- Tenggara Strategics dan CSIS merilis penelitian di IISF 2026 Jakarta bahwa permintaan listrik Indonesia melonjak hingga 1.813 TWh pada 2060.
- Lonjakan konsumsi listrik tersebut didorong oleh sektor rumah tangga, kendaraan listrik, hilirisasi industri, serta ekspansi pusat data nasional.
- PLN menyiapkan penyediaan energi hijau secara bertahap melalui program energi surya untuk memenuhi proyeksi lonjakan kebutuhan listrik masa depan.
Suara.com - Permintaan listrik Indonesia diproyeksikan meningkat lebih dari tiga kali lipat dalam 35 tahun ke depan, dari 539 terawatt-hour (TWh) pada 2025 menjadi 1.813 TWh pada 2060.
Peningkatan kebutuhan listrik tersebut diperkirakan berasal dari sejumlah sektor, mulai dari rumah tangga, kendaraan listrik (EV), hingga pengembangan industri hilir dan pusat data.
Kebutuhan listrik yang semakin besar juga dinilai menjadi salah satu faktor pendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Penelitian Tenggara Strategics dan Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Indonesia mencatat sekitar 28 persen permintaan listrik pada 2060 akan berasal dari sektor rumah tangga. Sementara kendaraan listrik diperkirakan menyumbang sekitar 11 persen dari total permintaan listrik.
Penelitian tersebut disampaikan dalam Indonesia International Sustainability Forum (IISF) 2026 di Jakarta.
Hasil penelitian itu menunjukkan, salah satu sumber pertumbuhan permintaan listrik dari rumah tangga berasal dari rencana konversi penggunaan kompor LPG ke kompor induksi atau kompor listrik.
Jika program tersebut diterapkan secara penuh, kebutuhan listrik baru diperkirakan mencapai 27,62 gigawatt (GW) hingga 53,43 GW, tergantung tingkat efisiensi kompor induksi yang digunakan.
Permintaan listrik dari program tersebut berpotensi menjadi salah satu sumber konsumsi listrik yang relatif stabil. Kondisi ini juga dapat mendukung pengembangan pembangkit energi terbarukan, termasuk program energi surya berkapasitas 100 GWp.
Dari sisi energi rumah tangga, penggunaan LPG saat ini masih memiliki porsi cukup besar. Sekitar 41,46 persen konsumsi energi rumah tangga berasal dari LPG. Sementara kebutuhan LPG nasional masih banyak dipenuhi melalui impor, yakni sekitar 77,6 persen.
Konversi ke kompor induksi berpotensi mengurangi kebutuhan impor LPG sekaligus menekan kebutuhan subsidi energi, terutama jika menggunakan perangkat dengan tingkat efisiensi tinggi.
Selain rumah tangga, elektrifikasi transportasi menjadi sumber pertumbuhan permintaan listrik lainnya. Pada 2025, sekitar 23.660 kiloliter atau 65 persen konsumsi bensin nasional masih dipenuhi melalui impor.
Penambahan 1 juta kendaraan listrik diperkirakan dapat menghemat sekitar 1.250 kiloliter konsumsi bensin per tahun. Pengembangan industri kendaraan listrik di dalam negeri juga diperkirakan berpotensi menciptakan hingga 500.000 lapangan kerja baru.
Kebutuhan listrik juga diperkirakan meningkat seiring dengan ekspansi industri, terutama sektor hilirisasi mineral. Berdasarkan RUPTL 2025-2034, hilirisasi nikel diperkirakan membutuhkan tambahan kapasitas pembangkit listrik captive sekitar 13,6 GW.
Sementara itu, sektor pusat data diproyeksikan meningkatkan kebutuhan listrik dari sekitar 640 megawatt (MW) pada awal 2026 menjadi 1,7 GW pada pertengahan 2027.
Direktur Eksekutif CSIS Indonesia, Yose Rizal Damuri mengatakan, peningkatan permintaan listrik perlu diikuti dengan kemampuan menyediakan energi yang lebih hijau.
Dari sisi penyediaan, PT PLN (Persero) menyatakan terus mempersiapkan kapasitas listrik untuk memenuhi pertumbuhan permintaan.

“PLN terus memastikan kesiapan penyediaan listrik untuk menjawab kebutuhan energi yang terus meningkat," ujar EVP Manajemen Aset dan Sistem Manajemen Terintegrasi PLN Tri Hardimasyar, dikutip Kamis (8/10/2026).
"Salah satu langkah yang kami lakukan adalah melalui pengembangan energi surya 100 GWp secara bertahap, yang pada fase pertama difokuskan untuk mengurangi konsumsi diesel di wilayah yang belum terintegrasi dengan jaringan listrik konvensional, melalui pengembangan PLTS atap maupun PLTS terapung,” tuturnya.
Di tempat yang sama, Direktur Konservasi Energi Ditjen EBTKE Kementerian ESDM, Gigih Udi Atmo, juga menekankan pentingnya aspek efisiensi dalam proses elektrifikasi.
"Efisiensi menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan agar elektrifikasi turut mendukung ketahanan energi," pungkas Gigih.