-
FIFA resmi terapkan kartu merah bagi pemain yang menutupi mulut saat berkonfrontasi di Piala Dunia.
-
Pemain dan ofisial yang melakukan aksi walk out protes wasit akan diusir dan didiskualifikasi.
-
Aturan baru ini bertujuan memberantas rasisme tersembunyi dan menjaga sportivitas di lapangan hijau.
Suara.com - Langkah revolusioner diambil FIFA untuk membersihkan ajang Piala Dunia 2026 dari perilaku diskriminatif dan tindakan tidak sportif di lapangan hijau.
Otoritas tertinggi sepak bola dunia tersebut kini memperluas kewenangan wasit untuk mengusir pemain yang mencoba menyembunyikan ucapan mereka saat bersitegang.
Dikutip dari France24, kebijakan ini menjadi jawaban atas maraknya dugaan pelecehan rasial yang sulit dibuktikan karena pemain sengaja menutupi mulut saat menghina lawan.

FIFA secara resmi mengumumkan kebijakan ini pada hari Selasa sebagai bagian dari kampanye besar anti-rasisme global.
Setiap pemain yang kedapatan menutupi mulutnya dalam situasi konfrontatif dengan pemain lawan kini terancam hukuman kartu merah langsung.
Keputusan ini diambil setelah pertemuan intensif dengan International Football Association Board (IFAB) yang berlangsung di Vancouver, Kanada.
Melalui pernyataan resminya, FIFA menegaskan bahwa aturan ini akan segera diimplementasikan pada putaran final Piala Dunia tahun ini.

"Atas diskresi penyelenggara kompetisi, setiap pemain yang menutupi mulutnya dalam situasi konfrontatif dengan lawan dapat dikenai sanksi kartu merah," kata FIFA dalam sebuah pernyataan.
Langkah drastis ini dipicu oleh insiden memuakkan yang melibatkan bintang Real Madrid, Vinicius Junior, pada pertandingan Liga Champions Februari lalu.
Pemain sayap Benfica, Gianluca Prestianni, dituding melakukan serangan rasial berulang kali dengan menyebut Vinicius "monyet" sambil menutupi mulutnya.
Meskipun Prestianni membantah tuduhan tersebut, ia tetap dijatuhi skorsing enam pertandingan karena perilaku homofobia yang terdeteksi saat itu.
Presiden FIFA, Gianni Infantino, secara terbuka menyatakan dukungan penuhnya terhadap perubahan regulasi yang lebih ketat ini demi integritas olahraga.
Infantino menilai tindakan menutupi mulut saat berbicara kasar mengindikasikan adanya sesuatu yang buruk yang ingin disembunyikan oleh pemain tersebut.
"Jika seorang pemain menutupi mulutnya dan mengatakan sesuatu, dan hal itu berakibat rasis, maka dia harus diusir, tentu saja," ujar Infantino.
Logika di balik aturan ini adalah mendorong transparansi dan sportivitas antar pemain selama pertandingan berlangsung di turnamen bergengsi tersebut.
Infantino menambahkan bahwa tidak ada alasan logis bagi seorang atlet untuk menyembunyikan gerak bibir jika tidak melontarkan kata-kata terlarang.
"Harus ada praduga bahwa dia telah mengatakan sesuatu yang tidak seharusnya dia katakan, jika tidak, dia tidak perlu menutupi mulutnya," tegas pria asal Swiss itu.
Ia meyakini bahwa kejujuran di lapangan hijau dimulai dari keberanian untuk menunjukkan apa yang diucapkan kepada sesama rekan profesi.
"Jika Anda tidak memiliki sesuatu untuk disembunyikan, Anda tidak akan menyembunyikan mulut Anda saat mengatakan sesuatu. Begitu saja, sesederhana itu," tutur Infantino.
Selain isu rasisme, FIFA juga membidik tindakan protes berlebihan yang mengganggu jalannya pertandingan atau mencederai marwah kompetisi resmi.
Wasit kini memiliki wewenang penuh untuk memberikan kartu merah kepada pemain yang meninggalkan lapangan sebagai bentuk protes atas keputusan pengadil.
Aturan ini tidak hanya berlaku bagi pemain yang aktif di lapangan, tetapi juga menyasar ofisial tim di area teknis.
"Atas diskresi penyelenggara kompetisi, wasit dapat menjatuhkan sanksi kartu merah kepada pemain mana pun yang meninggalkan lapangan pertandingan sebagai protes terhadap keputusan wasit," tulis pernyataan FIFA.
Ketegasan ini juga mencakup instruksi kepada staf pelatih yang memprovokasi pemainnya untuk berhenti bertanding atau melakukan mogok main.
"Aturan baru ini juga akan berlaku bagi setiap ofisial tim yang menghasut pemain untuk meninggalkan lapangan pertandingan," lanjut pernyataan tersebut.
FIFA tidak main-main dalam menegakkan aturan ini, di mana tim yang menyebabkan pertandingan terhenti akan dianggap kalah secara otomatis.
Langkah ini menyusul drama memalukan pada final Piala Afrika tahun ini yang melibatkan tim nasional Senegal dan tuan rumah Maroko.
Saat itu, seluruh penggawa Senegal dan pelatih Pape Thiaw melakukan aksi walk out karena tidak terima dengan keputusan penalti wasit.
Meski Senegal akhirnya menang di babak tambahan, gelar juara mereka dicabut secara sensasional oleh Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAF).
Keputusan pahit CAF tersebut menjadi rujukan FIFA agar kejadian serupa tidak merusak atmosfer Piala Dunia yang akan digelar mendatang.
Rangkaian aturan baru ini diresmikan sesaat sebelum Kongres FIFA dilaksanakan di Vancouver sebagai persiapan akhir menuju turnamen akbar.
Piala Dunia mendatang akan menjadi sejarah baru karena diselenggarakan secara kolaboratif oleh tiga negara yakni Kanada, Meksiko, dan Amerika Serikat.
FIFA berharap dengan adanya regulasi ini, fokus penonton akan kembali sepenuhnya pada kualitas permainan sepak bola yang bersih dan adil.
Implementasi kartu merah untuk tindakan menutup mulut diharapkan mampu menjadi efek jera yang efektif bagi para pemain bintang dunia.
Otoritas sepak bola ingin memastikan bahwa keberagaman di Piala Dunia dihormati oleh semua pihak tanpa ada celah untuk diskriminasi tersembunyi.
Selama bertahun-tahun, FIFA menghadapi kritik keras karena dianggap lamban dalam menangani kasus rasisme yang terjadi di dalam stadion.
Fenomena pemain menutupi mulut saat menghina lawan menjadi tren negatif karena menyulitkan teknologi pemantau gerak bibir (lip-reading) untuk mengumpulkan bukti kuat.
Di sisi lain, aksi mogok tanding sebagai bentuk protes wasit mulai sering terjadi di turnamen regional, yang dianggap merusak nilai-nilai dasar sportivitas dan kontrak komersial penyiaran pertandingan.
Melalui revisi hukum pertandingan ini, FIFA berupaya memberikan alat penegakan hukum yang lebih instan bagi wasit di tengah lapangan.