- Arsenal akan menghadapi Paris Saint-Germain pada final Liga Champions 2025/2026 di Budapest untuk meraih trofi Eropa pertama.
- Juara bertahan Paris Saint-Germain diunggulkan karena memiliki lini serang tajam serta rekor impresif di fase gugur kompetisi.
- Arsenal berencana mengeksploitasi kelemahan pertahanan Paris Saint-Germain melalui strategi tekanan tinggi, situasi bola mati, dan serangan balik cepat.
Ousmane Dembele, Desire Doue, dan Khvicha Kvaratskhelia tampil luar biasa sepanjang musim.
PSG hanya membutuhkan satu gol lagi untuk menyamai rekor Barcelona sebagai tim tersubur dalam satu musim Liga Champions dengan 45 gol.
Di semua kompetisi, mereka juga selalu mencetak gol dalam 27 pertandingan terakhir.
Chelsea, Liverpool, hingga Bayern Munchen sudah merasakan kedahsyatan serangan PSG dalam beberapa pekan terakhir.
Arsenal Disarankan Menekan Sejak Awal
Salah satu cara terbaik untuk melukai PSG adalah melakukan pressing tinggi sejak menit awal.
Strategi itu pernah sukses diterapkan Arsenal saat menghadapi Manchester City di Etihad Stadium.
Dalam laga tersebut, Arsenal mencatat 474 tekanan terhadap lawan, angka tertinggi mereka di Premier League musim ini.
Gol kemenangan lahir dari tekanan agresif Kai Havertz di area pertahanan City.
Strategi serupa diyakini bisa efektif melawan PSG karena tim asuhan Luis Enrique cukup rentan melakukan kesalahan saat membangun serangan dari belakang.
PSG Sering Kehilangan Bola di Area Berbahaya
Data Liga Champions musim ini menunjukkan PSG menjadi salah satu tim dengan kesalahan terbanyak yang berujung peluang lawan.
Mereka tercatat melakukan 26 error yang menghasilkan tembakan dan enam di antaranya berujung gol.
PSG juga terlalu sering kehilangan bola dekat area pertahanan sendiri.
Dari seluruh peserta Liga Champions musim ini, hanya dua tim yang lebih sering kehilangan bola dalam radius 40 meter dari gawang dibanding PSG.
Fakta itu membuka peluang besar bagi Arsenal untuk mencuri gol lewat tekanan cepat.
Sisi Kanan PSG Bisa Jadi Titik Lemah
Arsenal juga diyakini akan mencoba menyerang lewat sisi kiri mereka.
Posisi tersebut dinilai sebagai area paling rentan dalam sistem permainan PSG.
Achraf Hakimi memang dikenal sebagai salah satu bek kanan terbaik dunia dalam menyerang.
Namun agresivitasnya sering meninggalkan ruang kosong di belakang yang bisa dimanfaatkan lawan.
Chelsea dan Tottenham pernah mencetak gol ke gawang PSG melalui skema serangan dari sisi tersebut.
Bahkan gol Luis Diaz untuk Bayern Munich lahir setelah Hakimi gagal menutup ruang di area pertahanannya.
![Manajer Arsenal, Mikel Arteta, melontarkan pujian setinggi langit kepada pelatih Liverpool, Arne Slot, usai polemik yang melibatkan Gabriel Martinelli dan cedera serius bek The Reds, Conor Bradley.[Instagram Gabriel Martinelli]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/01/12/23558-gabriel-martinelli.jpg)
Gabriel Martinelli Bisa Jadi Senjata Rahasia
Kecepatan dan kemampuan duel satu lawan satu Gabriel Martinelli dinilai cocok untuk mengeksploitasi ruang di belakang Hakimi.
Winger asal Brasil itu berpotensi menjadi kartu penting Arsenal di final nanti.
Selama ini Leandro Trossard lebih sering dimainkan di sisi kiri.
Namun gaya bermain Martinelli yang lebih direct dianggap lebih berbahaya untuk menghadapi PSG.
Bola Mati Bisa Jadi Penentu
Selain pressing dan serangan sisi kiri, Arsenal juga punya senjata berbahaya lewat situasi bola mati.
The Gunners dikenal sebagai salah satu tim terbaik di Eropa dalam memanfaatkan set-piece.
PSG sendiri bukan tim yang benar-benar kuat dalam bertahan menghadapi situasi tersebut.
Di Ligue 1 musim ini, lebih dari 20 persen gol yang mereka kebobolan berasal dari bola mati.
Arsenal Harus Bertahan Mati-Matian
Meski PSG memiliki sejumlah kelemahan, Arsenal tetap harus tampil nyaris sempurna untuk bisa mengangkat trofi Liga Champions pertama mereka.
PSG punya kualitas untuk menghukum kesalahan sekecil apa pun.
Namun Arsenal juga memiliki cukup banyak senjata untuk mengejutkan juara bertahan dan menciptakan sejarah di Budapest.