- Pemerintah berencana mengevaluasi kuota ekspor gas 30 persen demi mencukupi kebutuhan bahan baku industri petrokimia domestik.
- Kalimantan Timur disiapkan sebagai lokasi pembangunan fasilitas industri petrokimia untuk mengurangi ketergantungan impor metanol tahunan.
- Perusahaan ENI meningkatkan produksi gas harian di Kalimantan Timur menjadi 750 juta standar kaki kubik per 1 November 2026.
Suara.com - Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi, sekaligus Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia mengungkap bahwa pemerintah akan mengevaluasi kuota ekspor gas sebesar 30 persen. Hal itu dilakukan guna memenuhi kebutuhan dalam negeri.
Selain itu, kata Bahlil, untuk mendorong hilirisasi petrokimia yang saat ini tengah dikembangkan.
"Ke depan, saya akan mencoba untuk melakukan exercise ulang agar mengoptimalkan untuk konsumsi dalam negeri, termasuk di dalamnya bahan baku. Karena ke depan kita mendorongkan industri hilirisasi di petrokimia. Bahan bakunya adalah gas," kata Bahlil di Kementerian ESDM yang dikutip pada Sabtu (24/10/2026).
Bahlil menjelaskan bahwa dari 100 persen hasil produksi gas dalam negeri, sebanyak 30 persen diperuntukkan untuk ekspor. Sementara 70 persen sisanya untuk memenuhi kebutuhan domestik.
"Kan total produksi kita 100 persen, itu masih ada kurang lebih sekitar 30 persen yang kita ekspor. 70 persen-nya itu untuk konsumsi domestik, termasuk di dalamnya adalah untuk produk, bahan baku hilirisasi," kata Bahlil.
Adapun salah satu daerah yang disiapkan untuk pembangunan industri petrokimia adalah Kalimantan Timur.

Pada kesempatan yang berbeda, Bahlil menjelaskan beberapa fasilitas yang akan dibangun mencakup pabrik amonia, blue ammonia, hingga metanol.
Kehadiran industri ini ditargetkan untuk menambal kebutuhan metanol dalam negeri yang selama ini masih mendominasi angka impor.
"Kita akan membangun di sini seperti amonia, blue ammonia, dan metanol. Ini kita butuh metanol banyak sekali karena kita masih impor metanol kurang lebih sekitar 2,7 juta ton per tahun. Jadi ini untuk kita membangun substitusi impor kita," ujar Bahlil di Balikpapan beberapa waktu lalu.
Pasokan gas bumi di Kaltim dipastikan mendapat tambahan dari proyek pengembangan yang dilakukan perusahaan migas asal Italia, ENI.
Lewat peresmian pengembangan Lapangan Jangkrik dan Blok Maha, produksi gas ENI bertambah sebesar 290 juta standar kaki kubik per hari (MMscfd). Kenaikan ini meningkatkan total produksi harian dari 450 MMscfd menjadi 750 MMscfd per 1 November 2026.