- Piala Dunia 2026 menerapkan format baru 48 peserta dengan delapan tim peringkat ketiga terbaik melaju ke babak 32 besar.
- Simulasi Opta menunjukkan empat poin menjamin kelolosan, sementara tiga poin memiliki peluang 66,77 persen untuk lolos babak gugur.
- Selisih gol menjadi faktor krusial bagi tim yang mengoleksi poin sama dalam menentukan nasib kelolosan ke fase selanjutnya.
Suara.com - Format baru yang melibatkan 48 peserta pada Piala Dunia 2026 menghadirkan persaingan yang semakin menarik di fase grup.
Untuk pertama kalinya dalam sejarah, delapan tim peringkat ketiga terbaik akan mendapatkan tiket menuju babak 32 besar.
Perubahan format tersebut memunculkan pertanyaan besar di kalangan pencinta sepak bola: berapa poin minimal yang dibutuhkan sebuah tim untuk lolos ke fase gugur melalui jalur peringkat ketiga terbaik?
Untuk menjawab pertanyaan itu, Superkomputer Opta menjalankan 100.000 simulasi pertandingan guna memproyeksikan peluang kelolosan setiap tim berdasarkan jumlah poin dan selisih gol yang dimiliki.
Meski sempat menuai keraguan karena dianggap berpotensi menurunkan kualitas kompetisi, format 48 tim justru menghadirkan kejutan menarik.
Salah satunya adalah penampilan impresif tim debutan seperti Cape Verde yang mampu menahan imbang Spanyol di fase grup.
Berapa Poin Aman untuk Lolos ke Babak 32 Besar?

Berdasarkan hasil simulasi Opta setelah putaran pertama fase grup, tim peringkat ketiga yang mengumpulkan lima atau enam poin dipastikan lolos ke babak gugur dengan probabilitas 100 persen.
Sementara itu, koleksi empat poin juga tergolong sangat aman. Tim dengan raihan tersebut memiliki peluang lolos mencapai 99,81 persen.
Situasi mulai menjadi lebih rumit bagi tim yang hanya mampu mengoleksi tiga poin. Menurut simulasi Opta, peluang lolos tim dengan tiga poin berada di angka 66,77 persen.
Artinya, tiga poin dapat dianggap sebagai batas minimal realistis untuk menjaga peluang lolos tetap terbuka. Namun, tim dengan raihan tersebut harus berharap faktor lain berpihak kepada mereka.
Menariknya, simulasi juga menemukan peluang kecil bagi tim yang hanya mengoleksi dua poin untuk lolos, yakni sebesar 4,66 persen. Bahkan tim dengan satu poin masih memiliki peluang matematis sebesar 0,03 persen, meski sangat sulit terwujud.
Selisih Gol Jadi Penentu Utama
Ketika beberapa tim sama-sama finis di peringkat ketiga dengan tiga poin, selisih gol menjadi faktor yang sangat menentukan.
Tim yang memiliki tiga poin dengan selisih gol positif hampir dipastikan lolos sebagai salah satu dari delapan peringkat ketiga terbaik.
Bahkan, tim dengan selisih gol nol masih memiliki peluang lolos hingga 94,8 persen. Sementara itu, tim yang mencatatkan selisih gol minus satu (-1) masih memiliki probabilitas lolos sebesar 84,2 persen.
Peluang mulai menurun drastis bagi tim yang memiliki selisih gol minus dua atau lebih buruk. Meski demikian, simulasi menunjukkan bahwa tim dengan selisih gol minus lima masih memiliki peluang lolos sebesar 18,1 persen.
Karena itu, selain berburu poin, setiap gol yang dicetak maupun kebobolan berpotensi menjadi penentu nasib sebuah tim di akhir fase grup.
Format Lama yang Kembali Digunakan FIFA
Sistem kelolosan melalui jalur peringkat ketiga terbaik sebenarnya bukan hal baru dalam sejarah Piala Dunia.
Format serupa pernah digunakan pada Piala Dunia 1986, 1990, dan 1994 ketika jumlah peserta masih 24 negara. Saat itu, empat tim peringkat ketiga terbaik berhak melaju ke babak 16 besar bersama juara dan runner-up grup.
Namun terdapat perbedaan penting. Pada era tersebut, kemenangan masih bernilai dua poin, sedangkan saat ini FIFA menggunakan sistem tiga poin untuk setiap kemenangan.
Sebagai contoh, Uruguay dan Bulgaria mampu lolos ke fase gugur Piala Dunia 1986 hanya dengan mengumpulkan dua poin hasil dari dua kali imbang.
Kini, dengan jumlah peserta yang meningkat menjadi 48 tim, persaingan untuk memperebutkan tiket babak gugur diprediksi akan jauh lebih ketat. Setiap poin dan setiap gol dapat menjadi pembeda antara kelolosan dan kegagalan.
