- Pelatih Bulgaria, Aleksandar Dimitrov, mengenang masa lalunya di sepak bola Indonesia saat konferensi pers, 26 Maret 2026.
- Dimitrov pernah menjadi pemain Persija (2002) dan terlibat kepelatihan Timnas Indonesia sebelum masa kini.
- Ia menyoroti perbedaan utama Timnas Indonesia kini adalah peningkatan jumlah pemain naturalisasi dan staf pelatih.
Suara.com - Pelatih Timnas Bulgaria, Aleksandar Dimitrov, menghadirkan nuansa nostalgia saat konferensi pers jelang FIFA Series 2026 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Kamis (26/3/2026).
Sebelum sesi dimulai, Dimitrov sempat melontarkan candaan yang mencuri perhatian. Melihat sejumlah jurnalis mengenakan atribut Persija Jakarta, ia berceletuk dalam bahasa Indonesia, “kapan juara”.
Tak berhenti di situ, Dimitrov juga mengenang dua stadion legendaris milik Persija, yakni Stadion Menteng dan Stadion Lebak Bulus, yang kini telah berubah fungsi.
Kenangan tersebut terasa personal, mengingat ia pernah menjadi bagian dari sepak bola Indonesia pada awal 2000-an.
Dimitrov memang bukan sosok asing bagi publik Tanah Air. Ia pernah memperkuat Persija pada 2002, lalu melanjutkan karier bersama Persegres Gresik United pada periode 2003–2004.
Kariernya berlanjut ke dunia kepelatihan. Ia sempat menjadi asisten Ivan Kolev di Persipura Jayapura pada 2006–2007, serta terlibat dalam tim pelatih Timnas Indonesia pada 2007.
"Itu adalah periode yang sangat indah bagi saya, baik sebagai pemain maupun pelatih. Karier kepelatihan saya dimulai dari sini," kata Dimitrov.
Kini, hampir dua dekade berselang, Dimitrov melihat banyak perubahan signifikan di tubuh Timnas Indonesia.
Salah satu yang paling mencolok adalah meningkatnya jumlah pemain naturalisasi dalam skuad Garuda.
"Perbedaan terbesar yang saya lihat sekarang adalah banyaknya pemain naturalisasi dalam Timnas Indonesia," ujarnya.
"Dulu, kami hanya mengandalkan pemain lokal dari liga domestik, dan saya berani mengatakan saat itu Indonesia memiliki salah satu tim terkuat dalam sejarahnya," lanjutnya.
Selain komposisi pemain, Dimitrov juga menyoroti perubahan dalam struktur tim pelatih yang kini dinilai lebih besar dibandingkan masa lalu.
"Perbedaan lainnya adalah jumlah staf pelatih yang sekarang jauh lebih banyak," katanya.
"Saya rasa ini mulai sejak era Patrick Kluivert dan sekarang berlanjut dengan John Herdman. Hal ini tentu merupakan sesuatu yang positif," pungkasnya.