- Dewi Natalia, seorang Mantri BRI Unit Natal, mengelola portofolio kas dan mendampingi ratusan debitur mikro.
- Sejak 2012, Dewi konsisten mengedukasi pedagang pasar tradisional untuk melepaskan diri dari jeratan rentenir.
- Dewi menolak tawaran kerja sama rentenir demi melindungi nasabah serta menjaga integritas dan nama baik BRI.
Suara.com - Seiring kian ketatnya tantangan ekonomi dan dorongan untuk meningkatkan inklusi keuangan di wilayah pedesaan Indonesia, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) terus membuktikan komitmennya melalui peran nyata para Mantri di lapangan. Salah satu sosok inspiratif yang mewujudkan nilai-nilai integritas dan pelayanan tulus tersebut adalah Dewi Natalia, seorang Mantri tangguh yang telah mendedikasikan hidupnya selama 14 tahun bersama BRI.
Saat ini bertugas di BRI Unit Natar di bawah supervisi BRI Unit Natar Panca Teluk Betung, Kantor Wilayah Bandar Lampung , Dewi mengelola portofolio kas miliaran rupiah dengan 380 debitur mikro aktif yang terus ia dampingi.
Perjalanan pengabdiannya merupakan potret nyata bagaimana seorang insan BRILiaN mampu menggerakkan roda ekonomi lokal sekaligus menjadi benteng perlindungan bagi masyarakat dari praktik keuangan yang merugikan.
Berjuang dari Titik Nol Demi Kontribusi Nyata
Perjalanan Dewi dimulai pada Februari 2011, ketika ia pertama kali diterima bekerja di BRI sebagai Customer Service (CS). Dorongan kuat untuk memberikan dampak lebih besar serta kecintaan mendalam pada instansi membawanya untuk mendaftar sebagai Mantri pada tahun 2012.
Melalui perjuangan yang tidak mudah—termasuk harus mengikuti seleksi ketat di Palembang hingga dua kali percobaan—Dewi akhirnya berhasil membuktikan komitmennya.
Tugas pertamanya sebagai Mantri menempatkannya di BRI Unit Sendang Agung, Lampung Tengah, sebuah unit kerja baru yang menuntutnya untuk bergerak cepat membangun basis nasabah secara door-to-door.
Menjadi Penyelamat dari Jerat Rentenir di Pasar Tradisional
Saat bertugas di Sendang Agung, wilayah pedesaan terpencil yang saat itu belum akrab dengan layanan perbankan formal, Dewi mendapati kenyataan memprihatinkan. Banyak pedagang pasar tradisional kecil terjerat oleh praktik rentenir dengan bunga mencekik.
Melihat kondisi tersebut, integritas Dewi sebagai bankir rakyat terpanggil. Secara konsisten, ia berbaur dan melakukan edukasi keuangan langsung kepada para pedagang. Perlahan namun pasti, Dewi memperkenalkan solusi pembiayaan mikro yang aman, transparan, dan terjangkau dari BRI.
"Saya masuk mengedukasi pedagang-pedagang pasar... Kita kasih pinjaman sehingga mereka terlepas dari rentenir itu. Bagi saya pribadi, ada rasa bangga yang luar biasa ketika melihat mereka yang awalnya kesulitan, kini bisa mandiri berkat akses perbankan yang layak," ungkap Dewi, Selasa (8/9/2026).
Langkah berani Dewi bukan tanpa hambatan. Keberhasilannya mengalihkan para pedagang ke layanan BRI sempat memicu kemarahan para rentenir lokal hingga menimbulkan situasi "perang dingin" di area pasar.
Bahkan, salah satu pihak rentenir sempat membujuknya untuk melakukan kerja sama tidak resmi. Namun, dengan integritas kokoh yang dijunjung tinggi, Dewi menolak tegas tawaran tersebut demi melindungi kepentingan para nasabah dan nama baik BRI.
Dedikasi dan Komitmen
Bagi Dewi, bekerja sebagai Mantri BRI bukan sekadar profesi mencari nafkah, melainkan sebuah panggilan jiwa yang telah menjadi bagian dari dirinya. "BRI sudah menjadi darah daging bagi saya selama hampir 15 tahun ini," ujarnya penuh haru.