Piala Dunia 48 Tim Disebut Membosankan, Belasan Negara Kecam Bos UEFA Aleksander Ceferin

Pebriansyah Ariefana

Senin, 15 Juni 2026 | 13:53 WIB
Piala Dunia 48 Tim Disebut Membosankan, Belasan Negara Kecam Bos UEFA Aleksander Ceferin
Presiden UEFA Aleksander Ceferin di markas besar UEFA di Nyon, Swiss. Fabrice COFFRINI / AFP

Suara.com - Boikot verbal melanda Presiden UEFA Aleksander Ceferin setelah ia meremehkan format baru Piala Dunia 2026 dengan 48 tim. Sebanyak 13 negara dari 3 benua bersatu mengecam keras pernyataan ego sektoral tersebut.

Aliansi lintas benua dari Asia, Afrika, dan Karibia ini menilai pandangan Eropa-sentris dari bos UEFA melukai sportivitas global. Mereka bergerak serentak merespons klaim sepihak yang menyebut penambahan kontestan hanya menciptakan laga yang membosankan.

Ketegangan ini memuncak lewat nota protes bersama yang dirilis melalui Asosiasi Sepak Bola Afrika Selatan. Dokumen diplomatik tersebut merekam kekecewaan mendalam atas arogansi kepemimpinan sepak bola Eropa.

Sejumlah warga menyaksikan peserta Gran Desfile Mundialista atau Parade Akbar Piala Dunia 2026 di Paseo de la Reforma, Mexico City, Meksiko, Sabtu (13/6/2026) waktu setempat. [ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra/kye]
Sejumlah warga menyaksikan peserta Gran Desfile Mundialista atau Parade Akbar Piala Dunia 2026 di Paseo de la Reforma, Mexico City, Meksiko, Sabtu (13/6/2026) waktu setempat. [ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra/kye]

"Bagi negara-negara kami, tidak ada yang namanya pertandingan Piala Dunia yang tidak penting," tegas koalisi 13 negara tersebut dalam pernyataan resminya dikutip dari ESPN, Senin (15/6/2026).

"Mengatakan bahwa pertandingan-pertandingan ini kurang penting adalah hal yang sangat mengecewakan dan gagal mengakui upaya, pengorbanan, serta aspirasi para pemain, pelatih, klub, pemimpin sepak bola, dan pendukung di seluruh dunia."

Gelombang protes ini dipicu oleh kutipan wawancara Aleksander eferin dalam konferensi pers di Ljubljana. Dua situs berita Slovenia, urnal 24 dan Dosi, menyebarkan klaim kontroversial tersebut ke publik.

Frenkie de Jong buka suara usai Timnas Belanda gagal mengalahkan Jepang di Piala Dunia 2026. Oranje harus puas bermain imbang 2-2 setelah kebobolan gol telat. [Dok. FIFA]
Frenkie de Jong buka suara usai Timnas Belanda gagal mengalahkan Jepang di Piala Dunia 2026. Oranje harus puas bermain imbang 2-2 setelah kebobolan gol telat. [Dok. FIFA]

Negara-negara berkembang melihat komentar itu sebagai upaya mendegradasi hak berkompetisi bagi wilayah di luar Eropa. Padahal, pemerataan kesempatan bertanding merupakan fondasi utama dari ekosistem sepak bola modern.

"Kami menolak komentar Presiden UEFA dan menegaskan kembali keyakinan kami bahwa pertumbuhan sepak bola harus terus menciptakan peluang, menginspirasi generasi baru, dan memperkuat sifat permainan kita yang benar-benar global," tulis mereka.

Sikap angkuh UEFA semakin terlihat jelas saat mereka memilih menutup mulut dari publik. Otoritas tertinggi sepak bola Eropa itu mengabaikan permintaan konfirmasi resmi yang dilayangkan oleh ESPN.

baca juga

Kubu penolak narasi UEFA ini diperkuat oleh kuartet debutan historis, yaitu Tanjung Verde, Curaçao, Yordania, dan Uzbekistan. Di samping itu, terdapat pula kekuatan solid dari Kongo, Haiti, Aljazair, Maroko, Mesir, Ghana, Pantai Gading, dan Tunisia.

Bagi para debutan, tampil di putaran final bukan sekadar urusan menang atau kalah di lapangan. Ini adalah validasi atas kerja keras bertahun-tahun demi menembus dominasi negara mapan.

"Bagi Tanjung Verde, Curaçao, Yordania, dan Uzbekistan, kualifikasi ke Piala Dunia FIFA merupakan pencapaian bersejarah dan perwujudan impian yang dibagikan oleh berbagai generasi," ungkap perwakilan koalisi.

Ajang 4 tahunan ini juga memuat nilai emosional yang masif bagi negara yang lama absen. Sepak bola bertindak sebagai pemersatu bangsa di tengah berbagai dinamika sosial mereka.

