Polemik Desil, Banyak Orang Terlihat Mampu tapi Sebenarnya Terlilit Utang

Achmad Fauzi, Fakhri Fuadi Muflih

Jum'at, 11 September 2026 | 18:24 WIB
Polemik Desil, Banyak Orang Terlihat Mampu tapi Sebenarnya Terlilit Utang
Direktur Kebijakan Publik Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Media Wahyudi Askar. [Suara.com/Fakhri Fuadi Muflih].
baca 10 detik
  • Direktur CELIOS Media Wahyudi Askar mengkritik penggunaan sistem desil dalam diskusi di Jakarta pada Jumat, 11 September 2026.
  • Media menyatakan kemiskinan bersifat multidimensional sehingga tidak dapat diukur hanya melalui perankingan tingkat kesejahteraan seperti sistem akademik.
  • Pemerintah didorong menggunakan data pendapatan tersisa yang akurat agar penyaluran bantuan sosial tepat sasaran.

Suara.com - Direktur Kebijakan Publik Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Media Wahyudi Askar mengkritik penggunaan sistem desil untuk mengelompokkan tingkat kesejahteraan masyarakat dalam menentukan sasaran bantuan sosial (bansos).

Media menilai kemiskinan tidak bisa sekadar diurutkan atau di-ranking berdasarkan tingkat kesejahteraan seperti sistem penilaian akademik.

Sebab, persoalan kemiskinan memiliki banyak dimensi dan kondisi setiap masyarakat tidak selalu bisa digambarkan hanya melalui satu peringkat.

"Ini bukan mahasiswa yang bisa di-ranking IP-nya. Mengukur kemiskinan itu multidimensional dan ada lapisannya," kata Media dalam diskusi publik bertajuk Metodologi Penentuan Desil dan Pengukuran Kemiskinan di Indonesia yang diselenggarakan BPS di Jakarta, Jumat (11/9/2026).

Ilustrasi desil 1-10 (ChatGPT)
Ilustrasi desil 1-10 (ChatGPT)

Menurut dia, pemerintah perlu melihat persoalan kemiskinan secara lebih mendalam sebelum menentukan bentuk intervensi kepada masyarakat.

Media menjelaskan, terdapat masyarakat yang miskin karena tidak memiliki cukup pendapatan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Untuk kelompok tersebut, kebijakan yang paling tepat adalah meningkatkan kemampuan ekonominya secara langsung.

"Lapisan pertama, orang miskin karena tidak punya uang. Intervensinya tambahkan uang, seperti Conditional Cash Transfer. PKH (Program Keluarga Harapan) adalah program paling kuat dampaknya," ujarnya.

Namun, persoalan kemiskinan, kata Media, tidak berhenti pada kemampuan masyarakat memiliki uang. Kondisi ekonomi seseorang juga dapat dipengaruhi berbagai beban pengeluaran yang tidak selalu terlihat dalam data kepemilikan aset.

Ia mencontohkan masyarakat yang secara kasat mata terlihat mampu, tetapi sebenarnya memiliki kondisi keuangan yang rapuh karena harus menanggung utang untuk membiayai kebutuhan penting.

baca juga

Karena itu, Media mendorong pemerintah memiliki data pendapatan dan pengeluaran masyarakat yang lebih mencerminkan kondisi sebenarnya.

"Kita butuh disposable income, pendapatan tersisa setelah utang dikeluarkan. Banyak orang terlihat mampu, tapi pengeluaran pendidikan dan kesehatannya hasil dari utang pinjol atau jual sawah," ungkapnya.

Menurut Media, data pendapatan yang akurat menjadi salah satu faktor penting agar pemerintah tidak keliru dalam membaca kondisi kesejahteraan masyarakat.

Ia mengingatkan, sistem statistik secanggih apa pun tidak akan menghasilkan keputusan yang tepat apabila data dasar yang digunakan tidak menggambarkan kondisi sebenarnya.

"Metodologi yang digunakan, Proxy Means Testing (PMT), itu memang sudah best practice di banyak negara, Kolombia, Filipina. Tapi atraksi statistiknya terlalu berbahaya menurut saya. Menggunakan database yang rentan dengan garbage in, garbage out," ujarnya.

Media mengatakan pemerintah memang membutuhkan sistem untuk mengelompokkan masyarakat dalam rangka menentukan sasaran berbagai program perlindungan sosial.

Namun, sistem tersebut harus terus diperbaiki dan tidak diperlakukan sebagai ukuran mutlak untuk menentukan siapa yang miskin dan siapa yang tidak.

