- Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani menetapkan harga jagung SPHP Rp5.000 per kilogram di Jakarta pada Jumat, 9 Oktober 2026.
- Pemerintah memberikan subsidi Rp3.000 per kilogram karena harga pasar sebelumnya telah melonjak mencapai Rp8.000 per kilogram untuk membantu peternak.
- Bulog mendistribusikan 15.000 ton jagung dari Tanjung Perak serta sentra produksi lain ke berbagai wilayah untuk menjaga ketersediaan stok pangan.
Suara.com - Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, memastikan harga jagung untuk peternak ayam melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) sebesar Rp5.000 per kilogram.
Harga tersebut lebih rendah Rp3.000 per kilogram dibandingkan harga pasar yang telah meroket hingga mencapai Rp8.000 per kilogram.
Rizal mengatakan, dari harga itu, pemerintah mensubsidi sebesar Rp3 ribu per kilogram jagung pakan ayam. Hal ini dilakukan setelah adanya keluhan dari para peternak soal melambungnya harga pakan belakangan ini.
“Untuk harga, sesuai dengan aturan pemerintah, tetap Rp5.000 di seluruh Indonesia untuk SPHP. Harga jagung SPHP per kilonya adalah Rp5.000. Pemerintah memberikan subsidi kurang lebih sekitar Rp3.000, karena harga pasaran jagung saat ini sudah naik hingga Rp8.000,” kata Rizal di Jakarta, Jumat (9/10/2026).
Rizal mengatakan, Bulog telah menggerakkan pasokan jagung dari sejumlah sentra produksi untuk memenuhi kebutuhan peternak. Sebanyak 15.000 ton jagung telah dibongkar di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, untuk selanjutnya disalurkan ke sejumlah wilayah di Pulau Jawa.
“Untuk yang bongkar di Tanjung Perak ini, akan kami distribusikan ke seluruh pulau Jawa dan dibagi tiga. Tiap provinsi akan mendapat 5.000 ton untuk minggu ini saja,” ujar Rizal.

Selain pasokan dari Tanjung Perak, Bulog mengandalkan pergerakan jagung dari Gorontalo, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Sulawesi Selatan. Untuk Lampung, Bulog tidak perlu mengirim jagung dari Pulau Jawa karena stok di wilayah tersebut sudah lebih dari 5.000 ton.
Rizal menyebut penyaluran jagung mulai dirasakan di sejumlah daerah, termasuk Blitar, Jawa Timur. Bulog juga terus mengirimkan pasokan ke kabupaten-kabupaten yang membutuhkan agar ketersediaan jagung bagi peternak terjaga.
“Ini sudah dirasakan perubahannya. Sebagai contoh di Blitar, hari ini sudah ada tambahan 5.000 ton dan sedang berjalan lagi 5.000 ton. Hampir di tiap kabupaten kita dorong ketersediaan hingga ratusan ton sekarang,” ucap Rizal.
Meski pasokan mulai bergerak, Bulog sempat menghadapi kendala distribusi akibat keterbatasan kapal dan penutupan sementara jalur penyeberangan Ketapang.
Rizal mengatakan, Bulog telah berkoordinasi dengan PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) dan PT ASDP Indonesia Ferry agar kapal pengangkut bahan pangan mendapat prioritas sandar.