-
Crystal Palace meraih trofi Eropa pertamanya setelah mengalahkan RB Leipzig 1-0 di final.
-
Oliver Glasner resmi mundur sebagai manajer setelah mempersembahkan tiket kualifikasi Liga Europa.
-
Adam Wharton rela bermain menggunakan penahan rasa sakit demi membawa timnya menjadi juara.
Suara.com - Oliver Glasner resmi menyudahi masa baktinya di Selhurst Park dengan torehan tinta emas yang bersejarah. Kemenangan dramatis di panggung Eropa menjadi penutup sempurna sekaligus penegasan posisi baru The Eagles di level internasional.
Gol tunggal Jean-Philippe Mateta pada babak kedua memastikan Crystal Palace menundukkan RB Leipzig 1-0 pada laga final hari Rabu. Hasil krusial ini membuat klub London Selatan tersebut berhasil merengkuh trofi kompetisi Eropa untuk pertama kalinya sepanjang sejarah.
Keberhasilan ini sekaligus menebus kekecewaan musim lalu saat hak mereka di kompetisi Eropa dicabut akibat pelanggaran aturan kepemilikan multiklub. Glasner, yang sudah berencana hengkang sejak awal tahun, sukses menuntaskan misinya mengembalikan martabat klub.
![Pelatih Eintracht Frankfurt, Oliver Glasner. [FRAN SANTIAGO / UEFA / AFP]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2022/09/07/54629-oliver-glasner-eintracht-frankfurt.jpg)
"Saya bahkan tidak percaya ini adalah pertandingan terakhir saya. Saya mengambil keputusan ini [untuk meninggalkan Palace]. Ini adalah bab yang bagus untuk dibaca di buku Crystal Palace, tetapi bab-bab lain akan menyusul," ujar Glasner selepas pertandingan dikutip dari ESPN, Kamis (28/5/2026).
"Saya katakan kepada para pemain, ambillah sekarang apa yang layak kalian dapatkan setelah memenangkan Piala FA. Itu [Liga Europa] tertunda satu tahun. Klub, penggemar, dan pemain mendapatkan apa yang layak mereka dapatkan. Terkadang, Anda harus mengambil jalan memutar, dan sekarang Crystal Palace berada di tempat yang seharusnya."
Keberhasilan mengoleksi dua trofi mayor selama dua tahun masa kepemimpinannya dinilai sebagai buah dari kedisplinan tinggi. Kendati demikian, juru taktik berusia 51 tahun itu menolak jemawa dan memilih mengapresiasi kerja keras skuadnya.
![Pelatih Eintracht Frankfurt Oliver Glasner mendatangi Estadio Ramon Sanchez Pizjuan jelang pertandingan final Liga Europa di Sevilla, Spanyol, 17 Mei 2022. [AFP]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2022/05/18/75239-oliver-glasner.jpg)
"Saya hanya membimbing kelompok pemain ini dan staf dan saya mendukung mereka dan saya berkata, 'Sungguh, ini bukan karena keyakinan 100% saya' Saya tidak bisa berbuat apa-apa [tanpa para pemain]."
"Saya bisa saja menjadi pesulap terbaik [tetapi] itu tidak akan berhasil tanpa para pemain. Jadi, semua pemain pantas menerima semua pujian karena mereka harus mendengarkan, mereka harus mempercayai saya dan diri saya sendiri serta staf, tentu saja."
Glasner juga tidak menampik bahwa dirinya adalah sosok pelatih yang sangat menuntut kesempurnaan di lapangan. Ia selalu menekankan pentingnya menjaga fokus demi mempertahankan konsistensi performa tim.
"Mereka harus bekerja sangat keras dan saya pikir setiap pemain akan memberi tahu Anda bahwa saya sangat menuntut. Jadi jika hal-hal tidak berjalan seperti yang saya pikirkan, atau jika pemain mungkin menurunkan standar sebesar satu atau 2%, saya tidak bisa menerimanya."
Kekuatan mentalitas anak asuh Glasner tercermin jelas dari perjuangan gelandang muda, Adam Wharton. Meski sempat diragukan tampil akibat cedera, ia justru menjadi kreator lahirnya gol kemenangan melalui sepakan kerasnya yang membentur kiper.
"Ada banyak keraguan [apakah saya akan bermain]. Hampir sepanjang waktu kaki saya hanya dimasukkan ke dalam kotak es selama beberapa hari terakhir, hanya mencoba meredakan pembengkakan dan semacamnya."
Sebelum mencetak sejarah di Liga Konferensi Eropa, Crystal Palace sempat dirundung sanksi berat dari badan tertinggi sepak bola Eropa, UEFA. Akibat regulasi kepemilikan ganda yang ketat, hak berlaga di Liga Europa yang mereka raih dari jalur domestik terpaksa hangus.
Oliver Glasner yang menukangi Palace sejak 2024 sebelumnya telah mengumumkan keputusan mundur dari kursi manajer pada Januari lalu. Monolog hangat dengan awak media di Leipzig menjadi tanda perpisahan resmi sang manajer dengan sepak bola Inggris.
"Konferensi pers [terakhir] dan saya ingin berterima kasih kepada Anda, terutama semua [jurnalis] Inggris yang mungkin hadir di semua 120 konferensi pers."