- Greenovate 2026 diikuti lebih dari 400 mahasiswa dengan 150+ ide bisnis berkelanjutan. [1]
- Tim The Triple A dari ITB menjadi juara 1 lewat inovasi pemanfaatan baterai bekas kendaraan listrik. [4]
- Kompetisi mendorong inovasi hijau, ekonomi sirkular, dan talenta muda untuk menghadirkan solusi berkelanjutan.
Suara.com - TBS Foundation resmi mengumumkan para pemenang Greenovate 2026 pada Malam Grand Final yang diselenggarakan di Jakarta, Rabu (5/8).
Para pemenang dipilih dari delapan tim finalis yang lolos dari lebih dari 150 ide bisnis berkelanjutan yang diajukan oleh lebih dari 400 mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia, dimana 66.2% tim berasal dari luar pulau Jawa.
Tingginya partisipasi tersebut mencerminkan antusiasme generasi muda dalam menghadirkan solusi atas berbagai tantangan keberlanjutan, mulai dari energi bersih, ekonomi sirkular, pengelolaan limbah, hingga ketahanan air.
Melalui Greenovate, TBS Foundation mempertemukan talenta muda dengan dunia akademik, pelaku industri, praktisi keberlanjutan, dan investor agar gagasan yang dikembangkan memiliki peluang untuk tumbuh menjadi solusi yang dapat diimplementasikan dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
Sebelum Grand Final, seluruh finalis mengikuti rangkaian pembinaan dan mentoring bersama delapan mentor dari berbagai sektor, termasuk energi, keberlanjutan, bisnis, teknologi, dan investasi.
Selama proses tersebut, para peserta memperoleh pendampingan untuk menyempurnakan model bisnis, strategi implementasi, serta pengukuran dampak sosial dan lingkungan dari inovasi yang mereka kembangkan.
Mereka juga mendapat kesempatan untuk berkunjung ke kantor TBS dan Electrum untuk dapat belajar mengenai bagaimana ESG diitegrasikan dalam seluruh lini bisnis TBS.
Chairwoman TBS Foundation, Juli Oktarina, mengatakan bahwa Greenovate merupakan bagian dari komitmen TBS Foundation dalam menyiapkan generasi muda yang mampu berkontribusi terhadap transisi menuju ekonomi hijau melalui inovasi dan kolaborasi.
"Kami melihat semakin banyak anak muda yang memiliki kepedulian terhadap isu keberlanjutan sekaligus kemampuan menghadirkan solusi yang inovatif. Greenovate memberikan ruang bagi mereka untuk mengembangkan gagasan, memperoleh masukan dari para praktisi, serta membangun jejaring yang dapat mendukung pengembangan inovasi di tahap berikutnya," ujar Juli.
Pada Grand Final Greenovate 2026, dewan juri menetapkan The Triple A dari Institut Teknologi Bandung sebagai Juara 1 melalui inovasi Spark Go!.
Inovasi tersebut menghadirkan solusi pemanfaatan second-life baterai kendaraan listrik dengan mengubah baterai yang masih memiliki state of health 70–80 persen menjadi portable power station berbasis konsep Energy as a Service (EaaS).
Solusi ini tersedia dalam tiga pilihan kapasitas, yakni 1.500 watt, 3.500 watt, dan 5.500 watt, serta dilengkapi sistem Internet of Things (IoT) untuk memantau kondisi baterai dan penggunaan daya secara real time.
Melalui pendekatan tersebut, Spark Go! menjawab tantangan pengelolaan limbah baterai kendaraan listrik yang di Indonesia diproyeksikan mencapai 35.000 ton pada 2030, sekaligus memperpanjang umur pakai baterai sebelum didaur ulang.
Inovasi ini dinilai memiliki potensi implementasi dan dampak yang kuat dalam mendukung transisi menuju ekonomi sirkular dan energi berkelanjutan.
Sementara itu, Juara 2 diraih oleh Beanefit dari Universitas Palangka Raya melalui inovasi cookies berbahan dasar ampas kopi yang diolah menjadi tepung bernilai tambah.
Ada pun Juara 3 diraih oleh Powerhart dari Universitas Gadjah Mada melalui inovasi material elektroda superkapasitor berbahan tandan kosong kelapa sawit.
Selain itu, penghargaan Best Innovative Idea diberikan kepada Helio East dari Universitas Cenderawasih, sementara Best Teamwork diraih oleh Puruno dari Universitas Tanjungpura.
Selain trofi, medali dan sertifikat, para pemenang memperoleh hadiah dengan total 65 juta rupiah, yang terdiri atas 30 juta rupiah untuk Juara 1, 20 juta rupiah untuk Juara 2, dan 15 juta rupiah untuk Juara 3.
“Kami sangat bangga dapat menjadi Juara 1 Greenovate 2026. Penghargaan ini menjadi motivasi bagi kami untuk terus mengembangkan inovasi pemanfaatan second-life EV battery agar dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dan berkontribusi pada transisi menuju masa depan yang lebih berkelanjutan,” ungkap tim Triple A dari ITB yang menjadi juara 1.
Penilaian dilakukan oleh dewan juri yang terdiri atas Gita Sjahrir, Managing Director for Investor Relations TBS; Iwan Syahril, Member of the Board of Supervisors TBS Foundation; serta Roderick Purwana, Managing Partner East Ventures.
Dewan juri menilai inovasi para finalis berdasarkan aspek kebaruan, kelayakan model bisnis, potensi implementasi, serta dampak sosial dan lingkungan.
"Greenovate Competition 2026 menunjukkan antusiasme dan ketajaman berpikir generasi muda dalam menjawab tantangan lingkungan melalui pendekatan berbasis sains dan teknologi. Para finalis tidak hanya menghadirkan gagasan yang inovatif, tetapi juga mulai memikirkan bagaimana solusi tersebut dapat dikembangkan dan memiliki nilai komersial," kata Roderick Purwana, Managing Partner East Ventures.
"Ke depan, dukungan ekosistem—mulai dari infrastruktur, pendampingan, hingga investasi yang tepat—akan menjadi kunci agar inovasi-inovasi ini dapat diuji, disempurnakan, dan dibawa ke pasar. Kami percaya talenta muda Indonesia memiliki peran penting dalam mendorong transisi menuju ekonomi hijau yang kompetitif dan berkelanjutan," sambungnya.
Di sisi lain, Greenovate turut mendorong partisipasi perempuan dalam pengembangan solusi keberlanjutan di bidang STEM.
Seluruh tim finalis memiliki keterwakilan perempuan dengan total 15 finalis perempuan dari total 24 finalis, sementara proses pembinaan didukung oleh delapan mentor dari berbagai bidang, dengan enam di antaranya merupakan perempuan yang berpengalaman di sektor energi, keberlanjutan, bisnis, dan teknologi.
Pendekatan ini mencerminkan keyakinan TBS Foundation bahwa keberagaman perspektif dan kepemimpinan merupakan bagian penting dalam membangun ekosistem talenta hijau Indonesia.
"Kami berharap Greenovate menjadi awal dari perjalanan yang lebih panjang bagi para inovator muda Indonesia. Ketika talenta, dunia akademik, industri, dan berbagai mitra dapat saling terhubung, peluang lahirnya solusi yang mampu menjawab tantangan keberlanjutan akan semakin besar," tandas Juli.