Timah RI Cuma Jadi Solder, Hilirisasi Belum Naik Kelas

Mohammad Fadil Djailani, Yaumal Asri Adi Hutasuhut

Kamis, 05 November 2026 | 19:02 WIB
Timah RI Cuma Jadi Solder, Hilirisasi Belum Naik Kelas
Penambangan bijih timah ilegal di Bangka | Tambang Biji Timah. Foto Suara.com
baca 10 detik
  • Hilirisasi timah RI masih didominasi produk bernilai tambah rendah seperti solder.
  • Keterbatasan teknologi menghambat pengembangan produk turunan timah bernilai tinggi.
  • BKPM mendorong alih teknologi dan investasi untuk memperkuat industri hilir lanjutan.

Suara.com - Kebijakan larangan ekspor bijih timah mentah ternyata belum cukup untuk mengerek nilai tambah komoditas tambang di dalam negeri. Ambil contoh soal komoditas timah yang ternyata masih diolah menjadi produk solder.

Deputi Bidang Hilirisasi Investasi Strategis Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, Heldy Satrya Putera, mengungkapkan Indonesia sebenarnya memiliki peluang besar untuk mengembangkan berbagai produk turunan timah. Namun, potensi tersebut belum dimanfaatkan secara optimal akibat keterbatasan teknologi pengolahan.

"Kita sudah lama punya yang namanya timah, tetapi sampai hari ini produk yang kita hasilkan yang terbesar itu masih solder. Padahal aplikasinya sangat beragam dan sangat dibutuhkan," ujar Heldy dalam Forum Mineral Kritis Multipihak Indonesia di Jakarta, Kamis (5/11/2026).

Deputi Bidang Hilirisasi Investasi Strategis, Heldy Satrya Putera
Deputi Bidang Hilirisasi Investasi Strategis, Heldy Satrya Putera

Menurut Heldy, timah memiliki cakupan penggunaan yang jauh lebih luas, termasuk untuk kebutuhan industri kemasan hingga komponen elektronik bernilai tinggi. Sayangnya, Indonesia belum mampu mengembangkan industri manufaktur lanjutan yang dapat mengolah timah menjadi produk dengan nilai ekonomi lebih besar.

Akibatnya, hilirisasi timah nasional berisiko berhenti pada tahap pengolahan dasar. Bahkan, ketergantungan terhadap produk olahan seperti solder kerap memunculkan praktik peleburan ulang untuk mengembalikannya menjadi bahan baku.

Situasi ini memperlihatkan bahwa keberhasilan hilirisasi tidak cukup hanya diukur dari kemampuan mengolah mineral mentah di dalam negeri. Tanpa penguasaan teknologi dan pengembangan industri lanjutan, Indonesia berisiko hanya memindahkan aktivitas pengolahan dari tambang ke pabrik tanpa menciptakan nilai tambah yang optimal.

Heldy menilai, persoalan tersebut perlu dijawab melalui percepatan alih teknologi serta masuknya investasi yang secara khusus menyasar pengembangan industri hilir tahap lanjut.

"Mari kita bersama-sama menyelesaikan dan mendorong supaya isu-isu yang akan dibahas ini bisa kita selesaikannya ke depannya," tutur Heldy.

baca juga
Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Investasi RI Tembus Rp1.539 T, Hilirisasi Mineral Jadi Penopang Utama

Investasi RI Tembus Rp1.539 T, Hilirisasi Mineral Jadi Penopang Utama

Bisnis | Kamis, 05 November 2026 | 18:45 WIB

Penerimaan Negara dari Minerba Tembus Rp141 Triliun

Penerimaan Negara dari Minerba Tembus Rp141 Triliun

Foto | Kamis, 05 November 2026 | 10:00 WIB

Depresiasi Rupiah Tembus 3,4% per Tahun, Investor Diminta Diversifikasi Aset ke Dolar AS

Depresiasi Rupiah Tembus 3,4% per Tahun, Investor Diminta Diversifikasi Aset ke Dolar AS

Bisnis | Rabu, 04 November 2026 | 14:55 WIB

Terkini

Koding Bukan Sekadar Menulis Program, Ini Manfaatnya bagi Cara Berpikir Anak

Koding Bukan Sekadar Menulis Program, Ini Manfaatnya bagi Cara Berpikir Anak

Lifestyle | Kamis, 05 November 2026 | 19:01 WIB

Mendidik Anak dengan Kasih Sayang ala Nabi dalam Happy Islamic Parenting

Mendidik Anak dengan Kasih Sayang ala Nabi dalam Happy Islamic Parenting

Your Say | Kamis, 05 November 2026 | 19:00 WIB

Jadi Produsen Cabai, Aceh Malah Pimpin Inflasi Sumatera

Jadi Produsen Cabai, Aceh Malah Pimpin Inflasi Sumatera

Bisnis | Kamis, 05 November 2026 | 18:56 WIB

Pasien Rumah Sakit di Bantul Ditangkap Polisi Usai Lecehkan Perawat

Pasien Rumah Sakit di Bantul Ditangkap Polisi Usai Lecehkan Perawat

Jogja | Kamis, 05 November 2026 | 18:55 WIB

BGN Tambah 953 Dapur MBG Baru, Daerah Rawan Stunting Jadi Prioritas

BGN Tambah 953 Dapur MBG Baru, Daerah Rawan Stunting Jadi Prioritas

News | Kamis, 05 November 2026 | 18:53 WIB

Buntut Foto Wapres Gibran Diturunkan, Kemendagri Hubungi DPRD DIY, Setwan Langsung Evaluasi

Buntut Foto Wapres Gibran Diturunkan, Kemendagri Hubungi DPRD DIY, Setwan Langsung Evaluasi

Jogja | Kamis, 05 November 2026 | 18:47 WIB

Biaya Hidup Makin Mahal, Harga Pangan dan BBM jadi Sorotan

Biaya Hidup Makin Mahal, Harga Pangan dan BBM jadi Sorotan

News | Kamis, 05 November 2026 | 18:46 WIB

Mengapa Elektrifikasi Bus di Indonesia Tak Bisa Sekadar Ganti Mesin?

Mengapa Elektrifikasi Bus di Indonesia Tak Bisa Sekadar Ganti Mesin?

News | Kamis, 05 November 2026 | 18:45 WIB

Investasi RI Tembus Rp1.539 T, Hilirisasi Mineral Jadi Penopang Utama

Investasi RI Tembus Rp1.539 T, Hilirisasi Mineral Jadi Penopang Utama

Bisnis | Kamis, 05 November 2026 | 18:45 WIB

MobLand Season 2: Menguak Sisi Gelap Dinasti Kriminal Keluarga Harrigan!

MobLand Season 2: Menguak Sisi Gelap Dinasti Kriminal Keluarga Harrigan!

Your Say | Kamis, 05 November 2026 | 18:45 WIB

×