Ekonomi RI Belum Lepas dari Jawa, Indonesia-sentris Tinggal Slogan?

Achmad Fauzi

Kamis, 06 Agustus 2026 | 16:35 WIB
Ekonomi RI Belum Lepas dari Jawa, Indonesia-sentris Tinggal Slogan?
Ilustrasi Kawasan Industri Masih sangat minim di pulau Jawa. [ist]
baca 10 detik
  • Badan Pusat Statistik mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal II 2026 mencapai 5,29 persen.
  • Pulau Jawa mencatatkan kontribusi terbesar terhadap perekonomian nasional dengan angka mencapai 56,47 persen.
  • Dominasi Pulau Jawa terjadi karena struktur ekonomi, industri, serta investasi nasional masih terkonsentrasi di sana.

Suara.com - Konsep ekonomi Indonesia-sentris dinilai mulai memudar setelah diumumkannya data pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II 2026. Pasalnya, mesin pertumbuhan ekonomi nasional masih didominasi oleh Pulau Jawa.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II 2026 mencapai 5,29 persen. Meski masih tumbuh positif, angka tersebut lebih rendah dibandingkan pertumbuhan pada kuartal I 2026.

Apa itu Indonesia-Sentris

Konsep Indonesia-sentris sempat gencar digaungkan pada era pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi). Konsep tersebut diwujudkan melalui pembangunan berbagai infrastruktur di berbagai daerah, terutama di luar Pulau Jawa.

Suasana gedung bertingkat perkantoran di Jakarta, Kamis (7-3-2024). [Suara.com/Alfian Winanto]
Potret pertumbuhan ekonomi, di mana banyak gedung bertingkat dan kawasan industri. [Suara.com/Alfian Winanto]

Masifnya pembangunan infrastruktur di berbagai wilayah diharapkan mampu menarik investasi untuk membangun industri di luar Pulau Jawa. Dengan begitu, diharapkan muncul mesin-mesin pertumbuhan ekonomi baru sehingga perekonomian nasional tidak lagi bergantung pada Pulau Jawa.

Namun, data terbaru BPS menunjukkan bahwa konsep tersebut belum sepenuhnya terwujud. Sebab, lebih dari separuh pertumbuhan ekonomi nasional masih disumbang oleh Pulau Jawa.

Pulau Jawa Masih Mendominasi

Berdasarkan data BPS, Pulau Jawa masih menjadi penyumbang terbesar pertumbuhan ekonomi nasional dengan kontribusi mencapai 56,47 persen.

Sementara itu, kontribusi wilayah lainnya adalah sebagai berikut:

baca juga
  • Sumatra: 22,50 persen
  • Jawa: 56,47 persen
  • Kalimantan: 8,15 persen
  • Sulawesi: 7,28 persen
  • Bali dan Nusa Tenggara: 2,84 persen
  • Maluku dan Papua: 2,76 persen

Apa Penyebab Indonesia-Sentris Memudar

Sejumlah ekonom menilai dominasi Pulau Jawa masih terjadi karena struktur ekonomi Indonesia belum banyak berubah selama bertahun-tahun.

Direktur Eksekutif CELIOS, Bhima Yudhistira Adhinegara, kepada Suara.com menilai sektor perdagangan dan industri yang menjadi motor pertumbuhan ekonomi masih terkonsentrasi di Pulau Jawa.

Kawasan Industri Terpadu Batang (KITB)
Kawasan Industri yang terpusat di Pulau Jawa. (KITB)

Selain itu, perekonomian di berbagai daerah juga tertekan akibat melemahnya bisnis pertambangan. Di sisi lain, industri hilirisasi yang sebelumnya diharapkan menjadi mesin pertumbuhan baru juga mulai menghadapi gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK).

"Jadi sunset komoditasnya maka jawa makin dominan. Selain itu sentralisasi anggaran untuk program prioritas nasional seperti mbg turut memperuncing ketimpangan antar wilayah. Indonesia timur jumlah dapurnya sedikit meski kebutuhan mengurangi stuntingnya lebih besar," katanya.

Intinya, berkurangnya pembangunan infrastruktur, ditambah melemahnya prospek sejumlah sektor usaha di daerah, membuat investasi kembali terkonsentrasi di Pulau Jawa.

Bagaimana Agar Ekonomi Lebih Merata

Peneliti Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB UI, Teuku Riefky, menilai ketimpangan ekonomi antardaerah memang sudah terjadi sejak lama.

