- Emas Antam diprediksi bergerak Rp2,6 juta-Rp2,81 juta/gram.
- Pelemahan rupiah berpotensi membatasi koreksi harga emas.
- Geopolitik dan kebijakan The Fed jadi pemicu volatilitas emas.
Perubahan kebijakan Venezuela dapat berdampak terhadap pasokan minyak global. Jika produksi dan pasokan meningkat signifikan, pasar minyak berisiko menghadapi oversupply yang kemudian dapat memengaruhi harga energi dan sentimen pasar global.
Di sisi lain, ketegangan Iran dan Amerika Serikat terkait Selat Hormuz juga menjadi sumber ketidakpastian.
“Antara Iran dan Amerika ini saling mengklaim tentang Selat Hormuz. Kita lihat bahwa Amerika mengatakan bahwa blokade di Selat Hormuz itu sampai saat ini sudah dilakukan oleh armada laut Amerika. Tetapi Teheran sendiri mengklaim bahwa kendali atas jalur perairan vital tersebut dikuasai oleh Iran,” ujar Ibrahim.
Selat Hormuz merupakan jalur strategis bagi perdagangan minyak dunia. Karena itu, eskalasi di kawasan tersebut dapat meningkatkan volatilitas harga energi sekaligus mendorong perubahan sentimen investor terhadap aset safe haven seperti emas.
Risiko geopolitik juga datang dari Eropa Timur. Ibrahim menyoroti perang Rusia-Ukraina dan meningkatnya keterlibatan negara-negara anggota NATO, khususnya Inggris.
Menurut dia, eskalasi konflik dapat memberikan tekanan terhadap pasar komoditas, terutama minyak mentah.
“Kalau kita lihat ke Eropa Timur, perang antara Rusia dan Ukraina ini cukup mengkhawatirkan. Karena keterlibatan negara-negara anggota NATO, terutama Inggris, sehingga ada kemungkinan besar memanasnya situasi di Eropa Timur ini akan mendongkrak harga minyak mentah yang kemungkinan besar akan kembali ke level 90,” katanya.
Kenaikan harga minyak dapat menjadi persoalan tersendiri bagi perekonomian global karena berpotensi meningkatkan tekanan inflasi. Pada saat yang sama, ketidakpastian geopolitik biasanya meningkatkan permintaan terhadap aset yang dianggap lebih aman, termasuk emas.
Faktor terakhir yang tak kalah penting adalah kondisi perekonomian Amerika Serikat dan arah kebijakan moneter bank sentral AS.
Ibrahim menilai inflasi AS masih menjadi perhatian pasar. Pernyataan serta arah kebijakan bank sentral AS dapat memengaruhi dolar, imbal hasil obligasi, dan pada akhirnya harga emas dunia.
“Inflasi ini masih cukup tinggi. Kemudian beliau juga menyampaikan beberapa pernyataan kunci tentang arah kebijakan moneter dan prinsip kepemimpinannya. Dia mengatakan bahwa saat ini pasar itu jangan melihat terhadap bank sentralnya, tapi melihat terhadap perekonomiannya,” tegasnya.