-
Thomas Tuchel menerapkan standar konsistensi ketat dengan mencoret Phil Foden dan Cole Palmer.
-
Harry Maguire mengaku hancur dan terkejut setelah namanya resmi didepak dari skuad utama.
-
Penyerang tajam Ollie Watkins dan Ivan Toney berhasil masuk berkat performa impresif mereka.
Suara.com - Keputusan radikal diambil oleh pelatih Timnas Inggris, Thomas Tuchel, menjelang pengumuman resmi 26 pemain yang akan dibawa ke Piala Dunia 2026. Tuchel memilih untuk mengutamakan konsistensi performa nyata di lapangan daripada sekadar mempertahankan nama besar atau reputasi bintang.
Langkah berani ini memicu perdebatan sengit di kalangan publik sepak bola karena merombak komposisi pilar utama tim nasional. Pendekatan pragmatis sang pelatih sekaligus mengirimkan pesan tegas bahwa tempat di tim nasional harus diperjuangkan lewat performa stabil.
Dikutip dari BBC, dampak dari filosofi ketat ini langsung memakan korban di sektor lini serang maupun pertahanan. Dua gelandang serang papan atas, Phil Foden dari Manchester City dan Cole Palmer dari Chelsea, dipastikan absen karena dinilai tampil angin-anginan sepanjang musim ini.
![101 Laga dalam Semusim! Cole Palmer Dipaksa Jadi Robot Chelsea? [Instagram Cole Palmer]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2025/08/23/86362-cole-palmer.jpg)
Pencoretan ini menjadi kejutan besar mengingat keduanya kerap dianggap sebagai motor serangan andalan di level klub. Namun, penurunan grafik permainan mereka di kompetisi domestik membuat Tuchel tidak ragu untuk mengambil tindakan eliminasi.
Keputusan yang tidak kalah mengguncang juga menimpa lini belakang The Three Lions. Bek senior Manchester United, Harry Maguire, secara resmi ditinggalkan dari daftar rombongan terbang.
Pemain berusia 33 tahun tersebut mengekspresikan rasa tidak percaya dan kekecewaan mendalam atas situasi yang menimpanya. Melalui akun Instagram pribadinya, ia menumpahkan seluruh unek-unek terkait keputusan sepihak dari tim pelatih.
"Saya yakin saya bisa memainkan peran besar musim panas ini untuk negara saya setelah musim yang saya jalani. Saya merasa terkejut dan hancur oleh keputusan ini. Saya mendoakan yang terbaik bagi para pemain," tulis Harry Maguire.
![Manajer Manchester City, Pep Guardiola dan gelandang Phil Foden. [Dok. Man City]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2024/08/19/66800-manajer-manchester-city-pep-guardiola-dan-gelandang-phil-foden.jpg)
Kekecewaan serupa juga disuarakan oleh sang ibu, Zoe, yang meluapkan amarahnya di media sosial. Ia secara terbuka menyebut keputusan manajemen Timnas Inggris yang mencoret putranya sebagai hal yang memuakkan.
Sebagai ganti dari para bintang yang terdepak, Tuchel beralih kepada talenta yang tengah berada di puncak performa. Penyerang Aston Villa, Ollie Watkins, dipastikan aman setelah sukses membawa klubnya merengkuh trofi Europa League.
Watkins akan bahu-mahu di lini depan bersama juru gedor Al-Ahli, Ivan Toney. Toney mencatatkan statistik luar biasa dengan membukukan 32 gol dari 32 pertandingan di Liga Arab Saudi musim ini.
Di sisi lain, nasib kurang beruntung harus dialami oleh gelandang Nottingham Forest, Morgan Gibbs-White. Meski menjadi salah satu pemain lokal tersubur di Premier League dengan koleksi 14 gol, namanya tetap tidak dilirik oleh Tuchel.
Jumlah gol Gibbs-White sebenarnya setara dengan torehan impresif milik Watkins dan Dominic Calvert-Lewin. Kendati demikian, ketatnya persaingan taktik membuat dirinya harus merelakan tiket menuju turnamen akbar tersebut.
Rekan setim Maguire di Manchester United, Luke Shaw, juga menjadi nama besar lain yang harus gigit jari. Padahal, bek kiri tersebut sebelumnya sempat masuk ke dalam daftar sementara berisi 55 pemain.
Banyak pihak sempat mendesak agar Shaw dibawa karena kemampuannya yang sangat spesifik di sektor kiri pertahanan. Namun, Tuchel lebih memilih untuk memberikan kesempatan kepada wajah baru yang dinilai lebih bugar.
Arsitek asal Jerman tersebut dilaporkan bakal memercayakan posisi tersebut kepada Dan Burn dari Newcastle dan Nico O'Reilly dari Manchester City. Pilihan ini menegaskan bahwa faktor kebugaran fisik menjadi aspek krusial yang tidak bisa ditawar.