- Arsenal gagal menjuarai Liga Champions 2026 setelah kalah adu penalti melawan PSG usai bermain imbang 1-1.
- Bek Gabriel Magalhaes secara sukarela menjadi penendang kelima Arsenal namun sepakannya melambung tinggi di atas mistar gawang.
- Mikel Arteta menjelaskan pemilihan Gabriel dilakukan karena absennya para eksekutor utama saat babak adu penalti berlangsung.
Suara.com - Pelatih Arsenal, Mikel Arteta menjelaskan keputusan mengejutkan dengan memilih Gabriel Magalhaes menjadi eksekutor penalti kelima dalam final Liga Champions 2026 melawan PSG.
Arsenal harus mengubur mimpi meraih trofi Liga Champions pertama mereka setelah bermain imbang 1-1 melawan PSG hingga babak perpanjangan waktu.
Gol cepat Kai Havertz dibalas penalti Ousmane Dembele sebelum pertandingan berlanjut ke adu penalti.
Dalam drama tos-tosan, PSG lebih dulu unggul setelah Eberechi Eze gagal menjalankan tugasnya.
Meski David Raya sempat menggagalkan tendangan Nuno Mendes, nasib Arsenal akhirnya ditentukan oleh penalti kelima yang diambil Gabriel.
Jika berhasil mencetak gol, Arsenal masih memiliki kesempatan membawa adu penalti ke fase sudden death.
Namun, bola hasil sepakan Gabriel justru melambung di atas mistar gawang dan PSG pun berpesta merayakan gelar Liga Champions kedua secara beruntun.
![Legenda Arsenal, Martin Keown, mendesak Mikel Arteta untuk melakukan perombakan di lini depan setelah kekalahan menyakitkan dari PSG pada final Liga Champions 2026. [Istimewa]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/05/31/34120-arsenal.jpg)
Keputusan menunjuk Gabriel sebagai penendang penalti kelima sempat dipertanyakan legenda Arsenal, Thierry Henry.
"Saya selalu menghormati siapa pun yang berani mengambil penalti. Saya tidak tahu kenapa dia yang maju sebagai penendang kelima, tetapi dia melakukannya," kata Henry kepada CBS Sports.
Meski gagal, Henry tetap memberikan apresiasi kepada sang bek tengah.
Menurutnya, Gabriel tampil luar biasa sepanjang musim dan tidak bersembunyi saat tim membutuhkan keberanian di momen krusial.
Arteta kemudian mengungkapkan bahwa keputusan tersebut datang dari Gabriel sendiri.
Bek berusia 28 tahun itu secara sukarela mengajukan diri untuk mengambil penalti penentu.
"Dia ingin mengambil penalti nomor lima. Kami sudah mempersiapkan situasi ini dalam latihan," ujar Arteta dalam konferensi pers usai pertandingan.
Pelatih asal Spanyol itu menjelaskan bahwa beberapa algojo utama Arsenal sudah tidak berada di lapangan ketika pertandingan memasuki babak tambahan.
Nama-nama seperti Bukayo Saka, Martin Odegaard, dan Kai Havertz yang biasanya menjadi pilihan utama tidak tersedia untuk fase adu penalti.
"Biasanya penendang penalti kami adalah Bukayo, Martin, dan Kai. Tetapi kami tahu jika pertandingan berlanjut hingga perpanjangan waktu dan adu penalti, maka pemain yang tersedia akan berbeda, meski tetap memiliki kualitas," jelasnya.
Arteta juga membela Eberechi Eze yang menjadi penendang pertama Arsenal dan gagal mencetak gol.
Menurutnya, Eberechi Eze hampir tidak pernah gagal saat berlatih penalti.
"Ketika Eze mengambil penalti di latihan, dia hampir tidak pernah gagal. Namun situasinya berbeda ketika harus melakukannya di final Liga Champions," katanya.
Selain drama adu penalti, Arsenal juga sempat dibuat frustrasi oleh keputusan wasit pada babak tambahan.
Winger Noni Madueke terjatuh di kotak penalti setelah kontak dengan Nuno Mendes, tetapi wasit dan VAR memutuskan tidak memberikan penalti.
Arteta mengaku kecewa dengan keputusan tersebut.
Menurutnya, berdasarkan sejumlah insiden yang terjadi sepanjang Liga Champions musim ini, kontak terhadap Madueke cukup layak untuk menghasilkan penalti.
"Saya sudah melihat semua insiden penalti di kompetisi ini dalam 72 jam terakhir untuk memahami mana yang penalti dan mana yang bukan. Situasi itu dengan mudah bisa dianggap penalti," kata Arteta.