"Bagi negara-negara seperti Kongo dan Haiti, kembali ke panggung terbesar sepak bola setelah absen lama membawa makna khusus bagi jutaan pendukung yang telah menunggu bertahun-tahun, dan dalam beberapa kasus puluhan tahun, untuk momen ini."

Konflik ini berakar dari kebijakan FIFA yang menambah kuota peserta Piala Dunia menjadi 48 tim. Langkah revolusioner ini secara otomatis membuka pintu lebar bagi negara-negara di luar zona Eropa (UEFA) dan Amerika Selatan (CONMEBOL).

Namun, kebijakan inklusif tersebut mendapat resistensi terselubung dari elite sepak bola Eropa yang khawatir intensitas kompetisi akan menurun. Pernyataan kontroversial Aleksander eferin di Slovenia akhirnya menyulut sumbu konfrontasi terbuka antara faksi Eropa dan blok sepak bola berkembang.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Prediksi Skor Belgia vs Mesir: Head to Head, Susunan Pemain, dan Fakta Menarik

Prediksi Skor Belgia vs Mesir: Head to Head, Susunan Pemain, dan Fakta Menarik

Bola | Senin, 15 Juni 2026 | 13:53 WIB

Jelang Iran vs Selandia Baru, Mehdi Taremi Sebut Perlakuan Buruk AS Rusak Marwah Sepak Bola

Jelang Iran vs Selandia Baru, Mehdi Taremi Sebut Perlakuan Buruk AS Rusak Marwah Sepak Bola

Bola | Senin, 15 Juni 2026 | 12:35 WIB

Risiko Kesehatan Terbesar bagi Penggemar Piala Dunia 2026 Menurut Ahli

Risiko Kesehatan Terbesar bagi Penggemar Piala Dunia 2026 Menurut Ahli

Lifestyle | Senin, 15 Juni 2026 | 13:26 WIB

Terkini

Dorong Ciwidey Naik Kelas, Legislator NasDem Ini Ingin Warga Manfaatkan Jabatannya di Komisi IV DPR

Dorong Ciwidey Naik Kelas, Legislator NasDem Ini Ingin Warga Manfaatkan Jabatannya di Komisi IV DPR

News | Rabu, 29 Juli 2026 | 21:31 WIB

Walk Out dari Paripurna, Pengamat Nilai Keliru Jika Sebut Bobby Nasution Arogan

Walk Out dari Paripurna, Pengamat Nilai Keliru Jika Sebut Bobby Nasution Arogan

Sumut | Rabu, 29 Juli 2026 | 21:29 WIB

Bal by BTN Permudah Masyarakat Miliki Rumah Lewat Kolaborasi dengan Rumah123

Bal by BTN Permudah Masyarakat Miliki Rumah Lewat Kolaborasi dengan Rumah123

Bisnis | Rabu, 29 Juli 2026 | 21:26 WIB

Geger Spanduk 'Tangkap Jokowi' Bertebaran di Lebak Jelang Kunjungan ke Banten

Geger Spanduk 'Tangkap Jokowi' Bertebaran di Lebak Jelang Kunjungan ke Banten

Banten | Rabu, 29 Juli 2026 | 21:20 WIB

Karhutla Sumsel Terus Meluas, Mengapa Muba dan Ogan Ilir Jadi Titik Terparah?

Karhutla Sumsel Terus Meluas, Mengapa Muba dan Ogan Ilir Jadi Titik Terparah?

Sumsel | Rabu, 29 Juli 2026 | 21:18 WIB

Generasi Muda Disebut Jadi Kunci Hadapi Tantangan Perubahan Iklim hingga Ketahanan Pangan

Generasi Muda Disebut Jadi Kunci Hadapi Tantangan Perubahan Iklim hingga Ketahanan Pangan

Lifestyle | Rabu, 29 Juli 2026 | 21:17 WIB

Dakwaan Dibatalkan Hakim, Jaksa Kembali Limpahkan Perkara dr Tifa ke PN Jakarta Timur

Dakwaan Dibatalkan Hakim, Jaksa Kembali Limpahkan Perkara dr Tifa ke PN Jakarta Timur

News | Rabu, 29 Juli 2026 | 21:17 WIB

HKBP Perkuat Komitmen Tingkatkan Mutu Pendidikan

HKBP Perkuat Komitmen Tingkatkan Mutu Pendidikan

Sumut | Rabu, 29 Juli 2026 | 21:07 WIB

Resmi Dihibahkan ke Pemprov Jabar, Teras Cihampelas Bandung Bakal Dibongkar Total

Resmi Dihibahkan ke Pemprov Jabar, Teras Cihampelas Bandung Bakal Dibongkar Total

Jabar | Rabu, 29 Juli 2026 | 21:06 WIB

Hilirisasi Sawit RI Diklaim Sukses, 80% Ekspor Tak Lagi Produk Mentah

Hilirisasi Sawit RI Diklaim Sukses, 80% Ekspor Tak Lagi Produk Mentah

Bisnis | Rabu, 29 Juli 2026 | 21:04 WIB

×