- Nilai tukar rupiah semakin tertekan terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
- Mata uang Paman Sam terus menguat hingga membawa pasangan kurs USD/IDR mendekati rekor tertinggi.
- USD/IDR berada di level 18.178,4, naik 69,7 poin atau 0,38%. Artinya, untuk membeli US$1 diperlukan sekitar Rp18.178.
Suara.com - Nilai tukar rupiah semakin tertekan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Mata uang Paman Sam terus menguat hingga membawa pasangan kurs USD/IDR mendekati rekor tertinggi, sementara rupiah berada di bibir terlemah sepanjang sejarah.
Berdasarkan data Investing.com pada Rabu (28/10/2026), USD/IDR berada di level 18.178,4, naik 69,7 poin atau 0,38%. Artinya, untuk membeli US$1 diperlukan sekitar Rp18.178.
Kurs tersebut bergerak dalam rentang harian Rp18.131,9 hingga Rp18.185. Sementara itu, rentang 52 minggu menunjukkan level terendah Rp16.600 dan level tertinggi Rp18.197,5.
Posisi ini memperlihatkan tekanan terhadap rupiah yang semakin dalam. Pasangan USD/IDR telah menanjak tajam sepanjang setahun terakhir, mencerminkan semakin mahalnya dolar AS jika ditukar dengan rupiah.
Reuters sebelumnya melaporkan pada 27 Oktober bahwa rupiah bergerak di sekitar Rp18.125 per dolar AS, mendekati rekor terlemahnya di Rp18.190. Pelemahan rupiah sepanjang tahun tersebut diperkirakan telah mencapai sekitar 8%.
Rupiah Tertekan Sentimen MSCI
Tekanan terhadap rupiah tidak terlepas dari ketidakpastian di pasar keuangan Indonesia. Salah satu sentimen yang membayangi investor adalah rencana evaluasi MSCI terhadap klasifikasi pasar saham Indonesia.
Penyedia indeks global tersebut tengah mengkaji kemungkinan perubahan status Indonesia dari emerging market menjadi standalone market. Kekhawatiran mengenai potensi arus keluar dana asing dari pasar saham domestik turut menjadi perhatian investor.
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia (BI), Erwin Gunawan Hutapea, mengatakan pergerakan rupiah dan mata uang kawasan masih dipengaruhi ketidakpastian global.
“Pergerakan Rupiah dan mata uang kawasan hari ini masih dipengaruhi ketidakpastian penyelesaian konflik Timur Tengah,” ujar Erwin di Jakarta, Rabu (28/10/2026).
Menurut dia, kondisi tersebut mempertahankan harga minyak pada level tinggi sekaligus meningkatkan risiko fiskal ke depan. Ekspektasi kenaikan suku bunga AS yang menguat turut menambah tekanan terhadap mata uang negara berkembang.
![Rupiah menjadi mata uang paling lemah di antara mata uang negara berkembang lainnya. [Suara.com/Syahda]](https://media.suara.com/pictures/original/2026/05/26/98872-rupiah-vs-mata-uang-lain.jpg)
Tekanan rupiah tidak hanya berasal dari luar negeri. Dari dalam negeri, kekhawatiran terhadap potensi penurunan klasifikasi pasar saham Indonesia oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI) turut membayangi arus modal.
Menurut Erwin sentimen tersebut muncul ketika investor global cenderung menghindari aset berisiko atau memasuki fase risk-off. Akibatnya, dolar AS menguat, sementara arus dana dari pasar negara berkembang menghadapi tekanan.
Kenaikan imbal hasil obligasi juga menjadi faktor yang memperberat kondisi pasar keuangan. Kombinasi penguatan dolar, meningkatnya risiko global, dan kekhawatiran terhadap prospek pasar modal Indonesia membuat rupiah menghadapi tekanan berlapis.
Reuters melaporkan bahwa ketidakpastian hasil evaluasi MSCI dan besarnya potensi arus keluar dana dapat mempertahankan tekanan terhadap rupiah dalam jangka pendek.
Dolar Makin Mahal, Risiko Ekonomi Membesar
Pelemahan rupiah membawa konsekuensi bagi perekonomian Indonesia, terutama melalui biaya impor dan pembayaran kewajiban dalam mata uang asing.
Bagi perusahaan yang mengandalkan bahan baku impor, pelemahan rupiah dapat meningkatkan biaya produksi. Jika kenaikan biaya tersebut diteruskan kepada konsumen, tekanan terhadap harga barang juga berpotensi meningkat.
Pembayaran utang dalam dolar AS pun menjadi lebih mahal dalam denominasi rupiah, khususnya bagi perusahaan yang tidak memiliki pendapatan dolar atau instrumen lindung nilai yang memadai.
Sebaliknya, eksportir yang memperoleh pendapatan dalam dolar AS berpotensi menerima nilai rupiah lebih besar ketika pendapatan valuta asing dikonversi. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto bahkan menilai pelemahan rupiah dapat menambah daya saing produk Indonesia di pasar ekspor.
“Kalau buat ekspor kan menambah daya saing,” kata Airlangga.
Airlangga mengatakan pemerintah masih memantau perkembangan pergerakan rupiah di tengah tekanan terhadap nilai tukar. “Kita monitor aja dulu, ya,” ujar Airlangga.