- Gianni Infantino menemui timnas Iran usai laga melawan Selandia Baru untuk memberikan dukungan moral di tengah sorotan penyelenggaraan Piala Dunia 2026.
- FIFA dilaporkan mendesak timnas Iran segera meninggalkan Amerika Serikat menuju Meksiko meski pemain merasa diperlakukan tidak adil dalam turnamen tersebut.
- Kondisi diperparah dengan penolakan visa anggota tim serta kewajiban berlatih di Meksiko yang mengganggu persiapan skuad Iran selama kompetisi berlangsung.
Suara.com - Presiden FIFA Gianni Infantino memanfaatkan betul momentum saat Timnas Iran melakoni laga perdana Piala Dunia 2026 melawan Selandia Baru.
Gianni Infantino memanfaatkan itu sebagai pencitraan dirinya di hadapan publik, di tengah sorotan soal buruknya penyelenggaraan Piala Dunia 2026, khususnya perlakuan tuan rumah AS kepada Timnas Iran.
Pria asal Italia itu sempat mengunjungi ruang ganti Iran usai pertandingan nelawan Selandia Baru yang berakhir 2-2.
Infantino memberikan pesan dukungan langsung kepada para pemain.
“Saya tahu apa yang kalian alami, saya mengerti. Tapi kalian lebih kuat dari semua ini, dan kalian mengirim pesan kuat ke seluruh dunia,” kata Infantino seperti dikutip dari GiveMeSport.
Namun aksi pencitraan Infantino itu mendapat sorotan dan kritik tajam.
FIFA disebut-sebut sebagai pihak yang menekan Timnas Iran untuk segera meninggalkan Amerika Serikat usai pertandingan melawan Selandia Baru.
![Dua pemain Timnas Iran dilaporkan mengalami kendala serius saat proses keberangkatan di bandara Amerika Serikat usai laga pembuka Piala Dunia 2026 melawan Selandia Baru. [Instagram]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/06/16/70947-timnas-iran.jpg)
Infantino juga disebut berupaya membantu agar lebih banyak delegasi Iran bisa masuk ke Amerika Serikat untuk laga berikutnya.
Namun menurut kapten Timnas Iran, Mehdi Taremi menegaskan bahwa masalah yang dihadapi timnya jauh lebih kompleks.
“Dia tentu ingin membantu kami, tapi ini juga soal hal-hal lain. Semua orang tahu situasinya,” ujar Taremi.
Iran harus berlatih di Meksiko dan bolak-balik ke AS untuk menjalani pertandingan, dengan sejumlah anggota tim juga ditolak visanya.
Pelatih Iran, Amir Ghalenoei, mengaku bingung dengan keputusan tersebut.
“Mereka mengatakan kami harus segera pergi. Kami benar-benar terganggu dengan hal itu. Kami tidak tahu mengapa kami harus dipulangkan, ini sangat aneh,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa timnya merasa diperlakukan tidak adil sepanjang turnamen.
“Tim kami adalah yang paling tertindas di seluruh Piala Dunia,” tegas pelatih berusia 62 tahun tersebut.