Rokok Dibikin Seragam, Siapa yang Untung? Ekonom Ungkap 3 Risiko Ini

Mohammad Fadil Djailani

Kamis, 03 September 2026 | 07:57 WIB
Rokok Dibikin Seragam, Siapa yang Untung? Ekonom Ungkap 3 Risiko Ini
Rencana pemerintah menyeragamkan kemasan produk tembakau dan rokok elektronik melalui Rancangan Peraturan Menteri Kesehatan (RPMK) tentang Pencantuman Peringatan Kesehatan dan Informasi pada Produk Tembakau dan Rokok Elektronik menuai perhatian dari pelaku industri dan ekonom. Foto Suara.com/AI.
baca 10 detik
  • Kemasan seragam dinilai memudahkan pemalsuan dan peredaran rokok ilegal.
  • Industri legal terancam, dari pangsa pasar hingga potensi efisiensi tenaga kerja.
  • Cukai negara berisiko tergerus jika produk ilegal makin marak.

Suara.com - Rencana pemerintah menyeragamkan kemasan produk tembakau dan rokok elektronik melalui Rancangan Peraturan Menteri Kesehatan (RPMK) tentang Pencantuman Peringatan Kesehatan dan Informasi pada Produk Tembakau dan Rokok Elektronik menuai perhatian dari pelaku industri dan ekonom.

Kebijakan tersebut dinilai tidak hanya berpotensi mengubah wajah produk rokok dan vape di pasaran, tetapi juga dapat memunculkan persoalan baru dari sisi ekonomi, mulai dari meningkatnya peredaran produk ilegal, tergerusnya perlindungan Hak Kekayaan Intelektual (HKI), hingga potensi penurunan penerimaan negara dari cukai.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Esther Sri Astuti mengatakan penyeragaman kemasan justru berisiko membuat produk ilegal semakin mudah dipalsukan.

“Dampak negatifnya, kemasan yang seragam akan mempermudah pemalsuan sehingga peredaran produk tanpa pita cukai resmi bisa meningkat. Regulasi ini juga dapat melemahkan Hak Kekayaan Intelektual atas merek produk tembakau,” kata Esther, dikutip Rabu (2/9/2026).

Menurutnya, persoalan HKI juga perlu menjadi perhatian pemerintah. Pasalnya, perlindungan terhadap merek telah memiliki dasar hukum melalui Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2016 tentang Merek dan Indikasi Geografis.

Esther menilai, apabila desain dan identitas produk dibuat semakin seragam, ruang bagi pemalsuan produk dapat terbuka lebih lebar. Kondisi tersebut pada akhirnya dapat membuat produk resmi yang telah memenuhi berbagai kewajiban regulasi harus berhadapan dengan produk ilegal yang memiliki biaya produksi dan kepatuhan lebih rendah.

Maraknya produk ilegal juga berpotensi menekan kinerja industri produk tembakau dan rokok elektronik yang selama ini menjalankan kegiatan usaha secara resmi.

Jika produk ilegal semakin mudah masuk ke pasar dan ditawarkan dengan harga lebih murah, industri legal dapat kehilangan pangsa pasar. Tekanan terhadap penjualan tersebut pada akhirnya berpotensi mendorong perusahaan melakukan efisiensi, termasuk terhadap tenaga kerja.

“Dengan potensi masifnya produk ilegal di pasaran akibat kebijakan penyeragaman kemasan, industri produk tembakau akan menghadapi penurunan kinerja, yang dapat berujung pada efisiensi tenaga kerja,” jelas Esther.

baca juga

Bukan hanya dunia usaha yang terdampak. Pemerintah juga berpotensi kehilangan penerimaan negara apabila konsumen beralih dari produk resmi ke produk ilegal.

Produk ilegal yang tidak menggunakan pita cukai resmi tidak memberikan kontribusi cukai sebagaimana produk legal. Artinya, semakin besar pangsa pasar ilegal, semakin besar pula potensi penerimaan negara yang hilang.

Atas dasar itu, Esther meminta pemerintah melakukan kajian dampak ekonomi secara transparan sebelum RPMK tersebut disahkan dan diterapkan secara luas.

“Hal ini demi melindungi daya saing industri di dalam negeri. Pemerintah juga perlu mengalihkan strategi pencegahan melalui kampanye edukasi yang lebih efektif daripada sekadar mengubah bentuk kemasan,” ucapnya.

Kekhawatiran serupa disampaikan Ketua Umum Asosiasi Personal Vaporizer Indonesia (APVI) Budiyanto. Menurut dia, persoalan kemasan tidak sebatas menyangkut tampilan visual produk.

Kemasan juga berfungsi sebagai sarana bagi konsumen untuk memperoleh informasi mengenai produk yang mereka beli.

“Fungsi kemasan tidak hanya berkaitan dengan identitas merek, tetapi juga menjadi sarana penyampaian informasi kepada konsumen. Konsumen dewasa memerlukan informasi yang jelas mengenai asal produk, identitas produsen, spesifikasi, kandungan, nomor batch, informasi keamanan, serta berbagai informasi lainnya yang membantu mereka melakukan pilihan secara sadar,” ujar Budiyanto.

Menurutnya, apabila identitas merek dan desain kemasan dibuat seragam, konsumen justru dapat semakin kesulitan membedakan produk legal dengan produk ilegal.

