- Pada Senin 21 September, rupiah dibuka melemah ke level Rp17.791 per dolar AS.
- Pelemahan rupiah diakibatkan oleh sentimen domestik terkait keputusan suku bunga Bank Indonesia.
- Analis memperkirakan rupiah berpotensi terus melemah di kisaran Rp17.700 hingga Rp17.850.
Suara.com - Mata uang Garuda terus tertekan pada awal pekan ini. Rupiah mencatatkan pelemahan paling dalam di Asia.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah pada Senin 21 September dibuka ke level Rp17.791 per dolar Amerika Serikat (AS). Angka ini melemah 33 poin atau turun 0,12 persen dibandingkan hari sebelumnya yang ada di Rp17.731 per dolar AS.
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong mengatakan pelemahan disebabkan oleh sentimen domestik. Salah satunya, mengenai keputusan Rapat Dewan Gubernur (RDG) mengenai suku bunga.
"Rupiah diperkirakan masih berpotensi melemah terhadap dolar AS di tengah naiknya imbal hasil obligasi AS oleh prospek kenaikan suku bunga the Fed yang memberikan tekanan pada BI menjelang Rapat Dewan Gubernur BI rabu ini. Range ada di sekitar Rp 17.700-Rp17.850," jelasnya.
Di Asia, mayoritas mata uang menguat terhadap dolar AS pagi ini. Dolar Taiwan mencatat penguatan terbesar yakni 0,31 persen, disusul won Korea yang menguat 0,25 persen, baht Thailand menguat 0,12 persen, ringgit Malaysia menguat 0,11 persen.
![Ilustrasi Yen. [Pixabay]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2025/10/06/44017-ilustrasi-yen.jpg)
Lalu ada yen Jepang menguat 0,08 persen, dolar Singapura menguat 09,05 persen. Sedangkan mata uang Asia yang melemah ada peso Filipina yang anjlok 0,04 persen dan dolar Hong Kong yang melemah 0,003 persen.