- Peneliti CORE Eliza Mardian menyatakan risiko inflasi pangan September bersifat moderat tanpa krisis pasokan nasional.
- Bank Indonesia mencatat inflasi volatile food dipicu oleh kenaikan harga beras, cabai rawit, serta daging ayam ras.
- Pemerintah disarankan menyelamatkan tanaman terdampak kekeringan serta memindahkan pasokan pangan dari daerah surplus ke wilayah defisit.
BPS memproyeksikan produksi beras untuk konsumsi penduduk sepanjang Januari–September 2026 mencapai 28,71 juta ton, meningkat tipis 0,01 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Sementara itu, Badan Pangan Nasional (Bapanas) mencatat Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang dikelola Perum Bulog mencapai 5,25 juta ton hingga 12 Agustus 2026.
“Stok beras 5 juta ton lebih adalah prestasi cadangan, bukan jaminan harga di pasar tradisional,” tutur Eliza.
Menurutnya, besarnya stok perlu diikuti kemampuan mendistribusikan beras secara cepat ke wilayah yang mengalami kekurangan pasokan atau kenaikan harga.
Dari sisi cuaca, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memproyeksikan 169 zona musim atau sekitar 25,41 persen luas daratan Indonesia mengalami puncak musim kemarau pada September 2026.
Meski demikian, Eliza menilai dampak kekeringan perlu dilihat berdasarkan kondisi masing-masing daerah dan komoditas sehingga tidak serta-merta menunjukkan adanya gangguan pasokan pangan secara nasional.
Kementerian Pertanian mencatat luas pertanaman padi yang terdampak kekeringan secara nasional sepanjang Januari–Juli 2026 mencapai 44.694 hektare. Dari jumlah tersebut, seluas 12.304 hektare mengalami gagal panen.
Pemerintah telah melakukan mitigasi melalui pemetaan daerah rawan kekeringan serta optimalisasi sumber air dari bendungan, jaringan irigasi, sungai, mata air, dan air tanah. Pemanfaatannya antara lain dilakukan melalui pompanisasi, perpipaan, sumur, embung, dan irigasi perpompaan.
Untuk mencegah tekanan harga berkembang lebih luas, Eliza menyarankan pemerintah memastikan pasokan air bagi tanaman yang masih dapat dipertahankan, memindahkan pasokan pangan dari daerah surplus ke daerah defisit, serta menyalurkan stok beras ke wilayah yang mengalami kenaikan harga.
"Langkah paling mendesak bukan operasi pasar setelah harga sudah mahal. Pemerintah perlu selamatkan tanaman yang masih ada dengan pompa dan air irigasi, pindahkan pasokan dari daerah surplus ke daerah defisit, dan salurkan stok beras ke wilayah-wilayah yang harganya sudah naik,” ucap dia.
Ia juga menilai harga di tingkat petani, disparitas harga antarkota, curah hujan di sentra produksi, dan arus barang menuju pasar perlu dipantau secara berkala sebagai indikator untuk mendeteksi tekanan harga sejak dini.
Dalam jangka lebih panjang, Eliza menilai ketahanan sistem pangan terhadap perubahan cuaca perlu diperkuat melalui infrastruktur air dan logistik, fasilitas penyimpanan komoditas mudah rusak, serta penguatan posisi petani dan peternak dalam rantai pasok.