- Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengumumkan rencana peluncuran insentif kendaraan listrik oleh Presiden Prabowo Subianto dalam dua hingga tiga minggu ke depan.
- Stimulus ekonomi tersebut mencakup total satu juta kendaraan, yang terdiri dari 500 ribu motor listrik serta mobil listrik.
- Pemberian insentif berupa Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah ini bertujuan untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor minyak.
Suara.com - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memastikan adanya insentif mobil listrik dan motor listrik untuk total 1 juta kendaraan. Stimulus ekonomi ini bakal disampaikan Presiden RI Prabowo Subianto dalam dua hingga tiga minggu ke depan.
"Dalam dua atau tiga minggu ke depan, Presiden akan meluncurkan stimulus tambahan untuk kendaraan listrik, yang mencakup 500 ribu motor listrik dan juga mobil listrik," katanya dalam acara GIIAS 2026, dikutip Kamis (6/8/2026).
Menkeu Purbaya menyebut stimulus ini adalah insentif Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) berupa Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM). Ada dua jenis insentif kendaraan listrik, yakni 100 persen untuk kategori tertentu dan 40 persen untuk jenis mobil listrik lainnya.
Bendahara Negara lalu memaparkan kalau permintaan kendaraan nasional masih dalam fase penyesuaian pasca puncak tahun 2022. Menurutnya, pertumbuhan industri semakin bergeser dari kendaraan konvensional ke kendaraan berteknologi emisi rendah.
Lebih lagi, pangsa pasar kendaraan listrik telah meningkat hampir 15 kali lipat dalam empat tahun terakhir. Ia menilai tantangan ke depan bukan lagi hanya mendorong adopsi kendaraan listrik, tapi juga memaksimalkan nilai tambah domestik investasi, lapangan kerja, dan daya saing industri nasional.
![Mobil Listrik yang dipamerkan di Mall 23 Semarang. [Istimewa]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/08/04/84569-mobil-listrik.jpg)
Purbaya juga mengakui kalau banyak pihak yang mempertanyakan keseriusan Pemerintah dalam mendorong penggunaan kendaraan listrik (EV). Sebab ada informasi kalau subsidi akan dihapus tahun ini.
Tapi jika melihat situasi di Timur Tengah, Purbaya memahami bahwa ketidakpastian akibat dinamika geopolitik dan tingginya harga minyak dunia akan berlangsung dalam waktu lama. Oleh karenanya, Pemerintah perlu melakukan penyesuaian.
"Pemerintah dan Pak Prabowo bertekad untuk mengurangi ketergantungan kita terhadap impor minyak secara signifikan. Itulah sebabnya kami mendorong penggunaan kendaraan listrik, dan kami akan terus melanjutkannya," jelas dia.