- Hilirisasi timah RI masih didominasi produk bernilai tambah rendah seperti solder.
- Keterbatasan teknologi menghambat pengembangan produk turunan timah bernilai tinggi.
- BKPM mendorong alih teknologi dan investasi untuk memperkuat industri hilir lanjutan.
Suara.com - Kebijakan larangan ekspor bijih timah mentah ternyata belum cukup untuk mengerek nilai tambah komoditas tambang di dalam negeri. Ambil contoh soal komoditas timah yang ternyata masih diolah menjadi produk solder.
Deputi Bidang Hilirisasi Investasi Strategis Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, Heldy Satrya Putera, mengungkapkan Indonesia sebenarnya memiliki peluang besar untuk mengembangkan berbagai produk turunan timah. Namun, potensi tersebut belum dimanfaatkan secara optimal akibat keterbatasan teknologi pengolahan.
"Kita sudah lama punya yang namanya timah, tetapi sampai hari ini produk yang kita hasilkan yang terbesar itu masih solder. Padahal aplikasinya sangat beragam dan sangat dibutuhkan," ujar Heldy dalam Forum Mineral Kritis Multipihak Indonesia di Jakarta, Kamis (5/11/2026).

Menurut Heldy, timah memiliki cakupan penggunaan yang jauh lebih luas, termasuk untuk kebutuhan industri kemasan hingga komponen elektronik bernilai tinggi. Sayangnya, Indonesia belum mampu mengembangkan industri manufaktur lanjutan yang dapat mengolah timah menjadi produk dengan nilai ekonomi lebih besar.
Akibatnya, hilirisasi timah nasional berisiko berhenti pada tahap pengolahan dasar. Bahkan, ketergantungan terhadap produk olahan seperti solder kerap memunculkan praktik peleburan ulang untuk mengembalikannya menjadi bahan baku.
Situasi ini memperlihatkan bahwa keberhasilan hilirisasi tidak cukup hanya diukur dari kemampuan mengolah mineral mentah di dalam negeri. Tanpa penguasaan teknologi dan pengembangan industri lanjutan, Indonesia berisiko hanya memindahkan aktivitas pengolahan dari tambang ke pabrik tanpa menciptakan nilai tambah yang optimal.
Heldy menilai, persoalan tersebut perlu dijawab melalui percepatan alih teknologi serta masuknya investasi yang secara khusus menyasar pengembangan industri hilir tahap lanjut.
"Mari kita bersama-sama menyelesaikan dan mendorong supaya isu-isu yang akan dibahas ini bisa kita selesaikannya ke depannya," tutur Heldy.