- BPS memproyeksikan produksi beras nasional Januari hingga Oktober 2026 turun menjadi 31,41 juta ton.
- Penurunan pasokan beras tersebut dipicu oleh melandainya luas panen serta ancaman cuaca kering.
- Produksi periode Agustus sampai Oktober 2026 berkurang 0,90 persen karena penyusutan luasan panen.
Suara.com - Badan Pusat Statistik (BPS) memperingatkan adanya potensi penurunan produksi beras nasional hingga Oktober 2026. Penurunan produksi ini dipicu melandainya luas panen serta ancaman cuaca kering di sejumlah wilayah.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono menyampaikan bahwa proyeksi total produksi beras untuk konsumsi masyarakat sepanjang Januari hingga Oktober 2026 diperkirakan mencapai 31,41 juta ton.
Namun capaian ini mengalami penurunan sekitar 0,03 juta ton atau 0,08 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2025 yang tercatat sebesar 31,44 juta ton.
"Dengan demikian, untuk produksi beras sepanjang Januari sampai dengan Oktober tahun 2026 diperkirakan mencapai 31,41 juta ton atau mengalami penurunan sebesar 0,03 juta ton atau menurun 0,08% jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2025," katanya dalam konferensi pers yang dipantau virtual, dikutip Rabu (2/9/2026).
Penurunan pasokan beras ini sejalan dengan perkiraan total produksi Gabah Kering Giling (GKG) yang melandai ke angka 54,52 juta ton (turun 0,08%).
Sementara untuk periode Agustus hingga Oktober 2026, potensi produksi beras diproyeksikan hanya mencapai 9,33 juta ton, berkurang 0,90 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu akibat luasan panen potensi yang menyusut 1,29 persen menjadi 3,07 juta hektar.
![Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono dalam konferensi pers virtual yang disiarkan YouTube BPS, Selasa (1/9/2026). [Screenshot YouTube]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/09/01/22078-deputi-bidang-statistik-distribusi-dan-jasa-bps-ateng-hartono.jpg)
BPS menyoroti bahwa proyeksi angka potensi produksi Agustus–Oktober 2026 sangat bergantung pada dinamika di lapangan. Ateng mengingatkan bahwa angka-angka potensi tersebut masih fleksibel dan sangat dipengaruhi oleh kondisi alam serta perilaku panen.
"Angka potensi ini masih berubah ya. Ini terutama tergantung pada kondisi pertanaman pada nanti periode Agustus sampai dengan Oktober tahun 2026. Seperti jika ada serangan hama atau organisme pengganggu tanaman atau OPT, jika ada banjir, jika ada kekeringan, jika terjadi waktu pelaksanaan panennya oleh petaninya mengalami perubahan, dan lain sebagainya," tegas Ateng.
Dari amatan Kerangka Sampel Area (KSA) BPS pada Juli 2026, lahan pertanian yang sedang ditanami padi (standing crop) tercatat sebesar 36,27 persen, di mana sebesar 15,78 persen berada pada fase generatif yang siap dipanen pada bulan Agustus 2026.
Adapun kawasan penyangga utama di Jawa seperti Indramayu, Karawang, Subang, Majalengka, Cilacap, Sragen, Jember, dan Lamongan tetap menjadi tumpuan utama pasokan beras nasional hingga akhir tahun.