- Ekonom INDEF M Rizal Taufikurahman menyatakan daya beli masyarakat menengah ke bawah menjadi kunci ekonomi Semester II 2026.
- Bank Indonesia melaporkan Indeks Keyakinan Konsumen turun menjadi 116,8 pada Juli 2026 akibat kekhawatiran lapangan kerja.
- Proporsi pendapatan konsumen untuk membayar cicilan atau utang meningkat dari 10 persen menjadi 10,5 persen pada Juli 2026.
Suara.com - Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) M Rizal Taufikurahman mengatakan bahwa daya beli masyarakat khususnya kelas menengah ke bawah menjadi kunci penting untuk menjaga kinerja ekonomi nasional Semester II 2026.
Ia memperingatkan kelas menengah ke bawah akan dipaksa menggerus tabungan atau bahkan menambah utang jika di Semester II kinerja ekonomi dipaksakan tanpa stimulus untuk kelompok masyarakat yang paling dominan saat ini.
“Pada kuartal III dan IV, pemerintah perlu fokus menjaga daya beli, terutama kelompok menengah bawah,” kata Rizal di Jakarta, Senin (10/8/2026).
Pada kuartal II-2026, Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan konsumsi rumah tangga mengalami pertumbuhan sebesar 5,06 persen (year-on-year/yoy). Pertumbuhan ini melambat bila dibandingkan kuartal I-2026 yang mencetak pertumbuhan sebesar 5,52 persen (yoy).
Menurut Rizal, perlambatan konsumsi rumah tangga pada triwulan II perlu menjadi perhatian karena konsumsi masih menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi, dengan porsi kontribusi sebesar 2,67 persen terhadap kinerja pertumbuhan ekonomi nasional yang mencapai level 5,29 persen (yoy).
Ketika konsumsi melemah sementara pertumbuhan ekonomi nasional tetap berkisar 5 persen, lanjut Rizal, artinya sumber pertumbuhan mulai lebih bergantung pada komponen lain seperti investasi dan belanja pemerintah.
Maka dari itu, perlu ada upaya untuk mendongkrak kembali kinerja konsumsi rumah tangga pada sisa tahun. Sejumlah langkah yang ia soroti mencakup pengendalian inflasi pangan, bantuan yang lebih tepat sasaran, insentif transportasi, serta kebijakan yang menekan biaya hidup.
Namun, dia menggarisbawahi bahwa stimulus konsumsi tidak boleh berhenti pada bantuan temporer. Stimulus seharusnya lebih diarahkan pada upaya memperbaiki sumber pendapatan rumah tangga melalui penciptaan pekerjaan formal, menekan pemutusan hubungan kerja (PHK), mendorong kenaikan upah riil, dan memperkuat usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Jika konsumsi dipaksa tumbuh tanpa perbaikan pendapatan, Rizal meramalkan risiko yang mungkin muncul adalah masyarakat menggerus tabungan atau menambah utang.
“Jadi, strategi kuartal III dan IV harus menggabungkan stimulus jangka pendek dengan penguatan pendapatan agar konsumsi pulih secara lebih sehat dan berkelanjutan,”ujar dia.
Konsumen Semakin Pesimis
Peringatan ini disampaikan ketika Bank Indonesia melaporkan bahwa Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Juli 2026 berada di level 116,8. Angka tersebut turun dari 117,8 pada bulan sebelumnya.
Penurunan ini menunjukkan optimisme konsumen mulai kehilangan tenaga. Pelemahan terjadi baik pada persepsi terhadap kondisi ekonomi saat ini maupun ekspektasi terhadap perekonomian dalam enam bulan ke depan.
Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) turun dari 109,2 menjadi 107,9. Sementara Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) merosot dari 126,4 menjadi 125,7.
Meski kedua indeks tersebut masih berada di atas level 100 atau zona optimistis, tren penurunan menjadi perhatian karena menunjukkan konsumen mulai lebih berhati-hati dalam melihat kondisi ekonomi.
Tekanan paling terlihat dari persepsi masyarakat terhadap ketersediaan lapangan kerja. Indeks Ketersediaan Lapangan Kerja (IKLK) Juli tercatat 101,1, turun dari 101,8 pada bulan sebelumnya.
Bahkan, persepsi mengenai lapangan kerja masih berada di zona pesimis pada responden berpendidikan SMA. Kondisi ini kontras dengan kelompok berpendidikan akademi/diploma, sarjana, dan pascasarjana yang masih mencatat indeks optimistis.
Berdasarkan usia, kelompok berusia di atas 41 tahun juga masih berada di zona pesimis dalam melihat ketersediaan lapangan kerja.
Artinya, optimisme konsumen belum sepenuhnya mencerminkan kondisi yang merata. Kelompok masyarakat tertentu masih menghadapi kekhawatiran terhadap keamanan pekerjaan dan peluang memperoleh penghasilan.
Indeks Penghasilan Saat Ini (IPSI) memang masih tinggi di level 118,5. Namun, angka tersebut turun dari 119,8 pada Juni.
Pelemahan juga terlihat pada indeks pembelian barang tahan lama yang turun dari 105,9 menjadi 104,1. Ini menjadi sinyal bahwa sebagian konsumen mulai menahan pembelian barang bernilai besar.
Kondisi tersebut cukup penting bagi perekonomian karena konsumsi rumah tangga merupakan salah satu mesin utama pertumbuhan ekonomi. Jika konsumen mulai menunda pembelian barang tahan lama, momentum konsumsi dapat ikut tertekan.
Secara spasial, pelemahan persepsi kondisi ekonomi paling terasa di Pontianak, Bandung, dan Pangkal Pinang. Sementara peningkatan terjadi antara lain di Banten, Manado, dan Banjarmasin.
Sinyal yang lebih mengkhawatirkan terlihat dari kondisi keuangan rumah tangga. BI mencatat proporsi pendapatan konsumen yang digunakan untuk membayar cicilan atau utang meningkat menjadi 10,5 persen pada Juli 2026, dari 10,0 persen pada bulan sebelumnya.