- Neraca dagang defisit setelah 72 bulan surplus.
- DSI pantau 6.500 transaksi ekspor senilai US$14 miliar.
- Integrasi data berpotensi optimalkan nilai komoditas US$5 miliar/tahun.
Namun, Eddy mengingatkan agar integrasi data tidak dipandang sebagai solusi tunggal untuk mengerek ekspor nasional.
“Visibilitas semata belum tentu dapat menggenjot ekspor. Yang diperlukan juga adalah strategi mengelola sumber daya, meningkatkan daya saing produk Indonesia di pasar global, memperluas perjanjian perdagangan bebas, memetakan negara tujuan ekspor, dan mengimplementasikan strategi global,” katanya.
Dengan kata lain, data hanya akan menjadi aset ekonomi apabila diterjemahkan menjadi keputusan bisnis dan kebijakan yang tepat.
Eddy menilai penguatan perdagangan komoditas membutuhkan pembagian peran yang jelas.
DSI dapat berperan pada level strategis melalui integrasi data, pemantauan transaksi dan peningkatan visibilitas perdagangan. Namun, perusahaan eksportir tetap menjadi pihak yang harus menerjemahkan informasi tersebut menjadi strategi bisnis.
“Visibilitas dan top-level strategy dari DSI pada akhirnya membutuhkan implementasi dan business-level strategy dari para eksportir,” ujarnya.
Direktur Utama DSI Luke Mahony mengatakan pihaknya saat ini berfokus membangun sistem dan kapabilitas agar mandat tersebut dapat dijalankan secara kredibel, terukur dan berkelanjutan.
“Sejak mulai beroperasi, kami telah mengembangkan visibilitas terhadap ribuan transaksi ekspor serta fondasi analitis yang diperlukan untuk mendukung mandat DSI,” ujar Luke dalam keterangan resmi, Senin (24/8).
Dia mengatakan DSI akan terus memperkuat kapabilitas pemantauan, verifikasi dan operasional untuk mendukung ekosistem ekspor yang lebih transparan, akuntabel dan efisien.