- PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI) membukukan laba bersih Rp31,2 triliun hingga akhir triwulan II 2026.
- Direktur Utama BRI Hery Gunardi menyampaikan laporan kinerja tersebut dalam konferensi pers di Jakarta pada Senin.
- Kinerja positif tersebut ditopang oleh pertumbuhan kredit sebesar 16,2 persen serta peningkatan total aset perusahaan.
Suara.com - PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) meraup laba bersih sebesar Rp31,2 triliun hingga akhir triwulan II 2026, tumbuh sebesar 17,5 persen secara tahunan (yoy).
Pertumbuha laba BRI ini berada di atas rata-rata kelompok perbankan besar nasional yang sebesar 12,54 persen. Direktur Utama BRI Hery Gunardi mengatakan kinerja semester pertama menunjukkan bahwa perseroan tengah membangun momentum pertumbuhan yang sehat, berkualitas, dan sekaligus memperkuat fondasi untuk tumbuh lebih cepat ke depannya.
“Growth is back’, strong," kata Hery dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (31/8/2026).
"Kita bisa lihat pertumbuhan profit kita cukup bagus. Sementara kualitas pertumbuhan, dari sisi disiplin pertumbuhan tetap kita jaga," imbuh Hery.
Net interest income (NII) tumbuh 9,9 persen (yoy) dari Rp73,3 triliun pada akhir triwulan II 2025 menjadi Rp80,5 triliun pada akhir triwulan II 2026. Pre-provision operating profit (PPOP) juga mengalami pertumbuhan yakni sebesar 12,8 persen (yoy) menjadi sebesar Rp65,7 triliun.
Lebih lanjut, Hery menjelaskan bahwa berbagai indikator kinerja utama BRI bergerak ke arah yang positif. Dari sisi skala bisnis, total aset BRI per akhir Juni 2026 telah mencapai Rp2.352 triliun, tumbuh sebesar 11,7 persen (yoy).
Pertumbuhan tersebut terutama ditopang oleh akselerasi kredit yang tumbuh sebesar 16,2 persen (yoy) menjadi sebesar Rp1.646 triliun. Sementara itu, ekspansi kredit tetap ditopang oleh dana pihak ketiga (DPK) yang mencapai Rp1.581 triliun atau mengalami pertumbuhan sebesar 6,7 persen (yoy).
Ke depan, ujar Hery, fokus perseroan bukan hanya meningkatkan volume DPK tetapi semakin memperkuat kualitas pendanaan (funding) melalui peningkatan rasio dana murah (CASA). Hingga triwulan II 2026, rasio CASA BRI tercatat sebesar 67,6 persen atau meningkat dari periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar 65,5 persen.
Ia menambahkan bahwa meningkatnya komposisi dana murah yang berhasil dihimpun perseroan berdampak positif terhadap biaya dana (cost of fund) dengan mencatat penurunan sebesar 0,7 persen dari 3,0 persen per akhir triwulan II 2025 menjadi 2,4 persen per akhir triwulan II 2026 secara bank only.
Hery mengatakan bahwa kombinasi antara pendanaan yang lebih efisien, margin yang tetap kuat, serta kualitas aset yang membaik pada akhirnya mulai meningkatkan kualitas return BRI. Return on asset (ROA) tetap terjaga di kisaran 2,7 persen, sementara return on equity (ROE) meningkat dari 16,6 persen per akhir triwulan II 2025 menjadi 18,8 persen per akhir triwulan II 2026.
Dari sisi efisiensi, perseroan juga melihat bahwa perkembangan yang sangat positif. Cost to income ratio (CIR) membaik dari 41,9 persen pada akhir triwulan II 2025 menjadi 39,2 persen pada akhir triwulan II 2026, membaik sekitar 2,7 persen.
Dari sisi kualitas aset, rasio non-performing loan (NPL) juga membaik menjadi 2,9 persen serta loan at risk (LAR) sebesar 9,1 persen per akhir Juni 2026. Perbaikan kualitas aset juga tercermin dari cost of credit (CoC) yang juga menurun cukup signifikan dari 3,4 persen per akhir Juni 2025 menjadi 3,1 persen per akhir Juni 2026, membaik sekitar 30 basis poin (bps).
Selain itu, perseroan juga mencatat loan to deposit ratio (LDR) di level 90,8 persen. Sementara dari sisi permodalan, capital adequacy ratio (CAR) BRI per akhir triwulan II 2026 tercatat 21,5 persen atau jauh di atas ketentuan.
Hery menyampaikan, kinerja yang dicapai menunjukkan bahwa perseroan mampu menjaga pertumbuhan yang sehat dan berkelanjutan di tengah dinamika perekonomian dan berbagai program prioritas nasional yang juga diamanahkan untuk BRI lakukan.
“Kami tetap optimis melihat peluang pertumbuhan, khususnya dalam memperkuat pembiayaan sektor produktif dan ekonomi kerakyatan,” kata dia.
Namun demikian, imbuh Hery, optimisme tersebut selalu dijalankan dengan prinsip kehati-hatian, manajemen risiko yang kuat, dan tata kelola perusahaan yang baik, termasuk dalam mendukung program pemerintah di mana setiap pembiayaan tetap melalui proses dan asesmen sesuai ketentuan serta prinsip-prinsip perbankan yang prudent.
Ia juga mengatakan, capaian kinerja perseroan ini merupakan hasil dari transformasi yang dilakukan secara konsisten sejak manajemen baru, baik dari sisi penguatan bisnis, penguatan budaya, efisiensi, digitalisasi, maupun pengelolaan manajemen risiko yang tetap kuat.
“Transformasi ini membuat BRI semakin agile, produktif, dan mampu menjaga pertumbuhan secara sehat. Namun transformasi bukan tujuan akhir. Transformasi harus tercermin dalam kinerja, kualitas pertumbuhan, dan kemampuan BRI menciptakan nilai yang berkelanjutan,” tutup Hery.