- Nilai tukar rupiah melemah ke level Rp17.933 per dolar Amerika Serikat pada perdagangan Jumat, 25 September 2026.
- Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan bahwa pemerintah terus memantau fluktuasi nilai tukar tersebut di Jakarta.
- Pelemahan mata uang rupiah dipicu oleh penguatan indeks dolar Amerika Serikat serta kenaikan imbal hasil obligasi negara tersebut.
Suara.com - Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Pada perdagangan Jumat (25/9/2026), rupiah dibuka di level Rp17.933 per dolar AS, melemah 17 poin atau 0,09 persen dari penutupan sebelumnya Rp17.916 per dolar AS.
Pelemahan rupiah tersebut membawa nilai tukar mata uang Garuda semakin mendekati level Rp18.000 per dolar AS.
Kondisi ini menjadi perhatian karena terjadi ketika sebagian besar mata uang Asia justru bergerak menguat terhadap dolar AS pada awal perdagangan Jumat.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto mengatakan, pemerintah terus memantau pergerakan nilai tukar rupiah. Menurut dia, fluktuasi nilai tukar merupakan hal yang biasa.
"Ya, kita lihat, kita monitor. Kan fluktuasi itu sesuatu yang biasa, ya," ujar Airlangga di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Jumat (25/9/2026).
Berdasarkan data Bank Indonesia (BI), kurs JISDOR pada Kamis (24/9/2026) berada di level Rp17.898 per dolar AS. Posisi tersebut naik dibandingkan Rp17.803 pada hari sebelumnya.
![Rupiah dan dolar Amerika Serikat. [Antara]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/07/22/69861-rupiah-dan-dolar.jpg)
Dengan demikian, tekanan terhadap rupiah tidak hanya terlihat dari perdagangan pasar spot pada Jumat pagi, tetapi juga tercermin dari pergerakan kurs referensi BI dalam beberapa hari terakhir.
Pada 23 September, JISDOR berada di level Rp17.803 per dolar AS. Sehari sebelumnya berada di Rp17.883, sedangkan pada 21 September tercatat Rp17.813. Pada 18 September, JISDOR berada di level Rp17.745 per dolar AS.
Sementara itu, tekanan terhadap rupiah juga terjadi di tengah meningkatnya ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan suku bunga AS.
Analis yang dikutip sejumlah media menilai penguatan dolar dan kenaikan imbal hasil obligasi AS turut memberikan tekanan terhadap mata uang negara-negara berkembang.
Di kawasan Asia, kondisi pergerakan mata uang pada Jumat pagi tidak seragam.
Berdasarkan data yang dikutip Suara.com, won Korea Selatan menguat 0,75 persen, ringgit Malaysia naik 0,26 persen, yen Jepang menguat 0,25 persen, dan baht Thailand naik 0,20 persen. Dolar Taiwan serta peso Filipina juga menguat masing-masing 0,17 persen dan 0,11 persen.
Analis Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan, rupiah masih berpotensi berada dalam tekanan akibat penguatan indeks dolar AS dan kenaikan imbal hasil obligasi AS.
Namun, dia melihat perkembangan hubungan Amerika Serikat dan Iran serta pergerakan harga minyak dunia dapat menjadi faktor yang menahan tekanan terhadap rupiah.
Sebelumnya, rupiah juga telah mengalami tekanan dalam beberapa hari terakhir. Data JISDOR BI menunjukkan nilai rupiah berada di Rp17.611 per dolar AS pada 11 September, kemudian bergerak ke Rp17.635 pada 14 September dan Rp17.687 pada 15 September. Posisi tersebut terus bergerak hingga mencapai Rp17.898 pada 24 September.