- Pemain Barcelona, Lamine Yamal, mengibarkan bendera Palestina saat parade juara Liga Spanyol 2025/2026 di kota Barcelona.
- Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menuding tindakan Yamal sebagai bentuk provokasi dan menuntut sikap resmi Barcelona.
- Pelatih Hansi Flick menegaskan bahwa tindakan tersebut adalah ekspresi pribadi Yamal dan tidak mewakili klub Barcelona.
Suara.com - Aksi Lamine Yamal saat parade juara Barcelona memicu kontroversi. Wonderkid Timnas Spanyol itu menjadi sorotan usai mengibarkan bendera Palestina ketika merayakan gelar Liga Spanyol 2025/2026 bersama skuad Blaugrana.
Momen tersebut terjadi saat rombongan pemain Barcelona melakukan parade kemenangan menggunakan bus terbuka.
Di atas bus, Yamal tampak mengangkat bendera Palestina berukuran besar di hadapan ribuan pendukung yang memadati jalanan kota.
Meski tidak memberikan pernyataan ataupun komentar resmi terkait aksinya, tindakan pemain berusia 18 tahun itu memancing reaksi keras dari pemerintah Israel.
Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz bahkan menuding Yamal menyebarkan provokasi dan sentimen anti-Semitisme lewat aksinya tersebut.
“Lamine Yamal memilih untuk menghasut dan memicu kebencian terhadap Israel,” kata Israel Katz dikutip dari Football Espana.

“Sementara tentara kita sedang memerangi Hamas, sebuah organisasi yang membantai, memperkosa, membakar, dan membunuh anak-anak, perempuan, dan orang tua Yahudi pada tanggal 7 Oktober.”
“Siapa pun yang mendukung pesan semacam ini harus bertanya pada diri sendiri: Apakah dia menganggap ini sebagai tindakan kemanusiaan? Apakah ini bermoral?” tambahnya
Tak berhenti sampai di situ, Israel juga meminta Barcelona mengambil sikap resmi terkait tindakan Yamal dalam parade juara tersebut.
“Sebagai Menteri Pertahanan Negara Israel, saya tidak akan tinggal diam menghadapi hasutan terhadap Israel dan terhadap bangsa Yahudi,” lanjut Katz.
“Saya mengharapkan klub besar dan terhormat seperti FC Barcelona untuk menjauhkan diri dari pernyataan seperti itu. Dan menegaskan dengan jelas bahwa tidak ada tempat untuk hasutan atau dukungan terhadap terorisme,” sambungnya lagi.
Sementara itu, pelatih Barcelona Hansi Flick, menegaskan bahwa tindakan Yamal merupakan sikap pribadi sang pemain dan bukan representasi resmi klub.
“Biasanya saya tidak suka hal ini, saya sudah berbicara dengannya. Saya mengatakan jika dia menginginkan ini, dia sudah cukup umur, dia berusia 18 tahun, itu adalah sikapnya,” ujar Hansi Flick.
“Kami bermain sepak bola, dan Anda bisa melihat, apa yang diharapkan orang-orang dari kami. Ketika saya melihat penonton, mereka sangat emosional, air mata mengalir di mata mereka.”
“Mereka sangat senang karena kami menang lagi, gelar fantastis ini, yang kedua berturut-turut. Dan inilah mengapa kami bermain sepak bola,” tukas pelatih asal Jerman ini.