"Kita tidak boleh jadi negara yang denial. Ciri negara miskin adalah negara yang tidak mengakui penduduknya miskin. Mari kita akui saja kelemahan ini. Kita butuh kenegarawanan untuk tidak mempolitisasi bantuan sosial," pungkasnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

PT PP dan Bank Sepakati Penyesuaian Pembayaran Utang

PT PP dan Bank Sepakati Penyesuaian Pembayaran Utang

Bisnis | Jum'at, 11 September 2026 | 15:51 WIB

Punya Data Angka Kemiskinan yang Beda Jauh dengan Bank Dunia, Ini Alasan BPS

Punya Data Angka Kemiskinan yang Beda Jauh dengan Bank Dunia, Ini Alasan BPS

Bisnis | Jum'at, 11 September 2026 | 14:02 WIB

Bansos Beras 30 Kg Pakai Data Desil Terbaru, Cair Juli-September 2026

Bansos Beras 30 Kg Pakai Data Desil Terbaru, Cair Juli-September 2026

Bisnis | Kamis, 10 September 2026 | 21:13 WIB

Terkini

Siap Sambut Pengunjung Mulai 2 November, Eiger Nature Wadahi Konservasi dan Pemberdayaan Warga Bogor

Siap Sambut Pengunjung Mulai 2 November, Eiger Nature Wadahi Konservasi dan Pemberdayaan Warga Bogor

Bogor | Rabu, 28 Oktober 2026 | 00:28 WIB

Kapolres Bogor: Terduga Pelaku Pembunuh Bobotoh Cilik Bukan Suporter Bola

Kapolres Bogor: Terduga Pelaku Pembunuh Bobotoh Cilik Bukan Suporter Bola

Jabar | Rabu, 28 Oktober 2026 | 00:05 WIB

13 Hari Kasus Pengeroyokan Jurnalis Palembang Belum Tuntas, Koalisi Pers Desak Kapolda Dicopot

13 Hari Kasus Pengeroyokan Jurnalis Palembang Belum Tuntas, Koalisi Pers Desak Kapolda Dicopot

Sumsel | Selasa, 27 Oktober 2026 | 23:58 WIB

Pimpinan Natura City Disebut Tak Akan Hadiri Mediasi Sengketa Tanah 14 Hektare di Bogor

Pimpinan Natura City Disebut Tak Akan Hadiri Mediasi Sengketa Tanah 14 Hektare di Bogor

News | Selasa, 27 Oktober 2026 | 23:42 WIB

Palembang hingga OKI Diguyur Hujan Buatan, TNI AU Kerahkan Hercules dan Casa untuk Atasi Karhutla

Palembang hingga OKI Diguyur Hujan Buatan, TNI AU Kerahkan Hercules dan Casa untuk Atasi Karhutla

Sumsel | Selasa, 27 Oktober 2026 | 23:38 WIB

Natura City Tolak Proposal Damai PT SIR dalam Sengketa Tanah 14 Hektare di Gunung Sindur

Natura City Tolak Proposal Damai PT SIR dalam Sengketa Tanah 14 Hektare di Gunung Sindur

News | Selasa, 27 Oktober 2026 | 23:35 WIB

Tekanan Outflow Asing, Investor Diminta Hati-hati Pilih Saham Perbankan

Tekanan Outflow Asing, Investor Diminta Hati-hati Pilih Saham Perbankan

Bisnis | Selasa, 27 Oktober 2026 | 22:55 WIB

Bukan Sekadar Jualan, UMKM Kuliner Semarang Diajak Ubah Chat WhatsApp Jadi Omzet

Bukan Sekadar Jualan, UMKM Kuliner Semarang Diajak Ubah Chat WhatsApp Jadi Omzet

Jawa Tengah | Selasa, 27 Oktober 2026 | 22:53 WIB

Sekolah IGM Palembang Tunggak PBB Sejak 2019, Tagihan Capai Rp2,18 Miliar

Sekolah IGM Palembang Tunggak PBB Sejak 2019, Tagihan Capai Rp2,18 Miliar

Sumsel | Selasa, 27 Oktober 2026 | 22:46 WIB

Satu Tahun Sekolah Rakyat Berjalan, Pemerintah Terus Berupaya Benahi Layanan Siswa

Satu Tahun Sekolah Rakyat Berjalan, Pemerintah Terus Berupaya Benahi Layanan Siswa

News | Selasa, 27 Oktober 2026 | 22:32 WIB

×