- Ekonom UOB Enrico Tanuwidjaja menyatakan investor menilai pergantian Menteri Keuangan Suahasil Nazara pada 15 September 2026.
- Suahasil Nazara perlu merelokasi anggaran untuk memperkuat sektor kesehatan, UMKM, pendidikan, dan dana desa.
- Defisit fiskal per Juni 2026 tercatat 0,76 persen sehingga membuka ruang realokasi belanja tanpa melebihi batas 3 persen.
Suara.com - Pergantian Menteri Keuangan (Menkeu) baru ternyata dinilai semua investor yang ingin berinvestasi di Indonesia. Adapun, Suahasil Nazara yang menjadi Menteri Keuangan baru harus menciptakan kepastian investor
ASEAN Economist UOB, Enrico Tanuwidjaja menilai, setiap perubahan internal yang terjadi bakal dinilai oleh investor. Tentunya, pendalaman pasar perlu diperkuat dalam meyakinkan para investor asing.
"Tapi intinya, perubahan itu akan dinilai semua oleh investor. Pendalaman pasar finansial harus menciptakan kepercayaan terhadap kurs yang stabil," katanya saat diskusi bertajuk "Reclaiming Global Trust: Indonesia's Investment Agenda for a Volatile World di Plaza UOB, Selasa (15/9/2026).
Dia menilai, Suahasil Nazara memiliki ruang untuk melakukan realokasi dan rekalibrasi anggaran. Terutama, untuk memperkuat sektor kesehatan, usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta pendidikan.
Menurutnya, kondisi fiskal Indonesia saat ini masih relatif terjaga. Namun, terdapat sejumlah pos anggaran yang perlu dikaji kembali agar kebijakan fiskal dapat memberikan dampak yang lebih optimal terhadap perekonomian.
"Anggaran kesehatan, UMKM, dana desa ini kekecilan. Jadi, perlu realokasi, recalibrationitu harus dikerjakan di sektoral spending," jelasnya.
![ASEAN Economist UOB, Enrico Tanuwidjaja (kanan) saat diskusi bertajuk "Reclaiming Global Trust: Indonesia's Investment Agenda for a Volatile World di Plaza UOB, Selasa (15/9/2026). [Suara.com/Rina]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/09/16/96514-asean-economist-uob-enrico-tanuwidjaja-kanan.jpg)
Menurutnya, defisit fiskal masih di bawah 1 persen sehingga masih terdapat ruang belanja hingga akhir tahun, asalkan tetap menjaga batas defisit tidak melebihi 3 persen dari PDB.Per Juni 2026, menurut data Kementerian Keuangan, APBN membukukan defisit sebesar Rp196,5 triliun, atau setara dengan 0,76 persen dari produk domestik bruto (PDB).
"Di fiskal masih oke, defisit kita di Juni oke, di bawah 1 persen. Dan masih lima bulan lagi akhir tahun, jadi nggak breach ke 3 persen," katanya.
Selain melakukan realokasi anggaran, Enrico menyoroti, perlunya evaluasi terhadap anggaran pendidikan, termasuk mengenai kesejahteraan guru.
Menurutnya, terdapat ruang untuk memperbaiki besaran gaji guru agar lebih sesuai dengan kondisi pasar dan industri.
"Misalnya gaji guru, itu kan ada ruang untuk di-improve, dan ini bisa dikaji ulang agar mereka bisa dinaikkan, atau sesuai dengan market price. Itu akan berdampak," tegasnya.