan Terburu-buru Beli BBCA, Analis Wanti-wanti Taking Profit
Ilustrasi Trading Saham. [Dok IPOT].
baca 10 detik
  • Saham PT Bank Central Asia Tbk mengalami kenaikan harga menjadi Rp6.175 per lembar pada Selasa, 7 Juli 2026.
  • Analis Philip Sekuritas memperingatkan potensi aksi ambil untung karena harga belum menembus level resistance di Rp6.550.
  • Investor disarankan menunggu konfirmasi penguatan melalui level breakout agar tren kenaikan harga saham dapat berlanjut secara berkelanjutan.

Suara.com - Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dinilai masih dibayangi potensi aksi ambil untung (taking profit) setelah mengalami kenaikan dalam beberapa hari terakhir.

Pelaku pasar pun disarankan menunggu sinyal penguatan yang lebih meyakinkan sebelum kembali masuk ke saham perbankan berkapitalisasi jumbo tersebut.

Analis Philip Sekuritas menilai, pergerakan saham BBCA saat ini belum cukup kuat untuk mengonfirmasi tren kenaikan yang berkelanjutan. Pasalnya, kenaikan harga belum diikuti dengan keberhasilan menembus level resistance Rp6.550.

Adapun, pada pukul 11.32 WIB hari ini, saham BBCA naik 50 poin atau 0,82 persen di level Rp6.175 per saham.

Ilustrasi BCA (Ist)
Ilustrasi BCA (Ist)

"Saham BCA hari ini cenderung adanya aksi taking profit, makanya belakangan memang kita masih belum begitu bullish untuk saham perbankan karena penaikan yang terjadi ini yang tetang di 5090, ini belum diikuti dengan adanya resisten yang ditembus di Rp6.550," ujar analis Philip Sekuritas dalam Philip Morning Call yang dikutip, Selasa (7/7/2026).

Analis juga berpandangan saham BBCA baru akan berubah menjadi lebih positif apabila harga mampu menembus level Rp6.550. Jika level tersebut berhasil dilewati, saham BBCA berpotensi melanjutkan penguatan menuju area gap di atasnya.

"Kita akan berubah pandangan jadi menarik kembali jika dia bisa melewati level Rp6.550. Untuk higher high ada potensi dia melanjutkan kenaikan ke level yang gap ini," katanya.

Sebelum terjadi breakout, investor disarankan tetap berhati-hati karena masih terdapat risiko saham BBCA kembali bergerak melemah.

Sebagai informasi saja, breakout adalah kondisi ketika harga saham berhasil menembus level penting, seperti resistance (batas atas) atau support (batas bawah) yang biasanya disertai peningkatan volume transaksi.

baca juga

"Kita tunggu dia bisa lewati Rp6.550 baru menarik jujur untuk BCA. Sekarang saya masih potensi dulu khawatir dia akan mengulang potensi daripada pergerakannya yang cenderung turun. Kemudian kita juga mau lanjut, kalau BCA kita nunggu ada momen dia breakout," kata Analis Philip Sekuritas.

Disclaimer: Artikel ini merupakan pandangan dan analisis pasar yang ditujukan sebagai informasi umum, bukan saran atau rekomendasi investasi. Keputusan investasi tetap berada di tangan pembaca, dan setiap risiko investasi menjadi tanggung jawab pribadi.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

BBCA Diborong, BMRI Dilepas Asing Saat IHSG Ditutup Menguat

BBCA Diborong, BMRI Dilepas Asing Saat IHSG Ditutup Menguat

Bisnis | Senin, 06 Juli 2026 | 17:48 WIB

Investor Asing Serok BBCA, Tapi Jual Besar-Besaran BUMI di Sesi I

Investor Asing Serok BBCA, Tapi Jual Besar-Besaran BUMI di Sesi I

Bisnis | Senin, 06 Juli 2026 | 13:15 WIB

Saham Perbankan Masih Menarik, BBCA dan BMRI Layak Dikoleksi

Saham Perbankan Masih Menarik, BBCA dan BMRI Layak Dikoleksi

Bisnis | Kamis, 02 Juli 2026 | 15:32 WIB

Terkini

Produksi Listrik PLN Nusantara Power Capai 66.919 GWh pada 2025

Produksi Listrik PLN Nusantara Power Capai 66.919 GWh pada 2025

Bisnis | Selasa, 07 Juli 2026 | 11:41 WIB

Resmi IPO, Saham JECX Langsung Terbang 24,8%

Resmi IPO, Saham JECX Langsung Terbang 24,8%

Bisnis | Selasa, 07 Juli 2026 | 11:08 WIB

Rupiah Menguat Tipis, Dolar AS Masih di Level Rp17.990

Rupiah Menguat Tipis, Dolar AS Masih di Level Rp17.990

Bisnis | Selasa, 07 Juli 2026 | 10:33 WIB

Bisa Borong, Harga Emas Antam Turun Jadi Rp2.655.000/Gram

Bisa Borong, Harga Emas Antam Turun Jadi Rp2.655.000/Gram

Bisnis | Selasa, 07 Juli 2026 | 09:20 WIB

Bergerak Dua Arah, IHSG Masih Bertengger di Level 5.900

Bergerak Dua Arah, IHSG Masih Bertengger di Level 5.900

Bisnis | Selasa, 07 Juli 2026 | 09:15 WIB

Harga Minyak Naik Tipis di Tengah Bayang-Bayang Melimpahnya Pasokan

Harga Minyak Naik Tipis di Tengah Bayang-Bayang Melimpahnya Pasokan

Bisnis | Selasa, 07 Juli 2026 | 09:13 WIB

SMGR Catat Penjualan Semen Tumbuh 4,4% hingga Mei 2026

SMGR Catat Penjualan Semen Tumbuh 4,4% hingga Mei 2026

Bisnis | Selasa, 07 Juli 2026 | 08:44 WIB

Home Credit Genjot Pembiayaan Usai Penyaluran Kredit Tumbuh 14% pada Kuartal I 2026

Home Credit Genjot Pembiayaan Usai Penyaluran Kredit Tumbuh 14% pada Kuartal I 2026

Bisnis | Selasa, 07 Juli 2026 | 08:37 WIB

BEI Gunakan Fitur Repo SBSN di SPPA, Dorong Likuiditas Pendalaman Pasar Keuangan

BEI Gunakan Fitur Repo SBSN di SPPA, Dorong Likuiditas Pendalaman Pasar Keuangan

Bisnis | Selasa, 07 Juli 2026 | 07:40 WIB

Bank Mandiri Salurkan KUR Rp17,77 Triliun hingga Mei 2026, Sektor Pertanian Jadi Penerima Terbesar

Bank Mandiri Salurkan KUR Rp17,77 Triliun hingga Mei 2026, Sektor Pertanian Jadi Penerima Terbesar

Bisnis | Selasa, 07 Juli 2026 | 07:15 WIB

×