- BPS terus menyempurnakan metode pemodelan Proxy Means Testing untuk memetakan peringkat kesejahteraan masyarakat dalam DTSEN pada Jumat (11/9/2026).
- Penelitian menunjukkan model PMT memiliki tingkat kesalahan sekitar 29 persen yang mencakup kesalahan sasaran penerima maupun yang terlewat.
- Kementerian Sosial menyatakan pemerintah menggunakan metode proksi aset karena pendapatan dan pengeluaran penduduk sulit diketahui secara langsung.
"Makanya kemudian metodenya pakai yang disebut menebak atau proxy. Ditebak pakai PMT (Proxy Means Testing)," kata Andi dalam diskusi tersebut.
Melalui metode itu, pemerintah menggunakan sejumlah indikator sebagai proksi untuk memperkirakan kondisi ekonomi masyarakat.
"Apa yang dilihat? Tanahnya, asetnya, dindingnya, rumahnya," ujarnya.
Andi mengatakan, cara paling sederhana untuk menentukan kelayakan seseorang menerima bantuan sosial sebenarnya adalah dengan mengetahui secara langsung pendapatan dan pengeluarannya.
Namun, pendekatan tersebut sulit diterapkan karena banyak aktivitas ekonomi masyarakat Indonesia yang tidak tercatat secara formal.
Pemerintah juga menghadapi risiko ketidakakuratan apabila hanya mengandalkan pengakuan masyarakat mengenai pendapatan dan pengeluaran.
Menurut Andi, seseorang dapat memberikan jawaban berbeda tergantung kepentingan pendataan yang sedang dilakukan.