Sebaliknya, Laos hanya mampu melepaskan satu tembakan sepanjang pertandingan dan itu pun tidak mengarah ke gawang.
Kondisi ini menegaskan betapa timpangnya pertandingan dari segi serangan, tetapi hasil akhir tetap tak berpihak kepada Garuda Muda.
Statistik Peluang Makin Kontras
Selain jumlah tembakan, catatan penciptaan peluang juga memperlihatkan dominasi Indonesia U-23.
Jens Raven dan rekan setimnya mampu mencatat 15 kali chances created atau penciptaan peluang yang berpotensi menjadi gol.
Di sisi lain, Laos sama sekali tidak mencatat peluang berbahaya karena selalu gagal membangun serangan hingga tuntas.
Berkali-kali upaya mereka terhenti akibat kesalahan sendiri dan tekanan tinggi dari barisan pertahanan Indonesia.
Namun, catatan statistik mengesankan ini terasa sia-sia karena tidak ada gol yang tercipta untuk memastikan kemenangan.
Catatan Disiplin yang Berbeda Jauh
Hal menarik lain dari pertandingan ini terlihat pada catatan kedisiplinan kedua tim.
Garuda Muda mampu menjaga emosi dan fokus sehingga tidak mendapat satu pun kartu kuning dari wasit.
Sementara itu, Laos U-23 justru bermain kasar dengan menerima tujuh kartu kuning sepanjang pertandingan.
Jumlah peringatan yang besar ini menunjukkan betapa frustrasinya Laos menghadapi dominasi Indonesia.
Meski demikian, keunggulan dalam aspek disiplin tetap belum bisa membawa Timnas Indonesia U-23 meraih tiga poin.
PR Berat Garuda Muda di Kualifikasi
Hasil imbang tanpa gol di laga perdana membuat jalan Timnas Indonesia U-23 di Grup J menjadi lebih berat.
Mereka dituntut untuk segera meningkatkan kualitas penyelesaian akhir agar peluang lolos tetap terbuka lebar.
Pelatih Gerald Vanenburg dipastikan harus mencari solusi cepat untuk menajamkan lini serang Garuda Muda.
Dukungan publik di laga kandang berikutnya akan menjadi faktor penting dalam mengembalikan kepercayaan diri pemain.
Kegagalan memetik kemenangan melawan Laos menjadi peringatan dini agar tidak mengulang kesalahan yang sama.