- Laba SMGR melonjak 471% menjadi Rp228 miliar.
- Penjualan semen naik 5,6% menjadi 18,28 juta ton.
- SMGR bidik 89% potensi bisnis bahan bangunan di luar semen.
Suara.com - PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SIG) berhasil menjaga momentum pertumbuhan di tengah dinamika industri bahan bangunan. Hingga semester I-2026, produsen emiten semen dengan ticker SMGR ini membukukan lonjakan laba bersih hingga 471% secara tahunan (year on year/yoy).
Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian semester I-2026 yang telah melalui limited review, SIG mencatatkan laba periode berjalan yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp228 miliar, melonjak dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Pertumbuhan laba tersebut berjalan seiring dengan penguatan kinerja operasional. SIG mencatat volume penjualan semen dan produk terkait mencapai 18,28 juta ton, naik 5,6% yoy dibandingkan semester I-2025 yang berada di level 17,31 juta ton.
Dari sisi pendapatan, SIG membukukan Rp17,65 triliun, tumbuh 13,1% yoy dari Rp15,61 triliun pada periode sebelumnya.
Corporate Secretary SIG, Vita Mahreyni, mengatakan pertumbuhan penjualan terutama ditopang oleh meningkatnya permintaan semen domestik.
"Volume penjualan positif pada semester I tahun 2026 adalah buah transformasi strategi penjualan pasar mikro yang dijalankan melalui penguatan retail sales dengan mempertajam pola bisnis hingga menjangkau toko-toko bangunan," ujar Vita.
Penjualan domestik SIG tercatat tumbuh 9,7% yoy, dengan segmen semen kantong menjadi salah satu motor utama. Penjualan semen kantong bahkan melonjak 11,2% yoy.
SIG memperkuat penetrasi pasar dengan meningkatkan kehadiran merek di tingkat toko serta memperkuat product knowledge. Perseroan juga menggandeng tenaga konstruksi melalui program Akademi Jago Bangunan, termasuk pelatihan dan sertifikasi ahli bangunan.
Kenaikan pendapatan SIG tidak serta-merta membuat biaya ikut melonjak dengan laju yang sama. Perseroan mencatat beban pokok pendapatan sebesar Rp13,85 triliun, naik 11,1% yoy.
Kenaikan tersebut terjadi di tengah meningkatnya volume penjualan dan biaya bahan bakar serta energi.
Sementara itu, beban operasional, termasuk pendapatan dan beban operasional lainnya, meningkat 20,7% yoy. Kenaikan terutama berasal dari biaya promosi dan distribusi yang mengikuti pertumbuhan volume penjualan.
Meski demikian, SIG mampu mempertahankan EBITDA sebesar Rp2,15 triliun, naik 2,6% yoy.
Salah satu penopang perbaikan laba berasal dari sisi keuangan. SIG terus memperkuat arus kas dan permodalan untuk menjaga likuiditas sekaligus menekan utang.
Arus kas operasi yang positif membuat perseroan mampu terus menurunkan saldo utang. Dampaknya, beban keuangan bersih pada semester I-2026 turun 34,5% yoy, seiring penurunan utang berbunga.