- Maarten Paes mengungkapkan kepada media Belanda bahwa alasan naturalisasinya adalah kisah kelam neneknya di Indonesia.
- Neneknya mengalami trauma Perang Dunia II, kehilangan ibunya, dan hidup terpisah dari orang tua di kamp penampungan.
- Keputusannya menjadi WNI adalah sebuah penghormatan untuk sang nenek, yang meninggal sebelum sempat melihat debutnya.
Suara.com - Penjaga gawang Timnas Indonesia, Maarten Paes, secara terbuka membagikan kisah kelam keluarganya kepada Media Belanda.
Pengalaman pahit yang menimpa mendiang neneknya di masa lalu menjadi alasan utama di balik keputusannya menjadi Warga Negara Indonesia.
Cerita pilu dari sang nenek yang penuh dengan sejarah kelam tersebut akhirnya diungkapkan oleh Maarten Paes sebagai motivasi utamanya membela Timnas Indonesia.
Dalam sebuah sesi wawancara eksklusif bersama kanal resmi klubnya, kiper berpostur jangkung ini membeberkan koneksi batin yang ia miliki dengan Tanah Air.
Ia menceritakan bahwa neneknya merupakan perempuan kelahiran Indonesia yang harus merasakan kejamnya gejolak dunia pada masanya.
"Nenek saya lahir di sana," kata Maarten Paes kepada Voetbal Primeur dikutip pada Rabu (11/3/2026).
"Dia mengalami Perang Dunia Kedua di sana. Dia kehilangan ibunya di usia yang sangat muda. Pria dan wanita dipisahkan saat itu, jadi dia tinggal di sana tanpa orang tuanya untuk waktu yang cukup lama."
Perjalanan hidup yang teramat berat tersebut terus terpatri dalam ingatan keluarga mereka, bahkan setelah sang nenek berhasil hijrah ke Belanda.
"Setelah perang, saya pikir setelah lima tahun, mereka datang ke Belanda dengan perahu. Dia sebenarnya membawa budaya itu kepada saya sejak usia muda."
Baca Juga: Dipanggil Timnas Indonesia, Eliano Reijnders Ungkap Misi Besar
Momen untuk menebus sejarah kelam itu akhirnya tiba ketika tawaran proses naturalisasi datang di masa-masa senja kehidupan sang nenek.
"Ketika dia mendekati ajalnya di tahun-tahun terakhirnya, saya pikir itu adalah momen yang baik ketika mereka (PSSI) mendekati saya lagi. Saat itulah saya akhirnya memutuskan untuk melakukannya," jelas Paes.
Keputusan besar ini ia ambil sebagai sebuah persembahan kehormatan tertinggi bagi perempuan yang sangat ia cintai.
"Itu adalah sebuah kehormatan besar untuknya."
Kenangan paling berharga bagi Paes adalah ketika ia menghabiskan waktu bersama sang nenek untuk belajar tentang pilar kebangsaan Indonesia.
"Kami belajar lagu kebangsaan bersama, kami belajar Pancasila bersama, yang merupakan lima aturan utama di Indonesia."