-
FIFA secara mendadak melarang suporter membawa botol minum isi ulang ke stadion Piala Dunia.
-
Kelompok suporter mengecam keras kebijakan tersebut karena dinilai murni demi keuntungan komersial sponsor.
-
Larangan ini memicu kekhawatiran dehidrasi massal di tengah ancaman suhu ekstrem yang mencapai 32 derajat Celsius.
Suara.com - FIFA mendadak mengubah kebijakan dengan melarang suporter membawa botol minum isi ulang ke dalam 16 stadion Piala Dunia di Amerika Utara. Kebijakan ini memicu kritik tajam karena sebagian stadion memiliki area perlindungan matahari yang sangat minim di tengah ancaman cuaca panas ekstrem.
Kelompok suporter mengutuk keputusan ini sebagai langkah komersialisasi yang mengorbankan keselamatan penonton. Padahal, sebelumnya otoritas sepak bola dunia tersebut telah menjamin akses air gratis menggunakan wadah mandiri.
Indikasi kapitalisasi menguat karena seluruh produk minuman di dalam area stadion dikuasai penuh oleh sponsor utama mereka, Coca-Cola. Hal ini memaksa jutaan penonton membeli minuman kemasan dengan harga yang sudah ditentukan.

"Secara alami, pemikiran langsung dari para pendukung adalah ini hanyalah perebutan uang terbaru," kata kelompok suporter Free Lions dalam sebuah pernyataan resmi dikutip dari ESPN.
Sebelum revisi sepihak ini terjadi, regulasi resmi FIFA sebenarnya mengizinkan penonton membawa botol transparan ramah lingkungan berkapasitas maksimal satu liter.
Dokumen terbaru yang dirilis pada hari Selasa secara tegas mematikan kelonggaran tersebut tanpa kompromi. "Untuk menghindari keraguan, botol air yang dapat digunakan kembali tidak boleh dibawa ke dalam stadion," bunyi aturan baru tersebut.
Perubahan regulasi yang mendadak ini langsung merusak kepercayaan yang telah dibangun antara organisasi suporter dan pihak penyelenggara. Penonton kini merasa dijebak oleh kepentingan bisnis di balik kedok standarisasi keamanan.

"Dalam semua diskusi kami, ketersediaan air gratis di stadion adalah salah satu hal utama dan kami diyakinkan oleh FIFA bahwa hal ini akan terjadi," ujar perwakilan kelompok suporter Inggris.
Di sisi lain, badan sepak bola dunia tersebut berdalih bahwa pelarangan material keras seperti botol dilakukan demi mengantisipasi tindakan anarkis. Mereka mengklaim keselamatan di dalam lapangan adalah prioritas tertinggi yang tidak bisa ditawar.
Dalam pernyataan resminya pada hari Kamis, FIFA menegaskan alasan pelemparan benda tajam atau keras. "Untuk mencegah risiko dan cedera pada pemain dan penonton," tulis badan tersebut.
Pihak manajemen FIFA berargumen bahwa penyeragaman aturan ini perlu dilakukan karena beberapa stadion lokal memang sudah menerapkan standar serupa. "FIFA berkomitmen untuk melindungi kesehatan dan keselamatan semua pemain, wasit, fans, sukarelawan, dan staf," tambah mereka.
Sebagai kompensasi atas hilangnya hak membawa botol mandiri, penyelenggara berjanji akan menyediakan fasilitas peredam suhu panas di luar perimeter stadion. Langkah ini diambil karena suhu di beberapa kota tuan rumah diprediksi menembus 32 derajat Celsius.
Mitigasi di luar stadion tersebut nantinya akan mencakup stasiun pengabutan air, kipas angin, tenda pendingin, hingga pos hidrasi darurat. Namun, suporter tetap diwajibkan membeli air minum kemasan begitu mereka melewati pintu pemeriksaan utama.
"Di dalam area stadion, harga botol air untuk Piala Dunia FIFA 2026 akan tetap konsisten dengan acara lain yang diadakan di setiap stadion," jelas badan sepak bola tersebut.
Kebijakan kontroversial lain yang disorot adalah pemberlakuan jeda minum selama tiga menit pada setiap babak pertandingan. Langkah medis ini dikritik hanya sebagai taktik komersial untuk memperpanjang durasi penayangan iklan televisi.
Para pendukung menilai ada standar ganda yang diterapkan oleh komite penyelenggara terkait perlindungan kesehatan manusia di atas lapangan. Suporter dianggap sebagai komoditas yang dipaksa tunduk pada aturan ketat yang tidak berpihak pada kesejahteraan fisik mereka.
"Untuk semua upaya yang mereka lakukan dengan 'jeda minum' bagi para pemain, ini adalah perubahan terlambat yang sangat aneh," tegas kelompok suporter Free Lions.
Kekhawatiran ini sejalan dengan analisis ilmiah dari World Weather Attribution (WWA) yang mengkaji risiko fatal dari gelombang panas di Amerika Utara. Mereka memprediksi para penonton menjadi kelompok yang paling rentan mengalami sengatan panas (heat stroke).
Secara akumulatif, WWA memproyeksikan sembilan dari total 104 pertandingan akan berlangsung dalam kondisi suhu bola basah yang sangat berbahaya bagi tubuh manusia.
Indeks Wet Bulb Globe Temperature (WBGT) yang menjadi acuan menunjukkan bahwa batas kemampuan tubuh untuk mendinginkan diri secara alami akan mencapai titik kritis pada turnamen kali ini.