- Bacary Sagna hampir bergabung Inter Milan 2014 setelah Arsenal, namun batal karena faktor keluarga di Inggris.
- Sagna mengungkapkan pertemuan resmi dengan Direktur Piero Ausilio dan Presiden Erick Thohir saat itu.
- Sagna menilai peluang Ange-Yoan Bonny ke Prancis 2026 kecil sebab chemistry tim inti sudah terbangun.
Suara.com - Eks bek Arsenal dan timnas Prancis, Bacary Sagna, mengungkap fakta bahwa dirinya pernah sangat dekat bergabung dengan Inter Milan, klub yang telah ia dukung sejak kecil.
Pernyataan tersebut disampaikan Sagna dalam wawancara bersama SempreInter.com dan The Italian Football Podcast.
Sagna mengungkap bahwa setelah meninggalkan Arsenal pada 2014, ia sempat melakukan pertemuan resmi dengan manajemen Inter Milan.
“Saya sangat dekat bergabung dengan Inter pada 2014 setelah meninggalkan Arsenal. Saya bertemu dengan Piero Ausilio dan Presiden Erick Thohir,” ujar Sagna.
Namun, kepindahan tersebut akhirnya batal karena faktor keluarga dan kenyamanan hidup di Inggris.
“Inggris adalah pilihan utama saya. Memindahkan keluarga ke Milan, anak-anak harus pindah negara, itu cukup rumit. Premier League saat itu adalah Premier League, dan sampai sekarang tetap Premier League,” lanjutnya.
Meski gagal bergabung, Sagna menegaskan kedekatan emosionalnya dengan klub raksasa Italia tersebut.
“Saya suka Inter. Mereka adalah klub favorit saya sejak kecil. Maicon, Zanetti, Ronaldo Brasil—saya ini Interista.”
Selain soal Inter, Sagna juga menyoroti peluang Ange-Yoan Bonny untuk tampil bersama Timnas Prancis di Piala Dunia 2026. Menurutnya, peluang itu sangat kecil, meski Bonny tampil impresif bersama Inter.
Baca Juga: Kabar Buruk Buat Carrick, Patrick Dorgu Menepi 10 Pekan dari Manchester United
“Sulit baginya untuk masuk skuad Prancis. Grup pemain inti sudah terbentuk, mereka sudah saling mengenal dan tampil bersama dalam waktu lama,” kata Sagna.
Ia menekankan bahwa membangun chemistry di tim nasional bukan proses instan.
“Ini bukan soal tampil bagus enam bulan atau satu musim saja. Tim nasional butuh hubungan jangka panjang, pemahaman antar pemain, dan pengalaman hidup bersama dalam tekanan turnamen besar.”
Kontributor: M.Faqih