- Menteri Keuangan Suahasil Nazara mengklaim investor asing mencatatkan pembelian bersih SBN sebesar Rp28,79 triliun pada triwulan III 2026.
- Selisih imbal hasil SUN 10 tahun terhadap US Treasury berada di level 183 basis point di tengah suku bunga global tinggi.
- IMF memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global melambat menjadi 3,1% dan inflasi global meningkat hingga 4,7% pada tahun 2026.
Suara.com - Menteri Keuangan Suahasil Nazara mengklaim kalau kepercayaan investor asing terhadap Pemerintah masih relatif tinggi selama triwulan III 2026, meskipun ada volatilitas di pasar keuangan global.
Selama periode Juli hingga September 2026, Menkeu Suahasil menyatakan kalau Surat Berharga Negara (SBN) yang diterbitkan Pemerintah dibeli investor asing atau nonresiden sebesar Rp 28,79 triliun.
"Pada triwulan III 2026, kepercayaan investor global terhadap SBN domestik masih relatif tinggi di mana investor nonresiden mencatatkan pembelian bersih sebesar Rp 28,79 triliun sehingga kepemilikan nonresiden naik 3,28 persen dibandingkan posisi di akhir tahun 2025," katanya dalam konferensi pers Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), dikutip Rabu (4/11/2026).
Bendahara Negara juga menyampaikan kalau selisih imbal hasil (spread) Surat Utang Negara (SUN) dengan tenor 10 tahun berada di level 183 basis point (bps) dengan US Treasury (UST) yang diterbitkan Pemerintah Amerika Serikat.
Spread SUN vs UST ini disebutnya turun tipis apabila dibandingkan dengan akhir tahun 2025 yang berada di level 184 bps. Ia menyebut kalau kinerja ini masih cukup positif di mana suku bunga global tengah melonjak.
"Sementara itu, pada periode yang sama, spread SUN seri benchmark 10 tahun terhadap UST 10 tahun berada di level 183 basis point atau turun tipis dibandingkan dengan akhir tahun 2025 sebesar 184 basis point. Kinerja yang cukup positif ini berhasil dicatatkan di tengah lingkungan suku bunga global yang sedang tinggi," beber dia.
Di sesi terpisah, Suahasil juga menjelaskan soal prospek perekonomian global yang masih tertekan seiring eskalasi konflik geopolitik. Sebab tensi perang di Timur Tengah mendorong tingginya harga minyak dan berbagai komoditas global.
Dijelaskan dia, kebijakan moneter global yang lebih ketat terjadi karena kita lihat di sejumlah bank sentral negara-negara utama seperti The Fed di Amerika Serikat, European Central Bank, dan juga Bank of Japan.
Suahasil menyebut mereka telah menaikkan suku bunga masing-masing sebesar 25 bps pada September lalu. Pemerintah memperkirakan ini akan berlanjut ke depan sehingga RI memasuki periode yang sering disebut dengan higher for longer.
Kemudian, lanjut Suahasil, imbal hasil (yield) dari US Treasury tetap tinggi sejalan dengan menguatnya ekspektasi terhadap arah kebijakan moneter ke depan.
Adapun di pasar keuangan global, preferensi investor terhadap aset portofolio di negara berkembang masih relatif terbatas dan menyebabkan tetap kuatnya indeks mata uang Dolar Amerika Serikat terhadap negara maju dan negara berkembang.
"Kondisi tersebut berpotensi menahan aliran modal masuk ke emerging markets, termasuk Indonesia, dan perkembangan ini akan terus kita pantau dan kita mitigasi dampaknya. IMF dalam World Economic Outlook 2026 bulan Oktober lalu memproyeksikan ekonomi global tumbuh sebesar 3,1% di tahun 2026, melambat dibandingkan 2025, dan inflasi global yang meningkat menjadi 4,7%," jelas Suahasil.