- Indeks Harga Saham Gabungan terkoreksi tipis akibat aksi ambil untung di Bursa Efek Indonesia pada Senin, 3 Agustus 2026.
- Phintraco Sekuritas menyatakan pasar ditopang penguatan rupiah dan perbaikan indikator ekonomi domestik seperti inflasi serta manufaktur.
- Analis memperkirakan IHSG berpotensi menguat kembali menguji level resistance 6.250 hingga 6.300 berdasarkan indikator teknikal.
Suara.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi tipis pada penutupan perdagangan, Senin, 3 Agustus 2026. IHSG ditutup di level 6.234, turun 1,62 poin atau 0,02 persen.
Berdasarkan data Phintraco Sekuritas, pelemahan IHSG terjadi di tengah aksi ambil untung (profit taking) setelah indeks sempat bergerak fluktuatif sepanjang perdagangan.
Aktivitas perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat nilai transaksi mencapai Rp14,24 triliun, dengan volume perdagangan 37,24 miliar saham dan frekuensi transaksi sebanyak 2.280.688 kali.
Phintraco Sekuritas menjelaskan, tekanan jual dipicu aksi profit taking. Meski demikian, sejumlah sentimen positif masih menopang pergerakan pasar.
![Pengunjung melihat layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Selasa (18/3/2025). [Suara.com/Alfian Winanto]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2025/03/18/40293-ihsg-ihsg-anjlok-bursa-efek-indeks-harga-saham-ilustrasi-bursa-ilustrasi-ihsg.jpg)
Rupiah ditutup menguat 0,14 persen ke level Rp17.997 per dolar Amerika Serikat (AS), seiring penguatan mayoritas mata uang Asia yang didorong pelemahan harga minyak. Kondisi tersebut dinilai berpotensi menurunkan ekspektasi kenaikan suku bunga The Federal Reserve (The Fed).
Dari domestik, sejumlah indikator ekonomi juga menunjukkan perbaikan. Indeks PMI Manufaktur Indonesia naik ke level 50,2 pada Juli 2026 dari 46,9 pada Juni 2026. Sementara inflasi melambat menjadi 2,88 persen secara tahunan pada Juli 2026 dari 3,34 persen pada bulan sebelumnya. Neraca perdagangan Indonesia juga masih mencatat defisit sebesar US$0,45 miliar pada Juni 2026, namun lebih baik dibandingkan defisit US$1,61 miliar pada Mei 2026.
Secara teknikal, Phintraco Sekuritas menilai peluang penguatan IHSG masih terbuka.
"Secara teknikal, Stochastic RSI mengalami reversal di area pivot dan histogram MACD masih bertahan di area positif. Sehingga diperkirakan IHSG masih berpotensi rebound dan menguji resistance di level 6.250-6.300," tulis Phintraco Sekuritas dalam risetnya.
Dari sisi sektoral, IDX Cyclicals menjadi sektor dengan penguatan terbesar setelah naik 1,64 persen, disusul IDX Healthcare yang menguat 1,26 persen dan IDX Basic Materials naik 0,50 persen.
Sebaliknya, IDX Technology menjadi sektor dengan pelemahan terdalam sebesar 1,52 persen, diikuti IDX Property yang turun 0,77 persen dan IDX Energy melemah 0,76 persen.
Berikut data perdagangan saham pada penutupan IHSG, Senin (3/8/2026):
Top Value
- TPIA: Rp2.080 (-3,70 persen)
- AMMN: Rp4.280 (+4,39 persen)
- BUMI: Rp168 (+1,82 persen)
Top Volume
- IATA: Rp91 (+19,74 persen)
- BUMI: Rp168 (+1,82 persen)
- KOTA: Rp152 (+3,40 persen)
Top Gainers LQ45
- MAPI: Rp1.895 (+21,86 persen)
- NCKL: Rp935 (+4,47 persen)
- AMMN: Rp4.280 (+4,39 persen)
Top Losers LQ45
- INDY: Rp2.340 (-11,03 persen)
- CPIN: Rp3.160 (-3,95 persen)
- SCMA: Rp202 (-2,88 persen)
Top Gainers JII
- TLKM: Rp2.740 (+4,18 persen)
- EXCL: Rp2.530 (+3,69 persen)
- ICBP: Rp7.200 (+3,23 persen)
Top Losers JII
- CPIN: Rp3.160 (-3,95 persen)
- TPIA: Rp2.080 (-3,70 persen)
- WIFI: Rp1.960 (-2,00 persen)