- NTP naik 0,15%, tetapi bukan karena harga panen petani membaik.
- NTP hortikultura anjlok 8,49%, harga cabai hingga bawang merah jatuh.
- Perikanan jadi pengecualian, nilai tukar nelayan dan pembudidaya ikan naik.
Suara.com - Meski Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan Nilai Tukar Petani (NTP) naik pada Juli 2026, kondisi tersebut belum sepenuhnya mencerminkan membaiknya kesejahteraan petani. Di balik kenaikan tipis tersebut, petani hortikultura justru menghadapi tekanan berat akibat anjloknya harga berbagai komoditas utama seperti cabai rawit, bawang merah, tomat, hingga cabai merah.
BPS mencatat NTP Juli 2026 naik 0,15% secara bulanan menjadi 127,84. Namun, kenaikan itu bukan disebabkan oleh membaiknya harga hasil panen petani, melainkan karena biaya yang harus dikeluarkan petani turun lebih besar dibandingkan penurunan harga yang mereka terima.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono menjelaskan indeks harga yang diterima petani turun 0,10%, sedangkan indeks harga yang dibayar petani turun lebih dalam, yakni 0,25%.
"Juli tahun 2026 tercatat sebesar 127,84 atau naik 0,15% dibandingkan dengan Juni tahun 2026. Peningkatan NTP terjadi karena indeks harga yang diterima oleh petani turun 0,1%. Sedangkan indeks harga yang dibayar oleh petani turunnya lebih dalam, yaitu 0,25%," ujar Ateng dalam konferensi pers di Kantor BPS, Jakarta, Senin (3/8/2026).
Sinyal pelemahan paling nyata terjadi di subsektor hortikultura. BPS mencatat NTP hortikultura merosot 8,49% dibandingkan bulan sebelumnya, menjadi penurunan terdalam di antara seluruh subsektor pertanian.
Menurut Ateng, penurunan tersebut dipicu oleh jatuhnya indeks harga yang diterima petani hortikultura hingga 8,74%, jauh lebih dalam dibandingkan penurunan indeks harga yang dibayar petani yang hanya mencapai 0,28%.
Komoditas yang paling menekan pendapatan petani berasal dari cabai rawit, bawang merah, tomat, dan cabai merah yang mengalami penurunan harga cukup signifikan di tingkat petani. Kondisi ini menunjukkan petani hortikultura masih menghadapi tekanan akibat melemahnya harga jual hasil panen.
Selain hortikultura, subsektor peternakan juga mencatat penurunan NTP pada Juli 2026. Sebaliknya, sektor perikanan justru menjadi penopang dengan kinerja yang lebih baik.
BPS mencatat Nilai Tukar Perikanan (NTPi) naik 1,01% pada Juli 2026. Peningkatan tersebut didorong oleh kenaikan Nilai Tukar Nelayan sebesar 0,95% serta Nilai Tukar Pembudidaya Ikan sebesar 1,10%.
Kenaikan harga rajungan, ikan cakalang, tongkol, dan ikan kembung membantu meningkatkan pendapatan nelayan. Sementara di sektor budidaya, kenaikan harga rumput laut, bandeng, udang, dan lele menjadi pendorong membaiknya nilai tukar pembudidaya ikan.