- Partai Demokrat memenangi pemilu sela Amerika Serikat pada Kamis, 5 November 2026, yang memicu dinamika pasar keuangan global.
- Harga minyak mentah dunia anjlok hampir 9 persen akibat spekulasi berkurangnya eskalasi militer dan potensi perubahan kebijakan energi.
- Saham teknologi Asia melemah tajam karena kekhawatiran pengetatan regulasi pusat data kecerdasan buatan menyusul kemenangan politik tersebut.
Suara.com - Pasar keuangan Asia bergerak sangat dinamis pada perdagangan Kamis (5/11/2026) setelah para pemilih di Amerika Serikat secara mengejutkan memberikan kemenangan besar bagi Partai Demokrat dalam pemilihan umum sela (midterm elections).
Hasil politik yang dikenal dengan fenomena blue wave tersebut langsung memicu reaksi berantai di pasar global: harga minyak mentah dunia terjun bebas, nilai tukar dolar AS tertekan, sementara saham-saham di sektor teknologi dan produsen chip di Asia mengalami pelemahan tajam akibat kekhawatiran atas ketatnya regulasi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).
Pergerakan paling ekstrem terekam pada pasar energi global. Kontrak berjangka minyak mentah jenis Brent dived hingga hampir 9 persen pada perdagangan semalam dan memotong batas psikologis hingga bertengger di level US$94,21 per barel. Sepanjang pekan ini saja, harga minyak Brent telah susut sekitar 20 persen.
Jika tren penurunan ini bertahan hingga penutupan perdagangan Jumat, kondisi tersebut akan menjadi rekor penurunan harga minyak mingguan terbesar sejak April 2020, saat harga minyak mentah AS sempat terseret ke zona negatif.
Kejatuhan harga komoditas energi tersebut dipicu oleh spekulasi pelaku pasar bahwa Presiden Donald Trump—yang kini dihadapkan pada perimbangan kekuasaan Kongres yang dikuasai Demokrat—akan mengerem eskalasi militer dengan Iran. Tekanan harga energi yang tinggi sebelumnya dinilai menjadi salah satu pemicu kekalahan politik Partai Republik.
Trump secara terbuka mengakui pada Rabu bahwa konflik bersenjata tersebut memengaruhi hasil pemilu. Pandangan yang lebih lugas disampaikan oleh Wakil Presiden JD Vance melalui media sosial X: "Alasan kita kalah adalah perang."
Dilansir dari Reuters, harga energi memberikan dorongan kuat pada bursa obligasi global. Imbal hasil (yield) surat utang pemerintah AS bertenor 10 tahun merosot ke level terendah dalam dua bulan terakhir di posisi 4,85 persen.
Sementara itu, imbal hasil obligasi bertenor 2 tahun yang sensitif terhadap ekspektasi suku bunga acuan turun 2 basis poin menjadi 4,56 persen. Menyusul turunnya yield, indeks dolar AS juga merosot ke level terendah dalam satu bulan terakhir di posisi US$1,1273 per euro.
Kondisi pemerintahan AS yang terbelah (divided government) justru dinilai positif oleh sebagian pelaku pasar saham secara umum. Indeks S&P 500 ditutup menguat 1,6 persen, sementara bursa saham Eropa menyentuh level tertinggi dalam dua bulan.
"Gelombang biru berarti pemerintah federal pasti akan terpecah belah dalam sebagian besar isu," ujar Kepala Investasi (CIO) pasar keuangan global di Federated Hermes, Deborah Cunningham. "Hal itu biasanya menciptakan hambatan terhadap legislasi baru, lingkungan yang secara tradisional dipandang positif oleh pasar keuangan luas karena variabelnya menurun."
Namun, di balik penguatan indeks acuan utama, sektor teknologi dan produk semikonduktor justru mengalami masa-masa sulit. Kontrak berjangka indeks Nasdaq merosot 1 persen, mengindikasikan kecemasan pemodal terhadap masa depan saham pusat data (data center) dan chip. Kemenangan para politisi Demokrat di negara bagian seperti Texas dan Georgia—yang berkampanye dengan mengusung moratorium pembangunan pusat data—menjadi sinyal kuat pergeseran pandangan publik terhadap ekspansi infrastruktur AI yang membutuhkan konsumsi energi raksasa.
Sentimen negatif regulasi teknologi ini menghantam keras bursa saham kawasan Asia. Indeks KOSPI di Korea Selatan yang didominasi emiten semikonduktor ambrol hampir 6 persen dan mendekati titik terendah dalam tujuh bulan terakhir. Di Taiwan, indeks acuan (.TWII) terkoreksi lebih dari 3 persen dan bersiap mencatatkan kinerja mingguan terburuknya sejak April 2025 dengan penurunan akumulatif hingga 8 persen.
Di bursa Jepang, emiten pemasok peralatan teknologi menyeret indeks Nikkei turun 2 persen, meski indeks Topix yang lebih luas masih mampu menguat 0,8 persen. Hal ini memperlihatkan adanya divergensi reaksi pasar terhadap pergeseran peta politik di Washington.
"AI is where the impact becomes more nuanced," kata Masahiko Loo, Chief Fixed Income Strategist di State Street Investment Management. Loo menilai kendali Demokrat di Kongres meningkatkan risiko pengawasan yang lebih ketat terhadap kebutuhan listrik dan biaya konsumen pusat data, meski tidak otomatis menghentikan arus modal.
Di tengah tekanan pada sektor teknologi, aliran modal asing di Asia tampak mengalir ke bursa yang sempat tertekan sepanjang tahun ini. Indeks acuan di India, Hong Kong, dan Australia mencatatkan kenaikan signifikan.
Selain itu, saham-saham di rantai pasok energi surya (solar supply chain) meroket tajam seiring ekspektasi bahwa faksi Demokrat akan mendorong insentif dan dukungan yang lebih besar bagi sektor energi terbarukan.
Di pasar valuta asing, mata uang dolar AS secara umum melemah terhadap mayoritas mata uang utama dunia. Pelaku pasar kini mengalihkan fokus pada pengumuman kebijakan moneter Bank of England (BoE) yang dijadwalkan rilis Kamis waktu setempat. Bank sentral Inggris tersebut diperkirakan akan menaikkan suku bunga acuan guna meredam tekanan inflasi yang dipicu oleh lonjakan biaya energi dalam beberapa bulan terakhir.