- Radja Nainggolan menyesal tidak memilih memperkuat Timnas Indonesia sejak awal karier sepak bolanya di tingkat internasional.
- Pemain berdarah Batak ini kecewa karena kariernya bersama tim nasional Belgia berakhir cepat pada tahun 2018.
- Pengalaman bermain di Bhayangkara FC tahun 2023 memberikan kesan mendalam atas apresiasi tinggi masyarakat terhadap dirinya.
Suara.com - Pemain berdarah Batak, Radja Nainggolan secara terbuka mengungkapkan penyesalan terbesarnya karena tidak memilih untuk memperkuat Timnas Indonesia sejak awal kariernya.
Pengakuan mengejutkan ini datang seiring dengan refleksi kariernya di level internasional bersama tim nasional Belgia yang ia anggap berakhir terlalu cepat.
Meskipun pada masa jayanya ia berstatus sebagai salah satu gelandang terbaik di Serie A Italia, Nainggolan secara total hanya mampu mengoleksi 30 penampilan untuk The Red Devils.
Fakta ini menjadi pil pahit yang sulit ia terima, terutama setelah penampilan terakhirnya untuk Belgia tercatat pada tahun 2018 silam.
"Saya sangat kesulitan menerima. Saya mengorbankan hidup saya untuk bisa bermain bagi timnas Belgia," ujar Nainggolan seperti dilansir dari Voetbal Primeur.
Di tengah kekecewaannya, ia pun berandai-andai bahwa jika mengetahui nasibnya tak bagus bersama Belgia, Nainggolan bakal memilih Timnas Indonesia saja.
"Jika saya tahu akan seperti ini, saya akan memilih (Timnas) Indonesia lebih awal," tegasnya.
Seperti diketahui, Nainggolan memiliki ikatan darah yang kuat dengan Indonesia.
Ayahnya yang bernama Marianus Nainggolan adalah seorang pria berdarah Batak.
Kedekatannya dengan tanah air sang ayah semakin terasa saat ia sempat menjajal kompetisi Liga 1 bersama Bhayangkara FC pada tahun 2023.
Selama periode singkatnya di Indonesia, mantan bintang AS Roma dan Inter Milan ini mengaku merasakan atmosfer yang sangat berbeda.
Apresiasi dan rasa hormat yang ia terima dari masyarakat di sini meninggalkan kesan yang mendalam baginya.
"Saya bermain sepak bola di Indonesia selama enam bulan. Rasa hormat dan apresiasi yang saya terima dari orang-orang di sana sangat berbeda dengan sepak bola Belgia," pungkasnya.