- IHSG diproyeksikan berpeluang mencetak penguatan teknikal pada perdagangan Senin, 14 September 2026, yang didorong oleh sentimen positif Wall Street.
- Analis Kiwoom Sekuritas Oktavianus Audi memperkirakan indeks domestik tersebut berpotensi mengalami pembalikan arah dengan mempertahankan level support 6.478.
- Pergerakan pasar global turut dipengaruhi inflasi AS yang mencapai 3,4 persen sehingga memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed.
Suara.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan memiliki peluang besar untuk mencetak penguatan atau rebound teknikal pada pembukaan perdagangan awal pekan ini, Senin (14/9/2026).
Optimisme pergerakan indeks acuan bursa domestik ini banyak ditopang oleh sentimen positif dari menghijaunya bursa Wall Street Amerika Serikat (AS), meskipun pada akhir pekan lalu IHSG sempat tergelincir turun sebesar 0,73 persen.
Penurunan sebelumnya turut diwarnai aksi jual bersih (net sell) oleh investor asing yang mencapai Rp733 miliar, dengan sasaran pelepasan pada saham-saham berkapitalisasi raksasa seperti BBCA, CUAN, CPIN, ADRO, dan BBNI.
VP Equity Retail Kiwoom Sekuritas Indonesia, Oktavianus Audi, membedah indikasi teknikal yang memperlihatkan peluang pembalikan arah pergerakan IHSG yang ditopang pertahanan level support.
"Untuk awal pekan depan kami perkirakan berpotensi terjadi technical rebound dengan terbentuk pola hammer dari candlestick dan mempertahankan support MA10/6.533," ujar Oktavianus dalam risetnya, Senin (14/9/2026).
Ia menetapkan rentang level penahan (support) IHSG berada di kisaran 6.478 dengan titik resistensi (resistance) di 6.600. Meski demikian, pemodal tetap diminta waspada terhadap indikator Relative Strength Index (RSI) yang masih bergerak melandai turun.
Dari kacamata makroekonomi global, laju inflasi AS yang masih membandel diperkirakan akan menjadi faktor penentu arus modal. Data Consumer Price Index (CPI) AS tercatat berada di level 3,4 persen secara tahunan (year on year/yoy), sebagian besar dipicu oleh kembali melonjaknya harga bensin dalam sebulan terakhir.
Situasi ini kian memperkuat ekspektasi pasar bahwa bank sentral AS, The Fed, akan segera mengambil langkah kebijakan moneter yang lebih agresif.
"Pasar akan dipengaruhi sentimen pascarilis data inflasi AS yang belum menunjukkan relaksasi per Agustus 2026 dan mendorong peluang estimasi The Fed akan menaikkan suku bunga sebesar 87 persen atau naik 25 bps pada pertemuan September 2026. Hal ini akan cenderung direspons negatif oleh pasar," jelasnya.
Head of Retail Research MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, turut memproyeksikan sentimen penguatan teknikal yang senada di lantai bursa tanah air.
"Kami perkirakan IHSG berpeluang menguat dengan support 6.500 dan resistance 6.561," kata Herditya.
Ia juga menyoroti pergerakan agresif imbal hasil obligasi pemerintah AS (US Treasury yield) yang kini merangkak mendekati level psikologis 5 persen akibat sikap hawkish The Fed.
![Indonesia Stock Exchange (IDX) [Suara.com/Hadi/Ist]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2025/12/04/66166-ihsg-bursa-efek-idx.jpg)
"UST yield yang mendekati angka 5 persen, apabila terus meningkat maka diperkirakan emerging market akan kurang menarik karena US bond makin atraktif," ujar Herditya.
Kinerja pasar modal dunia sendiri memperlihatkan anomali yang cukup kontras akibat fluktuasi komoditas energi. Bursa Wall Street AS kompak menghijau ditopang saham sektor teknologi. Indeks S&P 500 melesat 0,86 persen, Nasdaq menguat 0,96 persen, dan Dow Jones naik 0,98 persen.
Saham emiten server Artificial Intelligence (AI) seperti Dell dan Hewlett Packard Enterprise kompak melambung 12 persen, disusul HP yang menguat 8,4 persen imbas kinerja impresif kuartalan Oracle, meski saham Oracle sendiri justru tergelincir 1,8 persen.