- Pablo Zabaleta menyaksikan transformasi Manchester City dimulai sejak investasi besar UEA pada September 2008.
- Awalnya, fasilitas klub sangat minim, seperti ruang pers karavan dingin sebelum diakuisisi Sheikh Mansour.
- Investasi tersebut mengubah City dari klub kecil yang dibayangi United menjadi kekuatan dominan Eropa.
Suara.com - Manchester City memasuki era keemasan dalam satu dekade terakhir, dan salah satu pemain Pablo Zabaleta menjadi saksi hidup transformasi besar sejak klub kebanjiran duit dari milioner UEA.
Bek asal Argentina itu menyebut investasi Abu Dhabi sebagai momen yang tidak bisa dipercaya dalam sejarah klub.
“Dekade terakhir ini luar biasa,” kata Zabaleta seperti dikutip dari Arab News.
“Sulit membayangkan sejauh mana klub akan melangkah saat semuanya dimulai.”
Titik Balik 2008: Datangnya Sheikh Mansour
Pada 1 September 2008, sehari sebelum bursa transfer ditutup, Zabaleta resmi bergabung dari Espanyol.
Zabaleta ingat betul bahwa sang istri cukup heran dengan keputusannya pergi ke Inggris dan gabung ke Manchester City.
![Pemilik Manchester City Sheikh Mansour bin Zayed Al Nahyan. [ANDREW YATES / AFP].](https://media.suara.com/pictures/653x366/2021/05/18/59774-pemilik-manchester-city-sheikh-mansour-bin-zayed-al-nahyan.jpg)
"Saya ingat istri saya berkata kepada saya: 'Kamu mau pergi ke mana? Tetaplah di Espanyol! Kamu tidak akan meningkatkan kariermu," ucapnya.
"Saat saya menandatangani kontrak dengan Manchester City, klub itu sama sekali berbeda dengan sekarang. Saya mengalami transformasi itu sejak awal,"
"Lapangan latihan masih di Carrington, ruang pers berupa karavan dingin yang tampak seperti lokasi konstruksi, dan di musim dingin, tidak ada yang tahan berada di sana," ceritanya lagi.
"Kami seperti 'Espanyol-nya Manchester', sebuah klub yang hidup di bawah bayang-bayang Manchester United,"
Dalam 24 jam, situasi berubah drastis setelah pengambilalihan klub oleh Sheikh Mansour bin Zayed Al Nahyan melalui Abu Dhabi United Group diumumkan.
Transfer sensasional Robinho dari Real Madrid dengan nilai rekor Inggris saat itu menjadi pernyataan ambisi.
“Ketika Robinho datang dari Real Madrid, kami semua berkata, wow. Kami tahu ini sesuatu yang besar,” ujar Zabaleta.
Dari Tetangga Miskin ke Penguasa Eropa
City lama hidup di bawah bayang-bayang rival sekota, Manchester United. Bahkan Sir Alex Ferguson sempat menyebut mereka, tetangga yang berisik setelah kedatangan Carlos Tevez.
Namun investasi besar dan visi jangka panjang mengubah segalanya.
Di bawah kepemimpinan Khaldoon Al Mubarak dan sejumlah manajer seperti Roberto Mancini hingga Pep Guardiola, City menjelma menjadi kekuatan dominan.
“Garry Cook mengatakan ini proyek 10 tahun, dan dia benar,” ujar Alan Galley dari Supporters Club City. “Sepuluh tahun terakhir ini brilian.”
Perubahan tak hanya terjadi di lapangan. Dari Carrington yang disebut Vincent Kompany sebagai tempat rongsokan, City kini memiliki Etihad Campus senilai £200 juta dengan 16 lapangan latihan.
“Pemain baru mungkin tidak melihat Carrington yang lama,” kata Zabaleta.
“Tapi saya tidak pernah lupa dari mana kami berasal. Kerendahan hati itu penting.”
Ia menekankan bahwa membangun mentalitas juara butuh proses.
“Skuad kami kuat, tapi awalnya belum siap secara mental untuk bersaing di semua kompetisi. Itu proses pembelajaran.”
Menurut Zabaleta, kunci sukses bukan sekadar uang, tetapi cara pengelolaan klub.
“Banyak orang membeli klub, tapi yang penting bagaimana mereka melakukannya,” ujarnya.
“Khaldoon selalu hadir di tempat latihan dan pertandingan. Mereka peduli pada pemain, membuat kami merasa seperti keluarga.”
“Sekarang setiap musim City dituntut meraih trofi. Ambisinya jelas, menjadi yang terkuat di kompetisi domestik dan menjadi juara di Eropa bahkan dunia," tutupnya.
Kontributor: Azka Putra
![Manchester City memasuki era keemasan dalam satu dekade terakhir, dan salah satu pemain Pablo Zabaleta menjadi saksi hidup transformasi besar sejak klub kebanjiran duit dari milioner UEA. [Tangkap layar Youtube]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/03/04/80385-etihad-campus.jpg)