- Superbank cetak laba Rp99,68 miliar, tapi baru pertama kali untung.
- Rp1,4 triliun dana IPO masih parkir di instrumen pasar uang.
- Ekspansi kredit 50% jadi tantangan Superbank menjaga kualitas aset.
Suara.com - PT Super Bank Indonesia Tbk (Superbank) akhirnya berhasil mencetak laba bersih pada 2025. Namun, di balik capaian positif tersebut, bank digital berkode saham SUPA ini masih menghadapi sejumlah pekerjaan rumah, terutama dalam mengoptimalkan dana hasil penawaran umum perdana saham (IPO) dan menjaga ekspansi kredit agar tidak berubah menjadi tekanan kualitas aset.
Berdasarkan Laporan Tahunan 2025 yang dikutip pada laman keterbukaan informasi, Sabtu (5/9/2026) Superbank membukukan laba bersih Rp99,68 miliar sepanjang 2025. Angka tersebut memang berbalik positif dibandingkan rugi bersih Rp366,4 miliar pada 2024 dan Rp385,1 miliar pada 2023.
Meski demikian, laba tersebut menjadi laba tahunan pertama Superbank sejak aplikasinya diluncurkan secara luas kepada publik pada Juni 2024. Artinya, bank masih berada pada fase awal pembuktian model bisnis digitalnya.
Kinerja positif Superbank juga tidak terlepas dari ekspansi neraca yang cukup agresif. Total aset pada akhir 2025 melonjak 87% secara tahunan menjadi Rp21,28 triliun, dari Rp11,40 triliun pada 2024.
Sementara itu, penyaluran kredit mencapai Rp9,6 triliun atau tumbuh 50% dibandingkan tahun sebelumnya.
Pertumbuhan kredit yang cepat menjadi salah satu hal yang perlu dicermati. Pasalnya, semakin agresif ekspansi pembiayaan, semakin besar pula tantangan bank untuk memastikan pertumbuhan tersebut tetap menghasilkan kualitas aset yang sehat.
Untuk saat ini, Superbank masih mampu menjaga rasio kredit bermasalah. NPL gross berada di level 2%, sedangkan NPL net sebesar 0,7%. Rasio kecukupan modal juga sangat tinggi, yakni 93%.
Namun, kinerja tersebut tetap perlu diuji ketika ekspansi kredit semakin besar dan bank mulai memasuki segmen ritel serta UMKM secara lebih luas.
Sorotan lain datang dari aksi IPO Superbank yang berlangsung pada 17 Desember 2025. Perseroan melepas 4,41 miliar saham dengan harga Rp635 per saham dan memperoleh dana bersih sekitar Rp2,7 triliun.
Dari dana tersebut, baru sekitar Rp1,3 triliun yang telah direalisasikan untuk memperkuat modal kerja guna mendukung ekspansi kredit.
Sementara itu, sekitar Rp1,4 triliun masih ditempatkan sementara pada instrumen pasar uang yang aman dan likuid.
Dengan kata lain, lebih dari separuh dana IPO yang tersisa belum diarahkan ke ekspansi bisnis utama hingga akhir 2025. Kondisi ini menjadi tantangan bagi manajemen untuk membuktikan bahwa modal baru dari pasar modal tersebut benar-benar mampu menghasilkan pertumbuhan dan keuntungan yang berkelanjutan.
Perseroan juga belum membagikan dividen kepada pemegang saham hingga akhir 2025. Bagi investor yang mengincar keuntungan tunai, kondisi tersebut berarti imbal hasil investasi masih sangat bergantung pada potensi apresiasi harga saham.
Di pasar modal, saham SUPA memang sempat menunjukkan performa kuat setelah IPO. Pada akhir Desember 2025, saham tersebut ditutup di level Rp935, jauh di atas harga penawaran Rp635.
Dengan jumlah saham beredar 33,9 miliar lembar, kapitalisasi pasar Superbank mencapai sekitar Rp31,69 triliun per 30 Desember 2025.