Situasi tersebut dinilai dapat dimanfaatkan oleh pelaku usaha ilegal yang tidak memiliki kewajiban dan kepatuhan yang sama dengan pelaku usaha resmi, baik terkait cukai, perpajakan maupun standar mutu produk.

“Identitas merek menciptakan mekanisme akuntabilitas. Produsen yang membangun reputasi mereknya memiliki insentif untuk menjaga kualitas produk, mematuhi regulasi, serta mempertahankan kepercayaan konsumen,” kata Budiyanto.

APVI pun berpandangan bahwa perlindungan konsumen seharusnya tidak hanya dilakukan melalui pembatasan tampilan kemasan.

Menurut Budiyanto, pemerintah perlu memperkuat pengawasan dan penegakan hukum terhadap produk ilegal, sekaligus meningkatkan edukasi kepada konsumen.

“Perlindungan konsumen justru akan lebih efektif apabila informasi produk tetap tersedia secara memadai sehingga pengguna dapat mengenali produk yang legal, dapat ditelusuri asal-usulnya, dan memiliki pihak yang bertanggung jawab apabila terjadi permasalahan,” pungkasnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Perokok Tak Juga Berkurang, Dunia Mulai Cari Jalan Keluar dari Rokok

Perokok Tak Juga Berkurang, Dunia Mulai Cari Jalan Keluar dari Rokok

Bisnis | Kamis, 03 September 2026 | 07:08 WIB

Korsleting Listrik dan Puntung Rokok Picu Ratusan Kebakaran di Jakarta Selama El Nino!

Korsleting Listrik dan Puntung Rokok Picu Ratusan Kebakaran di Jakarta Selama El Nino!

News | Rabu, 02 September 2026 | 15:28 WIB

Purbaya Siapkan Teknologi Canggih Baru Deteksi Cukai Rokok, Libatkan Perusahaan Asing

Purbaya Siapkan Teknologi Canggih Baru Deteksi Cukai Rokok, Libatkan Perusahaan Asing

Bisnis | Senin, 31 Agustus 2026 | 20:47 WIB

Terkini

DPR Godok RUU Profesi Kurator, Lindungi dari Kriminalisasi dan Siapkan Kode Etik Nasional

DPR Godok RUU Profesi Kurator, Lindungi dari Kriminalisasi dan Siapkan Kode Etik Nasional

News | Jum'at, 04 September 2026 | 12:40 WIB

Ketika Kupu-kupu Pindah Rumah, Ada Alarm Bahaya di Balik Sayap yang Indah

Ketika Kupu-kupu Pindah Rumah, Ada Alarm Bahaya di Balik Sayap yang Indah

Lifestyle | Jum'at, 04 September 2026 | 12:39 WIB

4 Rekomendasi Serum Azelaic Acid Lokal untuk Mengatasi PIE dan PIH Sekaligus

4 Rekomendasi Serum Azelaic Acid Lokal untuk Mengatasi PIE dan PIH Sekaligus

Lifestyle | Jum'at, 04 September 2026 | 12:36 WIB

Dihapus dari Masa Lalu, Diburu oleh Teka-Teki: Kisah Kyla dalam Slated

Dihapus dari Masa Lalu, Diburu oleh Teka-Teki: Kisah Kyla dalam Slated

Your Say | Jum'at, 04 September 2026 | 12:30 WIB

Karhutla Terus Berulang, Bagaimana Nasib Target FOLU Net Sink 2030?

Karhutla Terus Berulang, Bagaimana Nasib Target FOLU Net Sink 2030?

News | Jum'at, 04 September 2026 | 12:26 WIB

Sudah Jadi Mahasiswa, Kenapa Tiga Anak Ini Masih Gugat Ayah soal Nafkah Rp700 Juta?

Sudah Jadi Mahasiswa, Kenapa Tiga Anak Ini Masih Gugat Ayah soal Nafkah Rp700 Juta?

Sumsel | Jum'at, 04 September 2026 | 12:17 WIB

Imigrasi Belawan Hadirkan Pasporia di Car Free Day, Warga Kini Bisa Urus Paspor di Akhir Pekan

Imigrasi Belawan Hadirkan Pasporia di Car Free Day, Warga Kini Bisa Urus Paspor di Akhir Pekan

Sumut | Jum'at, 04 September 2026 | 12:15 WIB

Catat Tanggalnya! Kim Ji-won Jadi Dokter di Doctor X Mulai Oktober 2026

Catat Tanggalnya! Kim Ji-won Jadi Dokter di Doctor X Mulai Oktober 2026

Your Say | Jum'at, 04 September 2026 | 12:15 WIB

Anak Hobi Main di Luar? Ini 6 Cara Biar Tetap Segar dan Wangi Seharian

Anak Hobi Main di Luar? Ini 6 Cara Biar Tetap Segar dan Wangi Seharian

Health | Jum'at, 04 September 2026 | 12:13 WIB

Kapan Rice Cooker Harus Diganti? Kenali Tanda-Tanda yang Perlu Diperhatikan

Kapan Rice Cooker Harus Diganti? Kenali Tanda-Tanda yang Perlu Diperhatikan

Lifestyle | Jum'at, 04 September 2026 | 12:10 WIB

×