- INACA memproyeksikan kerugian industri penerbangan mencapai Rp10 miliar hingga Rp19 miliar per hari akibat erupsi Gunung Anak Krakatau.
- Erupsi tersebut menyebabkan abu vulkanik yang melumpuhkan aktivitas penerbangan serta mengganggu operasional di Bandara Soekarno-Hatta dan Bandara Radin Inten II.
- Maskapai melakukan mitigasi berupa pengalihan jalur terbang, koordinasi dengan instansi terkait, serta penyediaan opsi pengembalian dana bagi penumpang.
Suara.com - Asosiasi Perusahaan Penerbangan Nasional Indonesia (INACA) memproyeksikan potensi kerugian industri penerbangan akibat erupsi Gunung Anak Krakatau mencapai Rp10 miliar hingga Rp19 miliar per hari.
Estimasi kerugian ini imbas penyebaran abu vulkanik memicu Volcanic Ash Advisory (VAA) di wilayah ruang udara (Flight Information Region/FIR) Jakarta. Sehingga, memicu lumpuhnya aktivitas penerbangan di Bandara Soekarno-Hatta (CGK) dan Bandara Radin Inten II Lampung (TKG).
Sekretaris Jenderal INACA Bayu Sutanto menjelaskan bahwa dampak operasional langsung akibat abu vulkanik meliputi pembatalan, penundaan (delay), hingga pengalihan rute (divert).
Jika status gunung berada pada Level III (Siaga) dengan kode warna penerbangan Orange, sekitar 15–25 persen penerbangan dari CGK dan 40–60 persen penerbangan dari TKG berpotensi terganggu setiap hari.
"Kerugian maskapai saat IROP abu vulkanik itu 'double': pendapatan hilang dan biaya naik," ujar Bayu saat dihubungi Suara.com pada Selasa (8/9/2026).

Ia memaparkan, rincian potensi kerugian harian tersebut mencakup hilangnya pendapatan akibat pembatalan 30–50 penerbangan sebesar Rp8 miliar hingga Rp15 miliar, biaya operasional tambahan sebesar Rp1,5 miliar hingga Rp3 miliar, serta kompensasi layanan penumpang sebesar Rp500 juta hingga Rp1,2 miliar.
Jika gangguan berlangsung hingga satu pekan, total kerugian diperkirakan mencapai Rp70 miliar hingga Rp130 miliar.
Bayu menambahkan, pembatalan penerbangan menjadi pemicu kerugian terbesar bagi industri penerbangan.
"Pendapatan Hilang karena Cancel jauh lebih besar no-show. Ini (menyumbang) 50-60 persen persen dari total kerugian. Kursi yang sudah terjual tapi tidak terbang membuat revenue langsung hangus. Refund juga bikin cashflow keluar," kata Bayu.
Selain kehilangan pendapatan, maskapai harus menanggung biaya pemeliharaan mesin (borescope check) yang berkisar antara 20.000 dolar AS hingga 50.000 dolar AS per mesin setelah pesawat melintasi area yang terpapar abu vulkanik.
Untuk meminimalkan dampak operasional, maskapai penerbangan melakukan sejumlah tindakan mitigasi, seperti pengalihan jalur terbang melalui utara Jawa, koordinasi berkala bersama AirNav dan BMKG, pengisian bahan bakar cadangan (tankering fuel) di bandara yang aman, serta penyediaan opsi pengembalian dana (refund) penuh dan penjadwalan ulang bagi penumpang.
Mengingat posisi Bandara Soekarno-Hatta sebagai pusat penghubung (hub) penerbangan nasional, gangguan operasional di kawasan tersebut berpotensi mempengaruhi hingga 40 persen jaringan penerbangan domestik.
Guna menjaga kelancaran transportasi udara, INACA merekomendasikan perpanjangan jam operasional bandara alternatif serta relaksasi slot penerbangan bagi maskapai terdampak.