Menurutnya, meski pembangunan infrastruktur di luar Pulau Jawa terus dilakukan, aktivitas ekonomi seperti kawasan industri dan pusat-pusat manufaktur masih belum tersebar secara merata. Selain itu, pembangunan pemerintah di luar Pulau Jawa juga masih terkonsentrasi di wilayah tertentu.

Karena itu, Teuku menyarankan agar pemerintahan Presiden Prabowo Subianto kembali mempercepat pembangunan infrastruktur, mulai dari akses transportasi hingga pengembangan kawasan industri baru di luar Pulau Jawa.

Selain itu, pemerintah juga perlu memberikan berbagai insentif agar investor lebih tertarik menanamkan modal dan membangun industri di luar Pulau Jawa.

"Pemerintah perlu lebih banyak membangun infrastruktur dan kawasan industri di luar jawa," tegasnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Dalih Geopolitik Jadi Alasan Pemerintah Lihat Ekonomi RI Tumbuh Melambat

Dalih Geopolitik Jadi Alasan Pemerintah Lihat Ekonomi RI Tumbuh Melambat

Bisnis | Kamis, 06 Agustus 2026 | 07:53 WIB

Penduduk Melarat Susut, Tapi Kesenjangan Orang Kaya dan Miskin Makin Besar

Penduduk Melarat Susut, Tapi Kesenjangan Orang Kaya dan Miskin Makin Besar

Bisnis | Kamis, 06 Agustus 2026 | 07:31 WIB

Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,29 Persen, BI Sebut Permintaan Domestik Masih Solid

Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,29 Persen, BI Sebut Permintaan Domestik Masih Solid

Bisnis | Kamis, 06 Agustus 2026 | 07:14 WIB

Terkini

Amnesty Minta Pelaku Pembubaran Ibadah GKPI Tangerang Diproses Hukum

Amnesty Minta Pelaku Pembubaran Ibadah GKPI Tangerang Diproses Hukum

News | Senin, 21 September 2026 | 21:41 WIB

Ahli Soroti Kerugian Negara Rp2 Triliun di Kasus TPL: Harus Diaudit BPK

Ahli Soroti Kerugian Negara Rp2 Triliun di Kasus TPL: Harus Diaudit BPK

News | Senin, 21 September 2026 | 21:36 WIB

Dari Jakarta hingga Sukabumi, Belasan Aset Mewah Ipda Yayat Dibidik KPK

Dari Jakarta hingga Sukabumi, Belasan Aset Mewah Ipda Yayat Dibidik KPK

News | Senin, 21 September 2026 | 21:35 WIB

Dari Garmin Run 2026, Gaya Hidup Aktif Bertemu Solusi Finansial

Dari Garmin Run 2026, Gaya Hidup Aktif Bertemu Solusi Finansial

Sport | Senin, 21 September 2026 | 21:24 WIB

Kondisi Doddy Katamsi Memprihatinkan Akibat Penyakit Jantung, Keluarga Meminta Doa

Kondisi Doddy Katamsi Memprihatinkan Akibat Penyakit Jantung, Keluarga Meminta Doa

Entertainment | Senin, 21 September 2026 | 21:21 WIB

Sebut Pakar Saking Pintarnya Jadi Goblok, KIKA Beri Kritik Pedas ke Prabowo

Sebut Pakar Saking Pintarnya Jadi Goblok, KIKA Beri Kritik Pedas ke Prabowo

News | Senin, 21 September 2026 | 21:13 WIB

Tuntutan 8,5 Tahun Bikin Suasana Sidang Sudewo Memanas, Pendukung Ricuh

Tuntutan 8,5 Tahun Bikin Suasana Sidang Sudewo Memanas, Pendukung Ricuh

Jawa Tengah | Senin, 21 September 2026 | 21:03 WIB

vivo X500 Series Resmi Meluncur, Bawa Kamera 17EV dan Video 4K 240fps

vivo X500 Series Resmi Meluncur, Bawa Kamera 17EV dan Video 4K 240fps

Tekno | Senin, 21 September 2026 | 21:02 WIB

Target E50 di Depan Mata, Impor Bensin Bakal Dihentikan?

Target E50 di Depan Mata, Impor Bensin Bakal Dihentikan?

Video | Senin, 21 September 2026 | 21:00 WIB

Merumuskan Kembali Bisnis Media Masa Depan di Local Media Summit 2026

Merumuskan Kembali Bisnis Media Masa Depan di Local Media Summit 2026

News | Senin, 21 September 2026 | 20:57 WIB

×