Ia berharap Batam dapat berkembang menjadi pusat maritim yang memiliki peran strategis seperti Rotterdam, Antwerp, dan Jurong. Pengembangan Ammonia Hub diharapkan dapat menjadi salah satu bagian dari penguatan ekosistem industri dan maritim di kawasan tersebut.
BP Batam Fasilitasi Kebutuhan Lahan dan Infrastruktur
Fary menambahkan, penyediaan lahan menjadi salah satu aspek yang akan difasilitasi dalam penjajakan pengembangan Ammonia Hub. BP Batam bersama Pupuk Indonesia tengah mengidentifikasi sejumlah lokasi yang berpotensi mendukung kebutuhan proyek.
"Pertama, tentu kebutuhan terhadap alokasi lahan itu menjadi poin penting yang perlu kita fasilitasi. Ini sudah ada beberapa informasi-informasi, nanti kita akan dalami, baik yang ada kaitannya dengan kawasan industri maupun di kawasan-kawasan lain," kata Fary.
Dalam proses penentuan lokasi, sejumlah aspek akan dipertimbangkan, mulai dari kesesuaian tata ruang hingga kedekatan dengan akses pelabuhan, sumber air, dan energi. Ketersediaan infrastruktur pendukung diperlukan agar kawasan dapat menunjang aktivitas industri amonia.
Fary menambahkan, BP Batam akan membentuk tim teknis bersama Pupuk Indonesia ketika proyek telah memasuki tahap ready to invest. Tim tersebut akan membahas kebutuhan proyek secara lebih terperinci, termasuk aspek teknis dan perizinan.
"Kalau sudah masuk dalam ready to invest, BP Batam akan membentuk tim bersama dengan teman-teman di Pupuk Indonesia. Kami sudah tunjuk beberapa direktur kami dan juga dari Pupuk Indonesia untuk melakukan komunikasi lebih teknis," ujarnya.
Pengembangan Ammonia Hub di Batam masih bergantung pada kesiapan sejumlah aspek, terutama kepastian lahan dan pasokan gas alam. Pupuk Indonesia dan BP Batam akan melanjutkan pembahasan untuk mematangkan kebutuhan proyek sebelum masuk ke tahap investasi dan pembangunan.***
Kontributor: Mohammad Rhadzaki Ramadhan