- Vero Indonesia dan Kadence International merilis survei pada Sabtu (1/8/2026) di Asia Tenggara.
- Layanan perbankan serta pembayaran digital meraih skor kepercayaan tertinggi mencapai angka 81,7.
- Sebanyak 42 persen responden Indonesia akan meninggalkan bank digital jika terjadi kebocoran data.
Suara.com - Di tengah pesatnya transformasi digital, kepercayaan konsumen kini menjadi aset paling berharga bagi industri perbankan dan layanan pembayaran digital.
Ketika transaksi keuangan semakin bergantung pada teknologi, satu insiden kebocoran data atau gangguan layanan dapat menggerus loyalitas nasabah dan menghambat pertumbuhan ekonomi digital yang selama ini berkembang pesat di Indonesia maupun Asia Tenggara.
Temuan tersebut terungkap dalam Survei Southeast Asia Consumer Tech Trust Score yang dilakukan Vero Indonesia bersama Kadence International.
Hasil survei menunjukkan layanan perbankan digital dan pembayaran digital menjadi kategori teknologi dengan tingkat kepercayaan tertinggi di Asia Tenggara, dengan skor rata-rata 81,7.
Tingginya kepercayaan tersebut dinilai menjadi modal penting untuk menjaga keberlanjutan ekonomi digital.
Namun, perusahaan tetap dituntut memperkuat keamanan siber, transparansi, dan perlindungan data pribadi agar kepercayaan masyarakat tidak luntur.
Strategist Vero Indonesia, Fuad Arrasyid, mengatakan tingginya kepercayaan masyarakat terhadap layanan keuangan digital harus diimbangi dengan penguatan ekosistem digital, perluasan inklusi keuangan, serta pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) yang tetap mengutamakan keamanan dan akuntabilitas.
"Khususnya untuk Indonesia, terlihat jelas bahwa transparansi, rekam jejak yang teruji, dan penanganan insiden yang akuntabel sangat menentukan tingkat kepercayaan konsumen," kata Fuad dilansir dari laman Antara, Sabtu (1/8/2026).
Menurutnya, komunikasi menjadi penting karena dapat menjembatani inovasi dan kepercayaan publik, sehingga harapan pada teknologi dapat menjadi kenyataan secara berkelanjutan.
Survei tersebut melibatkan 3.000 responden di enam negara Asia Tenggara, yakni Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand, Filipina, dan Vietnam.
Penelitian mengukur tingkat kepercayaan masyarakat terhadap 10 kategori teknologi, mulai dari perbankan daring, pembayaran digital, keamanan siber, kecerdasan buatan generatif (Generative AI), e-commerce, media sosial, hingga telekomunikasi.
Kebocoran Data Berpotensi Tinggalkan Nasabah
Meski tingkat kepercayaan terhadap layanan keuangan digital tergolong tinggi, survei juga mengungkap tingginya sensitivitas masyarakat terhadap insiden keamanan siber.
Sebanyak 42 persen responden Indonesia menyatakan akan berhenti menggunakan layanan perbankan digital apabila terjadi kebocoran data atau insiden serius.
Sementara itu, 25 persen responden mengaku akan meninggalkan layanan pembayaran digital jika menghadapi kasus serupa.
Di Malaysia, angkanya juga relatif tinggi, dengan 40 persen responden siap meninggalkan layanan perbankan digital dan 20 persen menghentikan penggunaan layanan pembayaran digital setelah terjadi insiden keamanan.

Survei juga menemukan bahwa 49,5 persen responden Indonesia menempatkan penyalahgunaan data pribadi sebagai kekhawatiran terbesar ketika menggunakan layanan digital.
Di sisi lain, 79 persen responden memasukkan berbagai bentuk penipuan daring sebagai salah satu ancaman utama dalam aktivitas digital mereka.
Meski demikian, mayoritas konsumen masih memberikan kesempatan kepada penyedia layanan untuk memperbaiki keadaan.
Sebanyak 54 persen responden menyatakan hanya akan menghentikan penggunaan layanan untuk sementara hingga masalah berhasil diselesaikan, sedangkan 43 persen lebih memilih melihat rekam jejak perusahaan dalam menangani insiden sebagai indikator utama kepercayaan.
Executive Account Director Vero Indonesia, Diah Andrini Dewi, menilai kebocoran data kini tidak lagi sekadar menjadi persoalan teknologi, tetapi telah berkembang menjadi ujian terhadap reputasi perusahaan di mata publik.
"Temuan ini menunjukkan bahwa konsumen semakin menilai perusahaan dari cara mereka merespons krisis, bukan semata dari kualitas produk atau layanan yang ditawarkan. Membangun kembali kepercayaan tidak cukup melalui pernyataan resmi, tetapi harus disertai transparansi, langkah perbaikan yang nyata, serta melibatkan pihak independen yang kredibel," ujarnya.
Kepercayaan Jadi Aset Baru Ekonomi Digital
Director Kadence International, Ashutosh Awasthi, menegaskan keberhasilan perusahaan teknologi kini tidak lagi hanya diukur dari jumlah pengguna, tetapi juga dari tingkat kepercayaan yang berhasil dipertahankan.
"Untuk memastikan pertumbuhan yang berkelanjutan, mereka perlu membuat konsumen merasa cukup yakin untuk terus mengandalkan produk tersebut, bahkan ketika ekspektasi, risiko, atau alternatif lain berubah," kata Ashutosh.
Hasil survei ini memperlihatkan bahwa di tengah semakin masifnya digitalisasi di Asia Tenggara, kepercayaan konsumen menjadi fondasi utama pertumbuhan ekonomi digital.
![Ilustrasi perlindungan data. [Unsplash]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/08/01/48286-ilustrasi-perlindungan-data.jpg)
Bagi industri perbankan dan teknologi finansial, penguatan keamanan siber, perlindungan data pribadi, serta transparansi dalam menangani insiden akan menjadi faktor penentu loyalitas nasabah.
Sementara itu, bagi pemerintah, regulasi yang jelas, pengawasan yang efektif, dan perlindungan konsumen yang kuat akan menjadi kunci untuk menjaga stabilitas ekosistem ekonomi digital sekaligus mendorong pertumbuhan sektor keuangan digital secara berkelanjutan.